
KabarJawa.com – Belakangan ini, penyebaran Virus Nipah telah menjadi sorotan global, termasuk bagai warga Yogyakarta.
Fenomena ini menimbulkan satu pertanyaan besar yaitu soal apakah virus mematikan ini sudah masuk ke wilayah Jogja?
Menanggapi hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta rupanya telah memberikan penjelasannya.
Ketua Tim Kerja Surveilans PD SIK Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi R, MPH., menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kasus Virus Nipah yang ditemukan di Yogyakarta maupun di Indonesia secara umum.
“Di Indonesia, belum ditemukan kasus Nipah pada manusia,” tegas Solikhin dalam keterangan resminya baru-baru ini.
Tidak Ada Lonjakan Kasus Mencurigakan
Pernyataan “nol kasus” ini didasarkan pada data surveilans ketat yang dilakukan Dinkes Kota Yogyakarta. Pihaknya terus memantau tren penyakit dengan gejala serupa (seperti demam dan gangguan pernapasan) melalui sistem indicator based surveillance.
Berdasarkan data pemantauan harian penyakit pernapasan pada periode 29 Januari hingga 5 Februari 2026, kondisi kesehatan masyarakat terpantau stabil.
“Dalam satu minggu ini dari 29 januari sampai 5 Februari 2026 tidak terjadi lonjakan kunjungan pasien ISPS, Pneumonia dan ILI,” jelas Solikhin.
Meskipun aman, Solikhin mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. Risiko penularan tetap ada mengingat tingginya mobilitas manusia lintas negara, terutama dari negara yang sedang mengalami kejadian luar biasa (KLB).
Selain itu, penelitian di Indonesia menunjukkan adanya jejak virus pada reservoir alami, yakni kelelawar buah.
“Namun demikian tetap waspada terhadap faktor risiko penularan dengan memperhatikan mobilitas manusia lintas negara terutama dari negara yang mengalami kejadian luar biasa dan hasil penelitian di Indonesia yang menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada reservoir alami kelelawar buah (Pteropus sp.),” ujarnya.
Mengenal Bahaya Virus Nipah
Sebagai informasi, Virus Nipah adalah penyakit zoonosis (ditularkan dari hewan ke manusia). Penyakit ini pertama kali ditemukan di Kampung Sungai Nipah, Malaysia (1998-1999) yang menular dari kelelawar buah ke ternak babi, lalu ke manusia.
Terbaru, pada 26 Januari 2026, India melaporkan adanya 2 kasus konfirmasi positif Nipah di Negara Bagian West Bengal.
Penyakit ini memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi, yakni mencapai 40-70%. Virus ini menyerang otak (ensefalitis) yang dapat menyebabkan penurunan kesadaran hingga kejang-kejang.
Imbauan Dinkes
Demi mencegah masuknya virus ini, Dinkes Kota Yogyakarta merilis panduan pencegahan yang wajib dipatuhi warga Jogja dan sekitarnya. Berikut adalah beberapa diantaranya.
Hindari Air Nira Mentah
Jangan mengonsumsi air nira/aren (bahan gula merah) langsung setelah disadap dari pohon. Air sadapan ini sering dikontaminasi oleh air liur atau kencing kelelawar pada malam hari. Wajib dimasak hingga matang sebelum diminum.
Perhatikan Buah-buahan
Cuci dan kupas buah secara menyeluruh. Buang segera buah yang memiliki tanda bekas gigitan hewan (kelelawar/codot).
Masak Daging hingga Matang dan Terapkan Protokol Kesehatan
Kemudian, pastikan daging ternak dikonsumsi dalam keadaan benar-benar matang.
Tak hanya itu, pastikan pula menerapkan protokol kesehatan dengan cuci tangan pakai sabun, gunakan hand sanitizer, dan terapkan etika batuk/bersin.
Hindari Kontak Hewan
Terakhir, hindari kontak langsung dengan hewan ternak (babi/kuda) yang berpotensi terinfeksi. Gunakan APD jika terpaksa harus kontak.
Selain beberapa hal di atas, khusus bagi tenaga kesehatan maupun keluarga yang merawat serta petugas laboratorium yang mengelola spesimen pasien terinfeksi, maka diimbau supaya menerapkan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi atau PPI.***