Apakah Virus Nipah Sudah Masuk Jogja? Begini Penjelasan Terbaru Dinkes

Bagikan :
Ilustrasi apakah Virus Nipah sudah masuk Jogja atau belum (Pexels// Polina Tankilevitch)

KabarJawa.com – Belakangan ini, penyebaran Virus Nipah telah menjadi sorotan global, termasuk bagai warga Yogyakarta.

Fenomena ini menimbulkan satu pertanyaan besar yaitu soal apakah virus mematikan ini sudah masuk ke wilayah Jogja?

Menanggapi hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta rupanya telah memberikan penjelasannya.

Ketua Tim Kerja Surveilans PD SIK Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi R, MPH., menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kasus Virus Nipah yang ditemukan di Yogyakarta maupun di Indonesia secara umum.

“Di Indonesia, belum ditemukan kasus Nipah pada manusia,” tegas Solikhin dalam keterangan resminya baru-baru ini.

Tidak Ada Lonjakan Kasus Mencurigakan

Pernyataan “nol kasus” ini didasarkan pada data surveilans ketat yang dilakukan Dinkes Kota Yogyakarta. Pihaknya terus memantau tren penyakit dengan gejala serupa (seperti demam dan gangguan pernapasan) melalui sistem indicator based surveillance.

Berdasarkan data pemantauan harian penyakit pernapasan pada periode 29 Januari hingga 5 Februari 2026, kondisi kesehatan masyarakat terpantau stabil.

“Dalam satu minggu ini dari 29 januari sampai 5 Februari 2026 tidak terjadi lonjakan kunjungan pasien ISPS, Pneumonia dan ILI,” jelas Solikhin.

Baca juga  Danrem 072/Pamungkas Open Golf Tournament 2025 Jadi Ajang Silaturahmi Ratusan Pegolf

Meskipun aman, Solikhin mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. Risiko penularan tetap ada mengingat tingginya mobilitas manusia lintas negara, terutama dari negara yang sedang mengalami kejadian luar biasa (KLB).

Selain itu, penelitian di Indonesia menunjukkan adanya jejak virus pada reservoir alami, yakni kelelawar buah.

“Namun demikian tetap waspada terhadap faktor risiko penularan dengan memperhatikan mobilitas manusia lintas negara terutama dari negara yang mengalami kejadian luar biasa dan hasil penelitian di Indonesia yang menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada reservoir alami kelelawar buah (Pteropus sp.),” ujarnya.

Mengenal Bahaya Virus Nipah

Sebagai informasi, Virus Nipah adalah penyakit zoonosis (ditularkan dari hewan ke manusia). Penyakit ini pertama kali ditemukan di Kampung Sungai Nipah, Malaysia (1998-1999) yang menular dari kelelawar buah ke ternak babi, lalu ke manusia.

Terbaru, pada 26 Januari 2026, India melaporkan adanya 2 kasus konfirmasi positif Nipah di Negara Bagian West Bengal.

Penyakit ini memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi, yakni mencapai 40-70%. Virus ini menyerang otak (ensefalitis) yang dapat menyebabkan penurunan kesadaran hingga kejang-kejang.

Baca juga  33 Mahasiswa Biologi UAJY Pelajari Bioteknologi Industri di Karanganyar, Perkuat Wawasan Sains dan Kewirausahaan

Imbauan Dinkes

Demi mencegah masuknya virus ini, Dinkes Kota Yogyakarta merilis panduan pencegahan yang wajib dipatuhi warga Jogja dan sekitarnya. Berikut adalah beberapa diantaranya.

Hindari Air Nira Mentah

Jangan mengonsumsi air nira/aren (bahan gula merah) langsung setelah disadap dari pohon. Air sadapan ini sering dikontaminasi oleh air liur atau kencing kelelawar pada malam hari. Wajib dimasak hingga matang sebelum diminum.

Perhatikan Buah-buahan

Cuci dan kupas buah secara menyeluruh. Buang segera buah yang memiliki tanda bekas gigitan hewan (kelelawar/codot).

Masak Daging hingga Matang dan Terapkan Protokol Kesehatan

Kemudian, pastikan daging ternak dikonsumsi dalam keadaan benar-benar matang.

Tak hanya itu, pastikan pula menerapkan protokol kesehatan dengan cuci tangan pakai sabun, gunakan hand sanitizer, dan terapkan etika batuk/bersin.

Hindari Kontak Hewan

Terakhir, hindari kontak langsung dengan hewan ternak (babi/kuda) yang berpotensi terinfeksi. Gunakan APD jika terpaksa harus kontak.

Selain beberapa hal di atas, khusus bagi tenaga kesehatan maupun keluarga yang merawat serta petugas laboratorium yang mengelola spesimen pasien terinfeksi, maka diimbau supaya menerapkan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi atau PPI.***

Baca juga  KPK Pilih Yogyakarta sebagai Tuan Rumah Hari Anti Korupsi Sedunia 2025

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya