
KabarJawa.com – Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menekankan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Menurutnya, kesehatan reproduksi bukan hanya urusan perempuan, tetapi tanggung jawab bersama. Generasi sehat lahir dari ibu yang sehat, dan ibu sehat tercipta dari pengetahuan yang benar sejak remaja.
“Kesehatan reproduksi adalah kunci mencetak generasi sehat, cerdas, dan produktif. Jika masyarakat memahami hal ini sejak dini, maka kita mampu mencegah kematian ibu, penyakit menular, hingga risiko stunting pada bayi,” ujar Hasto di hadapan jajaran TNI AU, perwakilan Pemda, tenaga medis, dan masyarakat umum yang hadir.
Hasto menekankan bahwa stunting tidak hanya berkaitan dengan gizi setelah bayi lahir, tetapi erat kaitannya dengan kondisi kesehatan ibu sejak awal kehamilan, bahkan sejak masa remaja.
Dengan perhatian sejak dini, ibu akan hamil dalam kondisi sehat, bayi lahir dengan berat badan ideal, dan risiko stunting dapat ditekan.
“Ini adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa,” tambahnya.
Hasto mengungkapkan data terbaru dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta yang menunjukkan penurunan tajam angka kematian bayi.
Pada 2024, tercatat 2.137 bayi lahir dengan 21 kasus kematian bayi. Hingga Agustus 2025, jumlah kelahiran menurun menjadi 1.265 bayi, dengan angka kematian hanya 6 kasus.
“Data ini menunjukkan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak di Kota Yogyakarta semakin baik. Penurunan ini bukan kebetulan, tetapi hasil kerja keras semua pihak, dari tenaga medis, pemerintah, hingga kesadaran masyarakat,” tegas Hasto.
Program KB Buktikan Keberhasilan
Wali Kota juga menyoroti keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) yang disosialisasikan secara gencar oleh Pemerintah Kota Yogyakarta. Pada 2024, peserta KB tercatat 23.782 orang.
Hingga Agustus 2025, jumlah peserta mencapai 22.187 orang, dan Hasto optimistis angka tersebut akan melampaui capaian tahun sebelumnya.
“Kesadaran masyarakat meningkat drastis. Penurunan angka kehamilan dan kelahiran ini menunjukkan keberhasilan sosialisasi KB. Jumlah peserta KB yang terus bertambah membuktikan warga Yogyakarta semakin peduli dengan perencanaan keluarga,” jelasnya.
Meski keberhasilan ini patut diapresiasi, Hasto mengingatkan masyarakat untuk tidak terlena. Ia menekankan pentingnya menjaga semangat agar angka kematian ibu dan bayi terus menurun serta generasi penerus lahir lebih sehat.
Turunnya angka kematian bayi menjadi kabar menggembirakan, namun Hasto menegaskan bahwa perjuangan mencetak generasi emas tidak boleh berhenti.
Ia menekankan kolaborasi antara pemerintah, tenaga medis, organisasi masyarakat, dan keluarga dalam memastikan setiap anak Yogyakarta lahir sehat dan tumbuh tanpa kekurangan gizi.
“Kita sudah buktikan bahwa dengan kesadaran bersama, kita mampu menurunkan angka kematian bayi. Sekarang tugas kita menjaga, memperkuat, dan memperluas keberhasilan ini. Karena masa depan Yogyakarta, bahkan masa depan Indonesia, ditentukan oleh kualitas generasi yang kita lahirkan hari ini,” ujarnya.