
KABARJAWA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih menunjukkan intensitas tinggi dalam sepekan terakhir.
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis terbaru Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), volume kubah lava di sektor barat daya bertambah sekitar 52.500 meter kubik, menjadikannya mencapai 4.049.300 meter kubik.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, mengonfirmasi bahwa kondisi ini menunjukkan suplai magma masih berlangsung aktif, yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran (APG) di wilayah potensi bahaya.
Aktivitas Gunung Merapi
Tim pemantau mencatat cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi dan malam hari, tapi berkabut saat siang hingga sore. Gunung Merapi juga terus mengeluarkan asap putih bertekanan lemah, dengan ketinggian bervariasi antara 15 hingga 250 meter.
Sepanjang minggu ini, BPPTKG mengamati sebanyak 14 kali guguran lava ke arah hulu Kali Krasak sejauh maksimum 2.000 meter, 20 kali guguran ke arah hulu Kali Bebeng sejauh 1.900 meter, dan 39 kali guguran ke arah hulu Kali Sat/Putih sejauh maksimum 2.000 meter.
Kubah Lava
BPPTKG melaksanakan survei udara menggunakan drone pada 30 Mei 2025. Hasil foto udara menunjukkan bahwa volume kubah lava barat daya bertambah 52.500 m³, sedangkan volume kubah tengah relatif tetap, yaitu 2.367.300 meter kubik.
Agus Budi Santoso juga menjelaskan bahwa suhu maksimum di kubah barat daya dan kubah tengah tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan dengan periode sebelumnya. Suhu maksimum terukur sebesar 247,4°C di kubah barat daya dan 217,9°C di kubah tengah.
Tim BPPTKG mendeteksi perubahan morfologi kecil pada kubah barat daya, yang dipengaruhi oleh aktivitas guguran dan peningkatan volume lava. Sementara itu, kubah tengah tidak menunjukkan perubahan morfologi yang berarti.
Selama periode pengamatan, BPPTKG merekam 943 gempa Fase Banyak (MP), 633 gempa Guguran (RF), dan 7 gempa Tektonik (TT). Data ini menunjukkan bahwa intensitas kegempaan masih tinggi dan stabil dibandingkan dengan minggu sebelumnya.
Pengamatan deformasi menggunakan Electronic Distance Measurement (EDM) dan GPS tidak menunjukkan perubahan signifikan.
Jarak tunjam EDM dari titik tetap BAB0 ke reflektor RB2 terukur di kisaran 3.840,685 hingga 3.840,693 meter, dan ke RB3 di kisaran 3.414,060 hingga 3.414,067 meter. Data baseline GPS Labuhan–Jrakah pun stabil di kisaran 7.108,13 hingga 7.108,15 meter.
BPPTKG mencatat hujan dengan intensitas tertinggi terjadi pada 31 Mei 2025, yaitu sebesar 23 mm/jam selama 125 menit di Pos Babadan. Meskipun demikian, tidak terjadi aliran lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Agus Budi Santoso menyatakan bahwa aktivitas erupsi efusif Gunung Merapi masih tergolong tinggi. Oleh karena itu, status aktivitas tetap pada Level III atau SIAGA.
“Suplai magma masih berlangsung dan berpotensi memicu awan panas guguran di sektor berbahaya,” ungkap Agus.
Zona Potensi Bahaya
Guguran lava dan awan panas ke arah selatan–barat daya meliputi daerah berikut.
- Sungai Boyong (maks. 5 km)
- Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maks. 7 km)
- Sektor tenggara, meliputi:
- Sungai Woro (maks. 3 km)
- Sungai Gendol (maks. 5 km)
Letusan eksplosif dapat melontarkan material hingga radius 3 km dari puncak.
BPPTKG mengimbau sejumlah langkah mitigasi kepada pemangku kepentingan dan masyarakat Pemerintah daerah (Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten) agar meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan dan menyiapkan sarana evakuasi.
Masyarakat tidak melakukan aktivitas apa pun di zona potensi bahaya. Masyarakat dimint mewaaspadai ancaman lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan dan Antisipasi gangguan akibat abu vulkanik jika terjadi letusan eksplosif.
Gunung Merapi tetap dalam pemantauan intensif. Masyarakat sebaiknya selalu mengikuti informasi resmi dari BPPTKG dan tidak terpancing informasi yang tidak valid. (ef linangkung)