
KabarJawa.com – Upaya menghadirkan akses air bersih bagi masyarakat di kawasan padat penduduk kembali mendapatkan dukungan dari dunia usaha.
Pemerintah Kota Yogyakarta bersama sektor swasta memperkuat sinergi melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), salah satunya melalui bantuan sistem filterisasi air bersih dari Patra Malioboro Hotel Yogyakarta untuk warga Kemantren Gedongtengen.
General Manager Patra Malioboro Hotel Yogyakarta, Tri Hartanto, menjelaskan bahwa bantuan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar.
Teknologi filterisasi yang diberikan dilengkapi dengan ultraviolet (UV) sehingga air hasil olahan dapat langsung dikonsumsi.
“Bantuan ini adalah implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan kami. Filterisasi air ini mampu menghasilkan air bersih yang bahkan bisa langsung diminum tanpa dimasak karena sudah dilengkapi teknologi UV,” ujar Tri Hartanto saat penyerahan bantuan di Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) Sosromenduran, Rabu (26/11/2025).
Hotel menyediakan lima unit alat filterisasi yang dipasang di dua kelurahan. Tiga unit ditempatkan di Kelurahan Sosromenduran dan dua unit di Kelurahan Pringgokusuman. Pada salah satu titik di Pringgokusuman, pemasangan juga dibarengi pembangunan sumur baru karena wilayah tersebut belum memiliki sumber air.
“Untuk yang di Pringgokusuman, satu titik sekaligus kami bangunkan sumurnya karena memang belum ada sumur. Jadi kami lengkapi sekalian agar alat filterisasi bisa berfungsi optimal,” tambah Tri.
Ketersediaan Air Bersih Masih Jadi Tantangan
Pemerintah Kota Yogyakarta mengapresiasi dukungan sektor usaha dalam memperluas akses air bersih. Mewakili Wali Kota, Staf Ahli Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Patricia Heny Dian Anitasari, menyampaikan bahwa kebutuhan air bersih masih menjadi persoalan signifikan di wilayah padat penduduk.
“Langkah ini sangat berarti bagi masyarakat. Di wilayah Kemantren Gedongtengen, ketersediaan air bersih memang menjadi tantangan bagi sebagian warga,” ujarnya.
Surveilans Lingkungan tahun 2025 mencatat bahwa 78 persen rumah tangga di Gedongtengen telah memiliki akses air bersih layak konsumsi. Namun, 22 persen lainnya masih bergantung pada sumber air yang berpotensi tercemar seperti sumur dangkal atau air permukaan.
Data dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta memperkuat temuan tersebut. Uji laboratorium terhadap 60 sampel air rumah tangga menunjukkan 18 persen sampel mengandung bakteri E. coli di atas ambang batas, 12 persen mengandung nitrat melebihi baku mutu, dan 9 persen mengandung logam berat seperti Fe dan Mn yang berada di atas nilai aman.
Patricia menjelaskan bahwa dukungan dunia usaha seperti yang dilakukan Patra Malioboro Hotel memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan masyarakat, termasuk percepatan penurunan stunting melalui penyediaan air bersih yang layak.
“Upaya pemenuhan sarana air bersih sangat vital. Sinergi seperti ini bukan hanya membantu penyediaan fasilitas, tetapi juga meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara jangka panjang,” tegasnya.
Harapan untuk Kualitas Hidup yang Lebih Baik
Ia berharap keberadaan lima titik filterisasi air bersih tersebut dapat meningkatkan kualitas air konsumsi masyarakat Gedongtengen dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat.
“Inisiatif ini menjadi contoh baik dari peran dunia usaha dalam pembangunan sosial, khususnya bagi masyarakat di kawasan padat penduduk di Kota Yogyakarta,” pungkasnya.