
KABARJAWA – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (BI DIY) secara resmi menggerakkan kekuatan pasar tradisional untuk mengendalikan inflasi melalui program MRANTASI Pasar.
Sebanyak 320 pedagang dari Pasar Beringharjo di Kota Yogyakarta dan Pasar Kolombo di Sleman telah bergabung dalam barisan garda depan pengendalian harga kebutuhan pokok.
Pengendalian Inflasi
Pemerintah menyadari, inflasi yang tinggi dan tidak stabil kerap melukai perekonomian rakyat kecil. Harga pangan yang melonjak tiba-tiba bisa menekan pendapatan riil masyarakat, menciptakan ketidakpastian ekonomi, dan mengacaukan keputusan pelaku usaha.
Jadi, pengendalian inflasi bukan hanya menjadi urusan pemerintah pusat atau daerah semata, tetapi tanggung jawab bersama, terutama mereka yang bergelut langsung di pasar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi DIY per Juni 2025 terpantau cukup terkendali. Secara bulanan (month to month), inflasi sebesar 0,23%, sementara secara tahunan (year on year), angka inflasi tercatat 2,52%.
Meski begitu, gejolak harga pangan tetap menjadi ancaman serius yang dipicu oleh dua faktor utama: ekspektasi masyarakat dan pasokan komoditas.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY tidak tinggal diam. Mereka menggerakkan program MRANTASI (Masyarakat lan Pedagang Tanggap Inflasi) sebagai strategi jitu sejak 2024.
Pada 24 Juni 2025 lalu, Gubernur DIY menegaskan kembali komitmennya dalam High Level Meeting TPID se-DIY.
Program dimulai secara simbolis tapi bermakna. Kepala Perwakilan BI DIY, Sri Darmadi Sudibyo, dan Kepala Biro Perekonomian dan SDA Setda DIY, Eling Priswanto, S.E., M.M., menyerahkan langsung plakat keikutsertaan kepada Kios Ritakalis di Pasar Beringharjo dan Kios Pak Dwijo di Pasar Kolombo.
Rangkaian Program MRANTASI
Eling Priswanto menegaskan bahwa MRANTASI bukan program seremonial. Ia menyebut program ini sebagai strategi hilir yang menyentuh akar ekonomi rakyat. Edukasi kepada pedagang, menurutnya, menjadi bentuk investasi sosial jangka panjang.
“Kami ingin membentuk pola pikir pedagang agar lebih adaptif, bertanggung jawab, dan sadar akan peran vital mereka dalam menjaga stabilitas harga,” ujarnya.
Sementara itu, Sri Darmadi Sudibyo memaparkan bahwa sebanyak 320 pedagang dari dua pasar akan mengikuti rangkaian pelatihan dan edukasi hingga November 2025.
Ia menyebut dua pasar tersebut sebagai pasar strategis karena menjadi lokasi pantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Indeks Perkembangan Harga (IPH).
“Pasar Beringharjo mewakili karakter ekonomi perkotaan, sedangkan Pasar Kolombo mencerminkan dinamika ekonomi sub-perkotaan,’kata dia.
Ia menekankan pentingnya mengubah persepsi pelaku pasar terhadap inflasi. Persepsi itu bisa memicu keputusan yang berdampak luas, mulai dari konsumen hingga investor.
“Jika para pedagang memahami cara kerja inflasi, mereka bisa mengantisipasi gejolak harga, bukan menjadi penyebabnya,” ujar Sudibyo.
Tim TPID DIY langsung menggandeng akademisi dari Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM untuk menggelar kelas-kelas MRANTASI Pasar.
Pedagang Pasar Beringharjo menjadi peserta gelombang pertama yang akan menerima edukasi menyeluruh tentang manajemen harga, stok barang, pola belanja konsumen, hingga strategi dagang saat musim panen dan paceklik.
Kegiatan edukasi itu akan bergulir terus hingga bulan November, menjangkau seluruh pedagang sasaran dari kedua pasar.
Pemerintah menargetkan terbangunnya ekosistem pasar tradisional yang tangguh, sadar harga, dan tanggap terhadap dinamika ekonomi lokal maupun global.
Melalui MRANTASI, Pemerintah Daerah, Bank Indonesia, dan masyarakat pasar membangun kekuatan baru, yaitu ekonomi kerakyatan yang cerdas dan mandiri.
Program ini bukan sekadar upaya pengendalian harga, tapi bentuk nyata keberpihakan negara kepada pelaku ekonomi akar rumput.
MRANTASI pasar menjadi bukti bahwa melibatkan rakyat dalam kebijakan ekonomi bukan hanya mungkin, tapi mutlak perlu dilakukan.
Menjaga harga tetap stabil, bukan semata tugas negara, tapi tanggung jawab semua, dari pedagang, pembeli, hingga pemimpin daerah. Dari Pasar Beringharjo serta Kolombo, perubahan itu kini mulai berjalan. (ef linangkung)