
Kabarjawa – Sebuah video yang memperlihatkan aksi pasangan sejoli diarak warga di Desa Surajaya, Pemalang, viral di media sosial. Kejadian ini berlangsung pada Jumat (14/3) sekitar pukul 02.00 WIB dan menjadi sorotan karena terjadi di bulan puasa.
Kronologi Kejadian
Peristiwa ini berawal dari kecurigaan warga terhadap aktivitas dua sejoli yang diketahui sudah memiliki pasangan masing-masing.
Pasangan tersebut kerap terlihat berduaan, meskipun keduanya bukan suami istri. Warga yang sudah lama memantau akhirnya memergoki mereka tengah berbincang di teras rumah pada dini hari.
Aksi penggerebekan ini dilakukan oleh sekelompok pemuda yang tengah melakukan “tongprek” atau tradisi membangunkan sahur.
Ketika melihat keduanya, warga yang geram langsung mengarak pasangan tersebut berkeliling desa hingga menuju balai desa.
Klarifikasi dari Pihak Desa
Kepala Desa Surajaya, Wasno, menjelaskan bahwa saat kejadian berlangsung, kedua sejoli tersebut tidak melakukan tindakan asusila.
Mereka hanya duduk dan berbincang di teras rumah. Namun, karena sudah lama dicurigai berduaan, kejadian ini memicu emosi warga.
Menurut Wasno, pasangan tersebut tinggal dalam satu dusun dengan jarak rumah sekitar 500 meter. Sang wanita diketahui memiliki suami yang bekerja di Jakarta.
Untuk menghindari kericuhan lebih lanjut, pihak desa memutuskan untuk memanggil Bhabinkamtibmas dan mengamankan keduanya ke Polsek.
Penyelesaian Kasus
Penyelesaian kasus ini menunggu kepulangan suami dari pihak wanita. Menurut Wasno, keputusan akhir akan ditentukan setelah musyawarah keluarga.
Jika suami dari pihak wanita meminta cerai, ada kemungkinan pasangan yang diarak tersebut akan dinikahkan untuk menjaga kehormatan keluarga.
Kejadian di Desa Surajaya ini menjadi pelajaran penting tentang menjaga keharmonisan dalam bertetangga serta perlunya pendekatan yang bijak dalam menyelesaikan konflik sosial.
Meskipun tidak ditemukan tindakan asusila, arak-arakan yang dilakukan warga menunjukkan betapa kuatnya norma sosial di tengah masyarakat.
Insiden ini juga menyoroti pentingnya komunikasi yang baik antarwarga dan perlunya penanganan bijak dalam meredam emosi massa, terutama di tengah suasana bulan puasa yang seharusnya menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi.(Kabarjawa)