Tradisi Malam Selikuran Keraton Solo: Perpaduan Budaya dan Religi yang Penuh Makna

Bagikan :
Tradisi Malam Selikuran Keraton Solo Perpaduan Budaya dan Religi yang Penuh Makna
Tradisi Malam Selikuran Keraton Solo Perpaduan Budaya dan Religi yang Penuh Makna(Sumber Gambar : Ilustrasi: Pinterest/Nina Rivana)

Kabarjawa – Malam Selikuran menjadi salah satu tradisi khas Keraton Solo yang dinanti setiap bulan Ramadan, khususnya saat memasuki malam ke-21.

Tradisi ini menggabungkan nilai budaya dan religi yang sarat makna, menjadi momen sakral bagi masyarakat Solo untuk memperingati malam-malam terakhir Ramadan sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur.

Kirab Sakral Menuju Kebon Rojo Sriwedari

Rangkaian acara Malam Selikuran dimulai dengan kirab yang berangkat dari Kori Kamandungan Keraton Solo menuju Kebon Rojo Sriwedari.

Kirab ini menempuh perjalanan sejauh tiga kilometer dan melewati rute ikonik seperti Gladak hingga Jalan Slamet Riyadi. Ribuan masyarakat turut meramaikan prosesi ini, menciptakan suasana yang penuh khidmat dan meriah.

Barisan pertama kirab diisi oleh prajurit Keraton Solo yang melangkah gagah, diikuti oleh Raja Keraton Solo, Paku Buwono XIII, beserta permaisuri yang menaiki kendaraan khusus dalam iring-iringan.

Tak hanya itu, peserta kirab juga membawa lentera berwarna-warni yang dikenal sebagai lampu ting. Lentera ini berbentuk unik menyerupai lampion, menjadi simbol cahaya dan harapan di malam penuh berkah.

Baca juga  Pemerintah Cabut 4 Izin Tambang di Raja Ampat, Komitmen Jaga Alam Tetap Jalan

Selain lentera, kirab Malam Selikuran juga menghadirkan tradisi membawa ancak sancaka, yaitu peti khusus berisi bungkusan nasi tumpeng yang nantinya dibagikan kepada masyarakat. Nasi tumpeng ini melambangkan rasa syukur dan berkah di bulan suci Ramadan.

Makna Religius dan Filosofis

Tradisi Malam Selikuran memiliki makna mendalam yang lekat dengan nilai-nilai religius. Malam ke-21 Ramadan diyakini menjadi awal dari malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir, di mana umat Islam berlomba-lomba mencari Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia dari seribu bulan.

Tumpeng sewu yang dibawa dalam kirab melambangkan doa dan harapan untuk mendapatkan keberkahan, sementara lampu ting merepresentasikan cahaya penerang dalam perjalanan spiritual.

Prosesi ini menjadi simbol pengingat agar masyarakat terus meningkatkan ibadah, mendekatkan diri kepada Allah, serta memperbanyak doa dan amal baik.

Tausiyah dan Doa Bersama

Setibanya di Kebon Rojo Sriwedari, rangkaian acara berlanjut dengan tausiyah yang disampaikan oleh Gus Muwafiq. Tausiyah ini memberikan pesan mendalam tentang pentingnya memperbanyak ibadah di malam-malam terakhir Ramadan, beriktikaf di masjid, serta memperkokoh iman dan ketakwaan.

Baca juga  Putra Mahkota Keraton Solo Kritik Pemerintah, Unggahannya Jadi Sorotan

Masyarakat yang hadir mengikuti prosesi ini dengan penuh khidmat, meresapi setiap pesan spiritual yang disampaikan.

Momen ini menjadi pengingat untuk tidak hanya merayakan tradisi secara budaya, tetapi juga memaknainya dengan pendekatan spiritual yang mendalam.

Warisan Budaya yang Terus Dilestarikan

Malam Selikuran di Keraton Solo menjadi bukti nyata bagaimana budaya dan agama bisa berpadu harmonis dalam sebuah tradisi yang kaya makna.

Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya Jawa, tetapi juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperkuat hubungan spiritual di bulan Ramadan.

Bagi masyarakat Solo dan sekitarnya, Malam Selikuran menjadi simbol penghormatan terhadap malam-malam istimewa Ramadan.

Tradisi ini adalah cermin dari kekayaan budaya dan nilai religius yang terus diwariskan lintas generasi, menjadi pengingat untuk terus meningkatkan amal ibadah serta menjaga harmoni budaya dan keimanan.(Kabarjawa)

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Jadwal Ganjil Genap Puncak 26 April 2026
Jadwal Buka Tutup Puncak 26 April 2026, Berlaku One Way atau Ganjil Genap? Cek Estimasinya