
Kabarjawa – Malam Selikuran menjadi salah satu tradisi khas Keraton Solo yang dinanti setiap bulan Ramadan, khususnya saat memasuki malam ke-21.
Tradisi ini menggabungkan nilai budaya dan religi yang sarat makna, menjadi momen sakral bagi masyarakat Solo untuk memperingati malam-malam terakhir Ramadan sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur.
Kirab Sakral Menuju Kebon Rojo Sriwedari
Rangkaian acara Malam Selikuran dimulai dengan kirab yang berangkat dari Kori Kamandungan Keraton Solo menuju Kebon Rojo Sriwedari.
Kirab ini menempuh perjalanan sejauh tiga kilometer dan melewati rute ikonik seperti Gladak hingga Jalan Slamet Riyadi. Ribuan masyarakat turut meramaikan prosesi ini, menciptakan suasana yang penuh khidmat dan meriah.
Barisan pertama kirab diisi oleh prajurit Keraton Solo yang melangkah gagah, diikuti oleh Raja Keraton Solo, Paku Buwono XIII, beserta permaisuri yang menaiki kendaraan khusus dalam iring-iringan.
Tak hanya itu, peserta kirab juga membawa lentera berwarna-warni yang dikenal sebagai lampu ting. Lentera ini berbentuk unik menyerupai lampion, menjadi simbol cahaya dan harapan di malam penuh berkah.
Selain lentera, kirab Malam Selikuran juga menghadirkan tradisi membawa ancak sancaka, yaitu peti khusus berisi bungkusan nasi tumpeng yang nantinya dibagikan kepada masyarakat. Nasi tumpeng ini melambangkan rasa syukur dan berkah di bulan suci Ramadan.
Makna Religius dan Filosofis
Tradisi Malam Selikuran memiliki makna mendalam yang lekat dengan nilai-nilai religius. Malam ke-21 Ramadan diyakini menjadi awal dari malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir, di mana umat Islam berlomba-lomba mencari Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia dari seribu bulan.
Tumpeng sewu yang dibawa dalam kirab melambangkan doa dan harapan untuk mendapatkan keberkahan, sementara lampu ting merepresentasikan cahaya penerang dalam perjalanan spiritual.
Prosesi ini menjadi simbol pengingat agar masyarakat terus meningkatkan ibadah, mendekatkan diri kepada Allah, serta memperbanyak doa dan amal baik.
Tausiyah dan Doa Bersama
Setibanya di Kebon Rojo Sriwedari, rangkaian acara berlanjut dengan tausiyah yang disampaikan oleh Gus Muwafiq. Tausiyah ini memberikan pesan mendalam tentang pentingnya memperbanyak ibadah di malam-malam terakhir Ramadan, beriktikaf di masjid, serta memperkokoh iman dan ketakwaan.
Masyarakat yang hadir mengikuti prosesi ini dengan penuh khidmat, meresapi setiap pesan spiritual yang disampaikan.
Momen ini menjadi pengingat untuk tidak hanya merayakan tradisi secara budaya, tetapi juga memaknainya dengan pendekatan spiritual yang mendalam.
Warisan Budaya yang Terus Dilestarikan
Malam Selikuran di Keraton Solo menjadi bukti nyata bagaimana budaya dan agama bisa berpadu harmonis dalam sebuah tradisi yang kaya makna.
Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya Jawa, tetapi juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperkuat hubungan spiritual di bulan Ramadan.
Bagi masyarakat Solo dan sekitarnya, Malam Selikuran menjadi simbol penghormatan terhadap malam-malam istimewa Ramadan.
Tradisi ini adalah cermin dari kekayaan budaya dan nilai religius yang terus diwariskan lintas generasi, menjadi pengingat untuk terus meningkatkan amal ibadah serta menjaga harmoni budaya dan keimanan.(Kabarjawa)