
KABAR JAWA – Permasalahan dunia pendidikan di Semarang kembali jadi sorotan.
Setelah sebelumnya muncul kabar soal siswa yang belum bisa ambil ijazah, sekarang muncul masalah baru.
Sebanyak 36 SD Negeri di Kota Semarang gagal memenuhi kuota siswa baru dalam pelaksanaan SPMB 2025.
Padahal penerimaan siswa baru ini penting banget buat keberlangsungan kegiatan belajar.
Tapi sayangnya, lebih dari 30 sekolah itu cuma mampu menarik kurang dari 50 persen jumlah siswa dari total rombongan belajar yang disediakan.
Sekolah Sepi, Wali Kota Turun Tangan
Melihat masalah ini, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pamestuti nggak tinggal diam. Ia menyampaikan akan segera mencari jalan keluar.
Salah satunya adalah dengan mengusulkan dibukanya gelombang kedua untuk penerimaan siswa SD Negeri.
Langkah ini bakal diajukan ke pemerintah pusat lewat Dinas Pendidikan Kota Semarang.
Rencana ini muncul setelah hasil pelaporan SPMB 2025 selesai dan diketahui adanya puluhan SD yang belum memenuhi kuota.
Koordinasi dengan Pemerintah Pusat
Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kota Semarang, Aji Nur Setiawan juga angkat bicara. Ia bilang bahwa pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan Kementerian Pendidikan.
Respon dari pusat disebut cukup baik, dan kemungkinan besar gelombang kedua bisa dibuka. Hal ini tentu jadi angin segar bagi sekolah-sekolah yang sempat was-was karena rombel mereka sepi.
Kenapa Banyak SD Sepi?
Salah satu alasan kenapa banyak SD negeri kekurangan murid adalah karena banyak orang tua sekarang lebih memilih menyekolahkan anak ke sekolah swasta atau sekolah yang dianggap lebih favorit.
Beberapa SD negeri di daerah pinggiran juga kalah saing dari segi fasilitas maupun lokasi.
Jumlah anak usia SD juga nggak selalu naik. Kadang stagnan, bahkan turun. Jadi secara alami, kompetisi antar sekolah untuk mendapat murid jadi lebih ketat.
Solusi Sementara, Tapi Masih Perlu Langkah Jangka Panjang
Usulan SPMB gelombang kedua bisa jadi solusi jangka pendek. Tapi tetap saja, ke depannya perlu langkah lebih jauh.
Misalnya, meningkatkan kualitas pengajaran, memperbaiki fasilitas sekolah, sampai pendekatan ke masyarakat supaya orang tua nggak ragu masukin anak ke SD negeri.
Masalah 36 SD Negeri yang gagal memenuhi kuota murid ini menunjukkan kalau masih banyak pekerjaan rumah di dunia pendidikan kita. Pemerintah kota sudah bergerak dengan rencana SPMB gelombang dua.
Tapi tentu butuh kerja bareng semua pihak, supaya sekolah-sekolah negeri bisa tetap jadi pilihan utama buat para orang tua dan anak-anak.***