
Kabar Jawa – Tiba-tiba viral, KH Aceng Abdul Mujib dikritik keras menyebut Gubernur Jawa Barat sebagai gubernur tolol. Siapa sosoknya sebenarnya? Simak profil lengkap dan kontroversinya di sini.
Beberapa hari terakhir, jagat media sosial dihebohkan oleh video viral KH Aceng Abdul Mujib, yang menyebut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebagai “gubernur tolol” hingga “kurang ajar”.
Ucapan pedas ini langsung menuai pro dan kontra dari warganet, memicu perdebatan terkait etika serta standar komunikasi tokoh agama terhadap pejabat publik.
Siapakah KH Aceng Abdul Mujib?
KH Aceng Abdul Mujib, akrab dipanggil Ceng Mujib, merupakan figur terkemuka di Kabupaten Garut. Ia menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut, menjadikannya salah satu ulama berpengaruh di daerah tersebut.
Berstatus pimpinan Pondok Pesantren Fauzan di Kecamatan Sukaresmi, ia memiliki jaringan luas di kalangan santri dan tokoh masyarakat setempat.
Masyarakat Garut bahkan sempat memberikan julukan “Dewa” kepada KH Aceng sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya—terutama atas fasilitasi dana hibah kepada sejumlah yayasan pesantren.
Kiprah Organisasi dan Sosial
KH Aceng termasuk aktif dalam berbagai organisasi masyarakat lokal. Ia pernah bergabung dengan SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia) Garut dan mendirikan Barisan Nusantara Pembela Merah Putih (BNP), organisasi yang dibentuk untuk menolak kebangkitan NII.
Selain itu, ia pernah menjabat Ketua Umum ALMAGARI (Aliansi Masyarakat Garut Anti Radikalisme dan Intoleransi), memperkuat komitmennya dalam melawan intoleransi dan gerakan radikal.
Kontroversi dan Video Viral
Dalam sebuah video yang kini viral di TikTok dan platform lainnya, KH Aceng mengungkapkan pandangannya secara tegas:
“Lamun aya gubernur nyebutkeun pesantren asup politik, saya simpulkan gubernur tolol… gubernur kurang ajar…” ucap KH Aceng dikutip KabarJawa dari berbagai sumber.
Konteksnya adalah protes terhadap pernyataan Gubernur Dedi Mulyadi, yang dianggap menuduh pesantren memiliki agenda politik. Ucapan tersebut menuai kecaman luas karena dinilai kasar dan tidak sesuai dengan etika seorang ulama.
Isu Dana Hibah Pesantren
Menurut sejumlah sumber di media lokal, konflik ini berakar dari penghentian dana hibah ke pesantren—termasuk yang berada di lingkungan KH Aceng—setelah Dedi Mulyadi menjabat sebagai Gubernur. Salah satu tokoh dari Garut Selatan menyebut:
Hingga pembelaan yang menyoroti hak kebebasan berpendapat, meski banyak yang menyayangkan cara komunikasi dari KH Aceng Abdul Mujib.
KH Aceng Abdul Mujib adalah sosok berpengaruh di Garut yang tengah menjadi pusat kontroversi akibat kritik keras terhadap Gubernur Dedi Mulyadi.
Latar belakangnya sebagai Ketua MUI dan faktor penghentian dana hibah menjadi latar kuat di balik emosinya. Namun, ungkapan kasar yang disampaikan menimbulkan perdebatan luas soal etika seorang ulama.***