
Kabarjawa – Dunia Katolik tengah berduka atas wafatnya Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma dan Kepala Negara Vatikan. Sosok yang dikenal penuh kasih dan sederhana ini meninggal dunia di usia 88 tahun pada Senin, 21 April 2025 di Vatikan, Roma.
Kepergiannya meninggalkan kesan mendalam, tidak hanya bagi umat Katolik, tetapi juga bagi banyak kalangan di seluruh dunia yang mengenalnya sebagai tokoh damai dan sosial.
Wafatnya Paus Fransiskus di Vatikan
Paus Fransiskus menghembuskan napas terakhir pada pukul 07:35 pagi waktu setempat di Vatikan. Sebelumnya, beliau sempat mengalami kondisi kesehatan yang menurun sejak pertengahan Februari 2025 akibat penyakit bronkitis kronis.
Meskipun sempat membaik dan kembali menjalankan tugas secara terbatas, kondisinya kembali menurun setelah mengikuti perayaan Paskah di Lapangan Santo Petrus pada Minggu, 20 April 2025.
Saat perayaan tersebut, meskipun hadir, Paus tidak memimpin misa utama, melainkan hanya memberikan berkat dan pesan damai kepada umat. Hal ini menjadi penampilan publik terakhirnya sebelum berpulang pada keesokan harinya.
Riwayat Kesehatan Sebelum Wafat
Sejak Februari 2025, Paus Fransiskus dirawat intensif akibat gangguan pernapasan. Ia sempat menjalani masa perawatan di Rumah Sakit Gemelli, Roma, dan bahkan memimpin misa dari ruang rawat inap bersama staf medis dan perawat yang menjaganya. Kondisinya sempat dinyatakan stabil dan ia diperbolehkan pulang pada akhir Maret 2025, namun akhirnya takdir berkata lain.
Perjalanan Hidup Paus Fransiskus
Paus Fransiskus lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio pada 17 Desember 1936 di Buenos Aires, Argentina. Ia berasal dari keluarga imigran Italia, di mana ayahnya bekerja sebagai akuntan dan ibunya seorang ibu rumah tangga.
Sebelum menjadi imam, beliau sempat menempuh pendidikan sebagai teknisi kimia. Pada 1958, ia memutuskan masuk ke dalam Ordo Jesuit dan menjalani berbagai tahapan pendidikan serta pengabdian di bidang filsafat, sastra, psikologi, dan teologi.
Pada tahun 1969, ia ditahbiskan sebagai imam, dan kemudian menjadi anggota penuh Jesuit pada 1973. Setelah menjalani berbagai tugas penting, termasuk sebagai Provinsial Jesuit Argentina dan Uskup di Buenos Aires, ia akhirnya ditunjuk sebagai Kardinal pada tahun 2001.
Pemilihan sebagai Paus dan Kepemimpinan Dunia
Tanggal 13 Maret 2013 menjadi momen bersejarah ketika Jorge Mario Bergoglio terpilih menjadi Paus ke-266 dan mengambil nama Paus Fransiskus, terinspirasi oleh Santo Fransiskus dari Assisi. Ia merupakan Paus pertama yang berasal dari Amerika Latin dan juga Jesuit pertama yang menduduki posisi ini.
Kepemimpinannya dikenal dengan pendekatan yang merakyat, penuh kepedulian terhadap masyarakat miskin, dan dukungan terhadap perdamaian serta keadilan sosial.
Ia juga aktif dalam isu-isu lingkungan dan dialog antar agama, termasuk kunjungannya ke Indonesia pada 2024 yang menyentuh hati banyak orang.
Kepergian Paus Fransiskus meninggalkan duka yang mendalam, namun juga warisan keteladanan yang akan terus dikenang.
Sosoknya yang rendah hati, pemimpin yang mengutamakan cinta kasih, dan pejuang kemanusiaan akan tetap hidup dalam ingatan umat Katolik dan seluruh dunia. Dunia kehilangan pemimpin besar yang telah memberikan cahaya dalam banyak masa gelap.(Kabarjawa)