
KabarJawa.com – Kekhawatiran publik terhadap ancaman krisis ekonomi seperti 1998 kembali mencuat setelah nilai tukar rupiah melemah dalam beberapa pekan terakhir.
Pergerakan dolar AS yang terus naik memicu kecemasan di pasar, termasuk di kalangan pelaku usaha dan masyarakat yang masih menyimpan trauma krisis moneter hampir tiga dekade lalu.
Namun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh berbeda dibanding era krisis 1998.
Pemerintah bahkan optimistis rupiah dapat kembali menguat hingga menyentuh level Rp15.000 per dolar AS dalam beberapa bulan mendatang.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya saat menghadiri Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Centre (JEC), Jumat (22/5/2026).
Suasana ruang utama JEC sempat hening ketika Purbaya mulai membahas isu pelemahan rupiah. Beberapa peserta terlihat sibuk memantau pergerakan kurs melalui ponsel mereka di sela acara.
Isu dolar memang menjadi salah satu topik paling ramai dibicarakan pelaku pasar dalam beberapa pekan terakhir.
Purbaya Minta Publik Tak Panik
Di hadapan ratusan peserta festival keuangan tersebut, Purbaya meminta masyarakat tidak terpancing narasi ketakutan yang berkembang di media sosial maupun pasar keuangan.
Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dan memiliki instrumen perlindungan yang lebih matang dibanding situasi 1998.
“Jadi teman-teman enggak usah takut tuh yang ribut-ribut nilai tukar akan jeblok seperti 1998. Ini akan ada supply dolar yang signifikan ke ekonomi kita. Jadi rupiah akan menguat,” ujar Purbaya disambut tepuk tangan peserta.
Pernyataan tersebut langsung menjadi perhatian peserta forum. Sebagian pelaku usaha yang hadir tampak mencatat penjelasan pemerintah mengenai arah kebijakan kurs dan devisa ekspor.
Pemerintah Andalkan Devisa Ekspor
Purbaya menjelaskan pemerintah telah menyiapkan strategi untuk memperkuat cadangan devisa sekaligus meningkatkan pasokan dolar AS di dalam negeri.
Langkah utama dilakukan melalui kebijakan baru mengenai Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang mulai berlaku efektif pada 1 Juni 2026. Aturan itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2026.
Dalam aturan tersebut, eksportir diwajibkan menempatkan 100 persen devisa hasil ekspor di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Pemerintah juga menerapkan skema retensi devisa berbeda untuk sektor migas dan nonmigas.
Berikut skemanya:
| Sektor | Ketentuan DHE SDA |
|---|---|
| Migas | Retensi 30 persen selama 3 bulan |
| Nonmigas | Penempatan 100 persen selama 12 bulan |
Kebijakan itu diharapkan meningkatkan suplai dolar di pasar domestik sehingga tekanan terhadap rupiah bisa berkurang secara bertahap.
Rupiah Ditargetkan ke Rp15.000
Purbaya bahkan secara terbuka memperingatkan pelaku pasar valuta asing agar segera melepas simpanan dolar mereka sebelum kebijakan berjalan penuh.
“Saya bilang pemain valas cepat-cepat buang dolarnya. Kita akan dorong rupiah ke Rp15.000 per dolar AS,” tegasnya.
Pernyataan itu langsung ramai dibahas di kalangan peserta forum maupun media sosial ekonomi sepanjang Jumat siang. Target penguatan rupiah ke level Rp15.000 dianggap menunjukkan keyakinan tinggi pemerintah terhadap efektivitas kebijakan DHE SDA.
Meski begitu, sejumlah pelaku pasar masih menunggu implementasi kebijakan tersebut di lapangan, terutama terkait kepatuhan eksportir dalam menempatkan devisa di dalam negeri.
Pemerintah Klaim Kondisi Ekonomi Lebih Stabil
Dalam pemaparannya, Purbaya juga menegaskan situasi ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda dibanding krisis 1998.
Kala itu, Indonesia menghadapi kombinasi masalah besar mulai dari lemahnya sistem perbankan, utang luar negeri swasta yang tidak terkendali, hingga cadangan devisa yang minim.
Kini, pemerintah disebut memiliki pengawasan sektor keuangan yang lebih kuat, koordinasi fiskal dan moneter yang lebih solid, serta bantalan cadangan devisa yang lebih besar.
Masuknya aliran devisa dari sektor ekspor juga diyakini akan menjadi penopang utama penguatan rupiah dalam beberapa bulan mendatang.
Candaan Purbaya Cairkan Suasana
Di tengah pembahasan serius soal ekonomi nasional, Purbaya sempat mencairkan suasana dengan candaan yang memancing tawa peserta.
“Kalau kata Presiden selama Purbaya senyum ekonomi bagus nih, senyum terus nih!” ujarnya sambil tersenyum lebar.
Candaan itu menutup pemaparannya dengan suasana lebih hangat.
Namun di balik gurauan tersebut, pemerintah ingin mengirim pesan bahwa Indonesia tidak sedang menuju krisis seperti 1998.
Pemerintah justru tengah menyiapkan fondasi baru untuk memperkuat stabilitas rupiah dan menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global.