
KABAR JAWA – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-16 Kabar Makassar dan Kabar Grup Indonesia (KGI) yang berlangsung pada 24–29 Agustus 2025 menghadirkan pesan penting bagi dunia media.
Dengan mengusung tema “Jurnalisme, Teknologi, dan Harapan”, KGI menegaskan komitmennya dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat kualitas jurnalisme sekaligus mempercepat transformasi digital.
AI Jadi Realitas yang Tak Bisa Dihindari
Acara resmi dibuka pada Minggu, 24 Agustus 2025, melalui sambutan Direktur Pemberitaan Kabar Grup Indonesia, Uslimin, yang mewakili CEO KGI, Upi Asmaradhana.
Dalam pidatonya, Uslimin menekankan bahwa teknologi AI bukan lagi sekadar opsi, melainkan sebuah keniscayaan.
Menurutnya, media dan jurnalis yang menolak memanfaatkan AI berisiko tertinggal dibandingkan mereka yang mampu mengintegrasikan teknologi tersebut.
“Namun perlu disadari bahwa AI adalah tools. Alat bantu dalam mempermudah pekerjaan jurnalis di newsroom. Jadi, AI bukan untuk menggantikan tugas dan peran jurnalis,” ujar Uslimin yang juga Pemimpin Redaksi (Pemred) KabarBursa.com dan Kabar Makassar.
Dalam setahun terakhir, KGI melalui Kabar Makassar, KabarBursa.com, dan Kabar Jawa telah mengimplementasikan penggunaan AI di ruang redaksi. Penerapan ini bukan hanya bersifat eksperimen, melainkan menjadi landasan baru dalam meningkatkan produktivitas jurnalis.
“Jadi boleh dibilang, Kabar Grup Indonesia melalui Kabar Bursa, Kabar Makassar dan Kabar Jawa, adalah pionir dalam transformasi AI di newsroom,” tegas Uslimin yang akrab disapa Usle.
Pameran Foto “Wajah Timur dalam Lensa AI”
Setelah sesi pembukaan, perayaan berlanjut dengan peluncuran pameran foto bertajuk “Wajah Timur dalam Lensa AI”.
Pameran ini menampilkan karya fotografer Harian Fajar, Tawakal Basri, yang merekam kehidupan masyarakat di kawasan timur Indonesia, khususnya Makassar.
Karya-karya tersebut kemudian diproses menggunakan teknologi AI untuk menghadirkan perspektif visual yang berbeda.
Pengunjung mendapat kesempatan melihat langsung perbandingan antara hasil fotografi murni dan hasil yang telah diproses dengan kecerdasan buatan.
Banyak pengunjung mencatat adanya keunikan sekaligus kelemahan dari karya tersebut, seperti detail yang tidak sesuai, ketidaktepatan visual, hingga munculnya halusinasi AI.
Mes

ki demikian, pameran ini dianggap mampu memperlihatkan potensi AI dalam memperkaya seni visual, bukan sekadar menggantikannya.
Talkshow Publik: Jurnalisme Berkualitas di Era AI
Agenda utama pada hari pertama HUT ke-16 KGI ditutup dengan talkshow publik berjudul “Jurnalisme Berkualitas di Era AI”.
Diskusi ini dipandu Redaktur Pelaksana Kabar Makassar, Ardiyanti, dan menghadirkan dua pembicara utama, yakni Luca Cada Lora, peneliti literasi AI yang bergabung secara daring, serta Adi Prast, Direktur Konten Digital dan Multimedia KabarBursa.com, yang hadir langsung di Makassar.
Luca Cada Lora dalam paparannya menekankan pentingnya literasi AI, tidak hanya untuk kalangan media, tetapi juga masyarakat umum.
Menurutnya, pemahaman yang tepat mengenai AI akan menentukan bagaimana teknologi ini dimanfaatkan secara etis dan bermanfaat.
Sementara itu, Adi Prast menjelaskan bagaimana KGI sudah mulai mengoptimalkan AI dalam produksi konten multimedia.
Ia mencontohkan integrasi AI dalam berbagai tahap, mulai dari otomasi riset data, penyusunan draft awal, hingga penyajian konten yang lebih interaktif bagi pembaca.
Studi kasus dari KabarBursa.com menjadi gambaran konkret bagaimana penerapan AI telah membantu mempercepat kerja redaksi tanpa mengorbankan kualitas jurnalistik.
AI sebagai Praktik Nyata, Bukan Wacana
Rangkaian perayaan HUT ke-16 KGI tidak hanya berhenti pada seremonial, tetapi juga menunjukkan bukti nyata transformasi digital yang sedang berjalan.
Kehadiran AI di newsroom KGI telah menjadi praktik sehari-hari, dan langkah ini ditegaskan akan terus diperluas ke seluruh jaringan media di bawah naungan KGI Network.
Dengan momentum perayaan ini, KGI menegaskan posisinya sebagai pelopor dalam pemanfaatan kecerdasan buatan untuk memperkuat jurnalisme di Indonesia.
Transformasi yang dilakukan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang menjaga harapan agar jurnalisme tetap berkualitas, relevan, dan berpihak pada publik di tengah derasnya perubahan digital.***