
KabarJawa.com – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan bahwa kenaikan harga bahan baku plastik di pasar global tidak memengaruhi stabilitas harga komoditas bahan pokok di dalam negeri.
Penegasan ini disampaikan untuk merespons kekhawatiran masyarakat mengenai potensi lonjakan harga pangan akibat naiknya biaya kemasan plastik.
Sekretaris Badan Pangan Nasional, Sarwo Edy, menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik tidak memiliki korelasi langsung dengan pembentukan harga bahan pokok.
Menurutnya, biaya plastik merupakan komponen terpisah yang tidak memengaruhi harga dasar komoditas di tingkat pedagang.
Mekanisme Pembentukan Harga di Pasar
Dalam koordinasi dengan para produsen, Bapanas mengonfirmasi adanya kenaikan harga plastik, namun hal tersebut dipastikan tidak menyentuh harga pangan.
Sarwo Edy menyebutkan bahwa penggunaan plastik dalam transaksi jual beli bersifat opsional dan bukan merupakan komponen utama biaya barang.
“Pedagang membeli daging sapi, misalnya, yang dihitung hanya harga dagingnya saja. Penggunaan plastik adalah pilihan bagi pembeli, bahkan masyarakat bisa membawa kantong sendiri. Jadi, biaya plastik terpisah dan tidak memengaruhi harga komoditas,” ujar Sarwo Edy dalam keterangannya, Jumat (3/4/2026).
Faktor Geopolitik dan Rantai Pasok Global
Kenaikan harga plastik saat ini dipicu oleh dinamika geopolitik internasional yang melibatkan negara-negara besar seperti Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Ketegangan di Timur Tengah tersebut berdampak pada terhambatnya distribusi dan pasokan biji plastik yang merupakan bahan dasar industri kemasan dunia.
Sarwo Edy tidak menampik bahwa situasi global tersebut menekan rantai pasok bahan baku industri di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Meski demikian, pemerintah menilai dampak tersebut masih terlokalisasi pada sektor industri kemasan dan belum mengganggu sektor perdagangan pangan secara luas.
Stabilitas BBM Jadi Penentu Biaya Distribusi
Salah satu faktor kunci tetap stabilnya harga pangan di tengah tekanan global adalah terjaganya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri.
Stabilitas harga energi ini dinilai berhasil menekan ongkos angkut dan biaya distribusi logistik pangan nasional.
“BBM kita tidak naik. Karena BBM stabil, ongkos angkut tidak naik sehingga biaya distribusi tetap terkendali. Kondisi ini sangat membantu dalam stabilisasi pasokan pangan ke berbagai daerah,” tegas Sarwo Edy.
Langkah Koordinasi Pemerintah
Sebagai langkah antisipatif, Badan Pangan Nasional terus menjalin koordinasi dengan produsen plastik untuk mencari solusi agar bahan baku kemasan tetap tersedia dengan harga terjangkau.
Upaya penguatan rantai pasok dalam negeri terus dilakukan guna meminimalkan ketergantungan pada fluktuasi pasar global.
Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau pergerakan harga komoditas di pasar tradisional maupun modern.
Fokus utama saat ini adalah memastikan pemisahan antara biaya kemasan dan harga pokok barang tetap terjaga agar daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pangan tidak terganggu.