
KabarJawa.com– Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan pada Senin (7/12). Gunung api paling aktif di Indonesia itu meluncurkan awan panas guguran sejauh 1,5 kilometer ke sektor barat daya.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan bahwa awan panas terjadi pada pukul 15.48 WIB dengan amplitudo maksimum 13 mm dan durasi 131,5 detik.
Luncuran awan panas mengarah ke hulu Kali Boyong, sementara angin bertiup ke timur sehingga potensi sebaran abu bergerak menjauhi area luncuran.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menegaskan bahwa peristiwa ini berada dalam konteks aktivitas Merapi yang masih tinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Pihaknya memantau suplai magma yang masih berlangsung dan kondisi ini dapat memicu awan panas guguran dalam wilayah potensi bahaya.
“Kami meminta masyarakat terus mematuhi rekomendasi resmi dan tidak beraktivitas di zona rawan,” tuturnya.
Arah Bahaya Masih Sama
Laporan MAGMA-VAR periode pengamatan 08 Desember 2025 pukul 06.00–12.00 WIB menggambarkan suasana Merapi yang terkesan tenang namun menyimpan potensi bahaya.
Cuaca mendung, angin bertiup perlahan ke timur, dan suhu berkisar 22,5–25,3 derajat Celsius. Di balik kabut, asap kawah putih bertekanan lemah muncul setinggi 50 meter—tanda khas aktivitas magmatik yang masih berlangsung.
Dalam rentang enam jam itu, seismograf merekam 21 kali gempa guguran dan 10 kali gempa hybrid. Aktivitas kegempaan ini menegaskan bahwa pergerakan magma terus berproses dan memberi energi bagi kemungkinan awan panas berikutnya.
BPPTKG memperbarui rekomendasi bahaya dengan penekanan pada sektor selatan–barat daya. Potensi guguran lava dan awan panas dapat menjangkau sungai Boyong hingga 5 km, sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km.
Sementara itu, sektor tenggara juga menjadi perhatian terutama sungai Woro hingga 3 km dan sungai Gendol hingga 5 km. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material dapat mencapai radius 3 km dari puncak.
Agus Budi Santosa meminta masyarakat tetap waspada khususnya saat hujan turun. Bahaya lahar dan awan panas guguran dapat meningkat drastis ketika curah hujan tinggi.
“Kami imbau seluruh warga dan relawan tidak memasuki daerah potensi bahaya,” tegasnya.
Status Merapi Siaga Level III
BPPTKG menyediakan kanal pemantauan data Merapi secara real time melalui Live Stream Merapi dan saluran WhatsApp resmi Badan Geologi.
Langkah ini membantu masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengambil keputusan cepat bila terjadi peningkatan aktivitas.
Tingkat aktivitas Merapi saat ini tetap berada pada Siaga (Level III), status yang berlaku sejak November 2020. Selama status ini berlangsung, semua kegiatan di radius bahaya harus dihentikan.
Aktivitas Merapi pada 7–8 Desember menegaskan bahwa gunung ini masih berada dalam fase erupsi yang dinamis. Awan panas guguran sejauh 1,5 km menjadi pengingat bahwa potensi bahaya tetap nyata.
BPPTKG, PVMBG, dan Badan Geologi terus memantau dengan ketat, sementara masyarakat diharapkan mengikuti informasi resmi dan tidak mengambil risiko yang tidak perlu. (ef linangkung)