
Kabarjawa – Bencana tanah gerak dan longsor yang melanda Dusun Depok, Desa Ngrandu, Kecamatan Suruh, Kabupaten Trenggalek telah menyebabkan kerusakan parah pada permukiman warga. Hasil penelitian dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan bahwa lokasi tersebut tidak layak huni dan berisiko tinggi mengalami longsor susulan.
Oleh karena itu, pemerintah daerah tengah menyiapkan langkah relokasi bagi warga terdampak.
Kondisi Tanah Gerak dan Dampaknya
Studi yang dilakukan oleh PVMBG menunjukkan bahwa mahkota longsor di Dusun Depok memiliki lebar sekitar 250 meter dengan panjang mencapai 200 meter. Di titik utama longsor, terjadi penurunan permukaan tanah dengan kedalaman bervariasi antara 1 hingga 6 meter.
Selain itu, retakan tanah yang ditemukan memiliki lebar mulai dari 5 cm hingga 25 meter, sementara di bagian tengah lereng ditemukan retakan pada tanah dan bangunan dengan ukuran 20-40 cm serta amblesan mencapai 30 cm hingga 1 meter.
Akibat fenomena ini, sedikitnya 11 rumah mengalami kerusakan berat, sementara puluhan rumah lainnya dalam kondisi terancam. Tidak hanya permukiman, jalan desa serta lahan pertanian warga juga terdampak serius akibat pergerakan tanah yang masih aktif.
Ancaman Longsor Susulan Masih Tinggi
PVMBG mengingatkan bahwa lokasi tanah gerak di Trenggalek masih berisiko tinggi mengalami longsor susulan, terutama jika curah hujan terus meningkat. Material longsoran yang masih tersisa di bagian atas lereng bisa memicu bencana lebih besar.
Oleh karena itu, masyarakat yang bermukim di area lereng bawah diminta untuk tetap waspada karena zona ini dikategorikan sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan sedang hingga tinggi.
Rekomendasi PVMBG untuk Relokasi dan Penataan Lahan
Mengingat tingkat ancaman yang tinggi, PVMBG merekomendasikan agar warga yang terdampak segera direlokasi ke tempat yang lebih aman.
Selain itu, pemerintah daerah diimbau untuk melakukan berbagai upaya mitigasi guna mencegah longsor susulan. Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
- Penataan sistem irigasi untuk mengendalikan aliran air dan mengurangi pergerakan tanah.
- Penutupan retakan tanah guna mencegah masuknya air hujan yang dapat memperparah longsor.
- Perbaikan lereng untuk meningkatkan kestabilan tanah.
- Reboisasi dengan tanaman keras agar tanah lebih kokoh dan tidak mudah longsor.
Upaya Relokasi oleh Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Trenggalek saat ini tengah menyiapkan lahan relokasi bagi 119 warga terdampak. Dua lokasi alternatif yang diusulkan berada di RT 16 dan RT 18, masih dalam wilayah Desa Ngrandu.
Namun, karena lokasi tersebut merupakan kawasan milik Perhutani, pemerintah daerah masih melakukan kajian lebih lanjut bersama pihak terkait.
Total luas area yang disiapkan untuk relokasi mencapai 4,9 hektare. Diharapkan proses penyediaan lahan dapat segera diselesaikan agar warga bisa mendapatkan hunian yang lebih layak dan aman.
Bencana tanah gerak dan longsor di Trenggalek telah menyebabkan kerusakan parah dan membuat 119 warga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Dengan kondisi tanah yang tidak stabil dan ancaman longsor susulan yang masih tinggi, PVMBG merekomendasikan relokasi warga ke area yang lebih aman. Pemerintah daerah telah mengambil langkah konkret dengan menyiapkan lahan baru, meskipun masih dalam tahap kajian.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang demi keselamatan bersama.(Kabarjawa)