
Kabarjawa – Kesalahan dalam penulisan aksara Jawa pada gedung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah menjadi perbincangan di media sosial.
Banyak pihak yang menyoroti bagaimana kesalahan tersebut dapat terjadi di institusi pendidikan yang seharusnya memahami tata cara penulisan aksara daerah dengan benar.
Pakar bahasa Jawa, Sucipto Hadi Purnomo, mengungkapkan keprihatinannya atas kejadian ini. Menurutnya, jika sejak awal proses penulisan melibatkan guru bahasa Jawa, maka kesalahan semacam ini bisa dihindari.
Sayangnya, tampaknya aksara Jawa masih lebih sering dijadikan hiasan daripada alat komunikasi yang berfungsi sebagaimana mestinya.
Kesalahan Penulisan yang Mencolok
Salah satu kesalahan paling mencolok terletak pada penulisan kata “Provinsi” dalam aksara Jawa. Posisi taling-tarung dan pangkon yang digunakan tidak sesuai dengan aturan penulisan aksara Jawa yang benar.
Dalam kata “pro”, seharusnya taling berada di depan “pa”, sedangkan tarung ditempatkan setelah aksara tersebut.
Namun, dalam tulisan yang dipasang di gedung Disdikbud, taling-tarung justru diletakkan setelah aksara, membuatnya sulit dibaca.
Selain itu, kesalahan juga terlihat pada penggunaan pangkon yang diletakkan di tengah kata. Seharusnya, pangkon hanya digunakan di akhir kata, bukan di tengah.
Kesalahan mendasar seperti ini menunjukkan bahwa penulisan aksara Jawa belum mendapatkan perhatian serius dari pihak terkait.
Dugaan Penyebab Kesalahan
Sucipto menduga kesalahan ini terjadi karena teks aksara Jawa dibuat secara instan menggunakan aplikasi tanpa memahami kaidah penulisannya.
Seharusnya, aturan dasar dalam penulisan aksara Jawa sudah diajarkan sejak tingkat sekolah dasar, termasuk penggunaan taling-tarung dan pangkon. Namun, dalam kasus ini, kesalahan mendasar justru tetap terjadi.
Ada beberapa kemungkinan penyebab kesalahan ini:
- Sumber referensi yang digunakan hanya berasal dari aplikasi atau Google Translate tanpa verifikasi lebih lanjut.
- Kesalahan dari pihak pemasang tulisan yang tidak memahami aturan aksara Jawa.
- Kurangnya pengawasan dari supervisor yang seharusnya memastikan kebenaran penulisan sebelum pemasangan.
Evaluasi dan Langkah Perbaikan dari Disdikbud Jateng
Setelah kesalahan ini viral, pihak Disdikbud Jateng segera mengambil tindakan dengan mencopot tulisan aksara Jawa yang salah.
Kepala Disdikbud Jateng, Uswatun Hasanah, meminta maaf atas kejadian ini dan berjanji untuk melakukan perbaikan dengan melibatkan ahli bahasa Jawa dalam prosesnya.
Tulisan aksara Jawa tersebut diketahui telah terpasang sejak tahun 2022. Menurut Uswatun, kesalahan ini terjadi karena faktor human error dan kurangnya verifikasi dari ahli sebelum pemasangan dilakukan.
Ke depan, evaluasi menyeluruh akan dilakukan untuk memastikan bahwa tulisan aksara Jawa di berbagai fasilitas publik, termasuk sekolah, museum, dan taman budaya, sesuai dengan kaidah yang benar.
Kasus kesalahan penulisan aksara Jawa di gedung Disdikbud Jateng menjadi pengingat bahwa aksara daerah bukan sekadar hiasan, melainkan bagian dari identitas budaya yang harus dijaga dengan baik.
Kesalahan seperti ini seharusnya bisa dicegah dengan melibatkan tenaga ahli sejak awal dan melakukan verifikasi sebelum pemasangan dilakukan.
Evaluasi yang dilakukan oleh Disdikbud Jateng diharapkan menjadi langkah awal untuk memastikan bahwa aksara Jawa digunakan dengan benar dan dihargai sebagai alat komunikasi, bukan sekadar ornamen.(Kabarjawa)