
KabarJawa.com – Wilayah Kabupaten Pacitan kembali diingatkan akan risiko besar yang mengintai di pesisir selatan Jawa pasca gempa tektonik kuat bermagnitudo M6,2 yang mengguncang pada Jumat (6/2/2026) pukul 01.06.10 WIB.
Belakangan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menekankan satu istilah krusial yang menentukan keselamatan jiwa yaitu Golden Time.
Berdasarkan data BMKG, pusat gempa berada di laut pada jarak 89 km arah Tenggara Kota Pacitan dengan kedalaman 58 km.
Guncangan ini dirasakan sangat nyata di Bantul, Sleman, hingga Pacitan dengan skala IV MMI, serta menjangkau wilayah luas seperti Trenggalek, Wonogiri, hingga Cirebon pada skala III MMI.
Waktu untuk Menyelamatkan Diri
Kalaksa BPBD Kabupaten Pacitan, Erwin Andriatmoko, menjelaskan bahwa Golden Time adalah jendela waktu sempit yang dimiliki masyarakat untuk menyelamatkan diri sebelum gelombang tsunami menyapu daratan. Di Pacitan, waktu yang tersedia dinilai cukup terbatas.
“Kita memiliki 20 menit untuk melarikan diri menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi,” tegas Erwin dalam konferensi pers Jumat, 6 Februari 2026.
“Kabupaten Pacitan hanya memiliki Golden Time 20 menit untuk menyelamatkan diri ketika suatu saat gempa itu disusul oleh potensi Tsunami,” ujarnya.
Dalam durasi yang cukup singkat tersebut, tidak ada pilihan lain bagi warga selain bergerak cepat.
BPBD Soroti Aktivitas Warga di Bibir Pantai Pasca Gempa

Meskipun gempa dini hari tadi dinyatakan tidak berpotensi tsunami, BPBD menyoroti soal aktivitas warga masyarakat di sana.
Pasca guncangan besar, Erwin mengungkap bahwa berdasarkan pantuan di media sosial, masih banyak warga yang justru beraktivitas di pinggir laut.
“Masih ada sebagian warga masyarakat kita yang ketika terjadi gempa besar, masih melakukan aktivitas di pinggir pantai. Kami mengimbau untuk hari-hari yang akan datang ketika terjadi gempa besar, mari kita menjauh dari pantai. Karena kita tidak akan pernah tahu dampak dari kegempaan itu,” ungkap Erwin.
Analisis Gempa Dangkal dan 16 Kali Susulan
Erwin memaparkan bahwa gempa M6,2 ini dikategorikan sebagai gempa dangkal, yang menjelaskan mengapa guncangannya terasa begitu menghentak hingga skala IV MMI. Fenomena ini kemudian diikuti oleh aktivitas tektonik lanjutan yang cukup intens.
“Dan gempa ini diikuti oleh gempa susulan sebanyak 16 kali,” jelasnya.
Kendati demikian, ia kembali memastikan bahwa untuk kejadian dini hari tadi, masyarakat bisa sedikit tenang karena sistem monitoring menunjukkan hasil aman.
“Gempa bumi yang terjadi tidak berdampak tsunami,” katanya.
Tiga Sesar Aktif Intai Selatan Pacitan
Peningkatan eskalasi kegempaan di wilayah Pacitan belakangan ini bukanlah tanpa alasan ilmiah. Merujuk data BMKG, Erwin mengungkapkan bahwa di bawah perairan selatan Pacitan terdapat tiga sesar aktif yang terus bergerak.
Erwin pun meminta warga masyarakatnya untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan.
“Mari kita tingkatkan kewaspadaan karena akhir-akhir ini eskalasi gempa meningkat demikian pesat, dan itu tidak bisa dipungkiri karena berdasarkan informasi dari BMKG, selatan Pacian ada tiga sesar,” ujarnya.
“Sehingga, aktivitas kegempaan di Kabupaten Pacitan lebih tinggi eskalasinya dibanding dengan wilayah yang lain,” lanjutnya.
Warga Diminta Cek Bangunan dan Lapor Kerusakan
Dalam keterangannya, BPBD meminta warga Pacitan untuk mulai mengecek kondisi fisik rumah masing-masing mulai pagi ini.
Jika ditemukan keretakan akibat getaran semalam, warga diminta segera melakukan penguatan bangunan atau melapor ke otoritas terkait.
“Kami mohon untuk laporannya bagi seluruh warga masyarakat yang terdampak kerusakan di rumahnya masing-masing untuk segera melaporkan kepada pihak desa, pihak kecamatan, atau langsung kepada Pusdalops BPBD Kabupaten Pacitan,” imbau Erwin.
Erwin membeberkan bahwa laporan cepat dari masyarakat dibutuhkan agar pemerintah bisa segera merumuskan langkah penanganan dampak bencana secara efektif.
“Percepatan laporan dari Bapak/Ibu sekalian sangat berguna bagi kami untuk merumuskan langkah-langkah lanjutan,” ungkapnya.***