Rombongan Pewayang Gunungkidul jadi Korban Keracunan Massal di Klaten, Sang Dalang Lolos dari Musibah

Bagikan :
Sang Dalang Lolos dari Musibah/Foto: Dalang Ki Surono Purbo Carito

KABARJAWA- Suasana semarak hajatan wayangan di Desa Karangturi, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, berubah jadi duka mendalam.

Mimpi tentang hiburan rakyat justru berujung musibah massal. Dari balik layar pentas, kisah getir menyelimuti rombongan Sanggar Kalimosodo asal Tegalrejo, Gedangsari, Gunungkidul, yang menjadi salah satu korban dalam tragedi keracunan makanan tersebut.

Sang Dalang Lolos dari Musibah

Dalam tempo kurang dari 24 jam, puluhan warga dan tamu undangan tumbang. Gejala yang sama muncul hampir bersamaan—mual, muntah, diare, demam—dan menciptakan kepanikan di tengah masyarakat.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten mencatat hingga Selasa malam, jumlah korban telah mencapai 127 orang. Satu di antaranya meninggal dunia.

Di tengah kisah sedih itu, sang dalang, Ki Surono Purbo Carito, justru lolos dari musibah. Ia berdiri tenang di tengah keributan dan kabar jatuhnya rekan-rekannya.

Dalang senior ini mengaku hanya menyantap nasi dan kerupuk dari nasi box yang dibagikan panitia. Kebiasaannya yang hanya makan menu sederhana sebelum pentas ternyata menyelamatkan nyawanya.

Baca juga  Mahasiswa UAJY Borong Juara di SLOG Challenge 2026 Vietnam, Buktikan Daya Saing di Bidang Logistik Internasional

“Saya memang hanya makan nasi putih dan kerupuk. Itu sudah kebiasaan setiap mau main wayang. Saya nggak pernah makan yang lain-lain,” kata Surono lirih, Selasa malam (15/04).

Pewayang Gunungkidul jadi Korban Keracunan Massal di Klaten

Namun, nasib berbeda terjadi pada para pengrawit dan sindennya. Sebanyak 15 anggota rombongan Sanggar Kalimosodo merasakan dampak langsung dari makanan yang diduga menjadi sumber keracunan.

Empat sinden harus dilarikan ke rumah sakit. Sebagian lain memilih beristirahat di rumah, menahan lemas dan mual yang tak kunjung reda.

“Mereka muntah, diare, pusing. Ada yang sampai lemas dan harus rawat inap,” ujar Surono.

Menu dalam nasi box dari panitia berisi nasi putih, suwiran ayam, acar, oseng tempe, dan krecek kulit. Dugaan sementara mengarah pada krecek atau acar sebagai penyebab keracunan.

Namun, kesaksian korban justru berbeda-beda. Ada yang mengaku tak menyentuh acar, tapi tetap keracunan. Ada pula yang melewatkan krecek, tapi tetap tumbang.

“Jadi, simpang siur. Ada yang nggak makan acar tetap keracunan. Ada yang nggak makan krecek, juga ikut sakit,” imbuhnya.

Baca juga  Dapur SPPG di Semin Gunungkidul Ditutup Sementara Usai Kasus Keracunan

Surono mengenang, para tamu dan pemain sudah mulai menyantap nasi box sejak siang hari. Lalu, malam hari saat pentas berlangsung, mereka kemali menyantap menu yang sama.

Gejala baru muncul keesokan harinya, sekitar pukul 13.00 WIB. Ketika satu per satu tumbang, barulah ia menyadari bahwa rombongan menjadi bagian dari musibah besar itu.

“Sinden-sinden saya itu yang paling kasihan. Mereka sudah punya jadwal manggung, tapi harus dibatalkan karena masih pemulihan,” ucap Surono, menunduk prihatin.

Empat sinden yang rutin mengiringinya setiap pementasan terpaksa membatalkan jadwal menyanyi dengan grup lain.

Sementara itu, pementasan wayang berikutnya dari Sanggar Kalimosodo baru akan berlangsung pada 9 Mei mendatang.

“Semoga mereka bisa pulih total sebelum tanggal itu,” harapnya.

Hingga Selasa malam, posko darurat keracunan massal di Kecamatan Gantiwarno masih tetap beroperasi. Petugas kesehatan dan aparat gabungan bersiaga untuk mengantisipasi munculnya korban baru.

Mereka telah mengirim sampel makanan untuk uji laboratorium. Masyarakat berharap penyebab pasti segera ditemukan agar peristiwa memilukan ini tidak terulang. (ef linangkung)

Baca juga  Percikan Api Las Nyaris Membakar Habis Pabrik PT Woneel Midas Leathers Gunungkidul

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Roberto Carlos masih hidup pada Agustus 2026. Simak kondisi kesehatan, karier, dan perannya sebagai pemegang saham Fursan Hispania. (Foto: instagram/oficialrc3)
Apakah Roberto Carlos Masih Hidup Agustus 2026? Ini Kondisi Terbaru Legenda Brasil dan Real Madrid