
KabarJawa.com – Ikon bersejarah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Panggung Sanggabuwana, kembali menyita perhatian publik.
Bangunan yang menjulang tinggi di kompleks keraton tersebut baru saja selesai menjalani proses revitalisasi yang dilakukan oleh pemerintah pusat.
Menteri Kebudayaan (Menbud) Republik Indonesia (RI), Fadli Zon, secara langsung meresmikan rampungnya pemugaran bangunan tersebut pada Selasa (16/12/2025) malam.
Dalam kesempatan itu, Fadli mengungkap soal nilai historis bangunan yang didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono III tersebut.
Ia menyebut bahwa Panggung Sanggabuwana pernah memegang rekor sebagai bangunan tertinggi di Pulau Jawa pada masanya dan kini telah menjadi Cagar Budaya Nasional.
Lantas, apa sebenarnya filosofi dan fungsi di balik kemegahan bangunan yang telah berdiri selama lebih dari dua abad ini? Berikut adalah ulasan mendalam mengenai makna Panggung Sanggabuwana bagi Keraton Surakarta.
Filosofi Nama dan Simbolisme
Panggung Sanggabuwana bukan sekadar menara biasa, melainkan sebuah manifestasi spiritual dan identitas kerajaan. Secara etimologis, nama bangunan ini terdiri dari tiga suku kata.
Kata “Panggung” dimaknai sebagai bangunan yang tinggi, “Sangga” berarti menyangga atau menahan dari bawah, dan “Buwono” yang berarti jagat atau alam semesta.
Berdasarkan laman resmi eprints Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), makna Panggung Sanggabuwana adalah sebagai lambang laki-laki.
Simbol ini merepresentasikannya sebagai pembawa benih kehidupan. Perspektif ini juga mengajarkan bahwa untuk mencapai kesempurnaan hidup, seorang manusia hendaknya senantiasa menyelaraskan perbuatan baik secara lahiriah dengan sikap batin yang bersih.
Kemudian makna lain yaitu berkaitan dengan bagian bangunan tersebut yaitu bentuk segi delapan yang juga menyimbolkan delapan arah penjuru mata angin.
Arsitektur Perpaduan Jawa dan Eropa
Panggung Sanggabuwana memiliki desain arsitektur yang sangat khas. Bangunan ini berbentuk segi delapan atau dalam istilah Jawa disebut Hasta Wolu.
Menara ini memiliki ketinggian kurang lebih 30 meter dan terbagi menjadi empat tingkat. Struktur bangunan mencerminkan akulturasi budaya yang kental.
Berdasarkan laman resmi Pemerintah Kota Surakarta, diketahui bahwa dindingnya terbuat dari batu bata yang diplester kokoh, dilengkapi dengan teras-teras yang dipagari balustrade (pagar pembatas). Pengaruh arsitektur Eropa terlihat pada bagian atap.
Atap bangunan ini dirancang dengan denah segi delapan mengerucut yang menggunakan bahan sirap kayu. Desain atap ini bergaya Art Nouveau yang populer di Eropa.
Selain itu, terdapat bukaan atap atau dormer window yang kental dengan nuansa arsitektur Renaissance. Pada bagian puncak menara terdapat area yang disebut “Tutup Saji”.
Dahulu, bangungan ini disebut sebuah lonceng besar yang berfungsi sebagai penanda waktu bagi warga keraton dan sekitarnya.
Fungsi Strategis – dari Meditasi hingga Militer
Sebagai bangunan tertinggi di zamannya, Panggung Sanggabuwana memegang peranan multifungsi yang sangat vital bagi pertahanan dan spiritualitas keraton.
Secara militer, ketinggian menara ini dimanfaatkan oleh pihak keraton untuk mengintai gerak-gerik tentara kolonial Belanda yang bermarkas di Benteng Vastenburg, yang letaknya tidak jauh dari keraton.
Sementara dari sisi spiritual, menara ini berfungsi sebagai tempat semedi bagi Raja. Di tempat ini pula sering dilakukan ritual sesaji untuk memohon keselamatan kerajaan.
Pertemuan dengan Ratu Kidul
Selain fungsi fisik dan filosofis, Panggung Sanggabuwana juga diselimuti oleh kisah yang melegenda di tengah masyarakat Jawa.
Terdapat kepercayaan bahwa menara ini merupakan lokasi sakral tempat bertemunya Raja Keraton Surakarta dengan penguasa laut selatan, Kanjeng Ratu Kencana Hadisari atau yang lebih dikenal sebagai Nyi Roro Kidul.
Pertemuan gaib ini dipercaya sebagai bentuk hubungan spiritual untuk menjaga kedaulatan dan ketentraman kerajaan.
Hingga kini, Panggung Sanggabuwana tetap berdiri kokoh sebagai saksi bisu perjalanan sejarah panjang kebudayaan Jawa di Surakarta.***