
KabarJawa.com – Kabar duka menyelimuti dunia pendakian Indonesia di awal tahun 2026 ini. Syafiq Ridhan Ali Razani, seorang pendaki muda berusia 18 tahun, ditemukan meninggal dunia setelah sempat dilaporkan hilang selama lebih dari dua pekan atau tepatnya 17 hari di Gunung Slamet, Jawa Tengah.
Siswa kelas XII SMAN 5 Kota Magelang tersebut ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa setelah upaya pencarian panjang yang melibatkan tim SAR gabungan dan relawan mandiri.
Berdasarkan pemeriksaan awal, korban diduga telah telah meninggal sekitar 4 hingga 5 hari sebelum akhirnya ditemukan oleh tim pencari.
Lantas, apa sebenarnya penyebab dan bagaimana kronologi lengkap peristiwa memilukan ini? Berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut penjelasannya.
Diduga Hipotermia
Berdasarkan kabar yang beredar, penyebab meninggalnya Syafiq diduga akibat hipotermia. Hipotermia sendiri merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika suhu inti tubuh manusia turun drastis di bawah 35 derajat Celcius.
Di gunung yang bersuhu dingin ekstrem, kondisi ini sangat mematikan. Ketika suhu tubuh turun, organ vital seperti jantung dan sistem saraf tidak dapat bekerja dengan normal.
Jika tidak segera ditangani dengan penghangatan, hipotermia akan memicu kegagalan fungsi jantung dan sistem pernapasan, yang pada akhirnya berujung pada kematian.
Kronologi Awal Kejadian
Perjalanan Syafiq bermula pada Sabtu, 27 Desember 2025. Ia melakukan pendakian bersama rekannya, Himawan Choidar Bahran, warga Secang, Kabupaten Magelang.
Keduanya memilih jalur pendakian via Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Kepada pihak keluarga, Syafiq sempat berpamitan bahwa pendakian ini akan dilakukan dengan sistem tektok (naik-turun langsung tanpa menginap/camping). Ia menjanjikan akan turun dan pulang pada hari Minggu sore.
Namun, takdir berkata lain. Hingga Minggu malam, keluarga tak kunjung menerima kabar kepulangan Syafiq.
Terpisah hingga Salah Jalur
Petunjuk awal keberadaan mereka mulai terkuak pada Selasa, 30 Desember 2025. Saat itu, Himawan (rekan Syafiq) ditemukan oleh pendaki lain di sekitar Pos 5 dalam kondisi lemas dan duduk sendirian. Himawan kemudian berhasil dievakuasi, dirawat, dan kondisinya membaik.
Dari keterangan Himawan, diketahui bahwa mereka berdua terpisah di sekitar Pos 5. Kala itu, Himawan mengalami kram kaki yang parah sehingga tidak sanggup melanjutkan perjalanan.
Dalam situasi genting tersebut, Syafiq berinisiatif turun sendirian mendahului rekannya dengan niat mulia: mencari bantuan untuk menyelamatkan Himawan.
Sayangnya, niat baik itu justru menjadi awal hilangnya jejak Syafiq. Berdasarkan informasi dari pendaki lain yang sempat berpapasan, Syafiq terlihat di sekitar Pos 3. Ia dikabarkan mengambil jalur ke arah kanan karena menganggap jalur tersebut lebih aman saat kondisi hujan.
Nahas, jalur yang dipilih Syafiq tersebut bukanlah jalur resmi pendakian. Ia diduga tersesat memasuki jalur yang keliru hingga akhirnya menghilang tanpa jejak.
Penemuan Jenazah di Hari ke-17
Operasi SAR resmi sempat digelar dan akhirnya ditutup pada Rabu (7/1/2026) karena tidak membuahkan hasil. Namun, semangat solidaritas para relawan tidak padam.
Pencarian dilanjutkan secara mandiri mulai Jumat (9/1/2026) dengan menyisir jalur Bambangan Purbalingga dan Baturraden Banyumas.
Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil pada Rabu, 14 Januari 2026. Syafiq ditemukan di area lereng puncak sebelah selatan Gunung Slamet, tepatnya di antara jalur Gunung Malang dan Baturraden.
“Alhamdulillah Survivor atas nama Syafiq Ridhan Ali Razan ditemukan dalam kondisi Meninggal Dunia (MD), di daerah lereng puncak sebelah selatan antara jalur Gunung Malang dan Baturraden,” tulis keterangan resmi akun Basecamp Bambangan Purbalingga, @slametviabambangan, dilansir KabarJawa.com pada Kamis, 15 Januari 2026.
Penemuan ini sekaligus mengakhiri operasi pencarian panjang tersebut. Jenazah Syafiq kemudian dievakuasi untuk diserahkan kepada pihak keluarga guna dimakamkan dengan layak.***