
KabarJawa.com – Baru-baru ini, warga masyarakat Grobogan dihebohkan dengan kondisi terkini Api Abadi Mrapen. Pasalnya, ikon wisata legendaris yang dipercaya telah menyala selama ratusan tahun itu dilaporkan padam.
Fenomena ini kemudian membuat kecewa banyak wisatawan yang sudah jauh-jauh datang ke lokasi. Rupanya, istilah “tiada yang abadi” benar-benar terjadi pada situs budaya yang sering digunakan untuk pengambilan api obor pekan olahraga nasional (PON) hingga Waisak tersebut.
Pihak berwenang juga telah mengungkap bahwa padamnya api Mrapen kali ini disebabkan oleh masalah teknis pada jalur gas alamnya.
Bagi Anda yang ingin memahmai lebih dalam soal fenomena ini, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut adalah kronologi lengkapnya.
Kronologi Padamnya Api
Berdasarkan kabar yang beredar, petugas dan warga sekitar awalnya menduga kondisi ini disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Grobogan.
Padam Per 1 Januari 2026
Kemudian, tepat pada awal tahun baru, 1 Januari 2026, dilaporkan bahwa tidak ada lagi semburan api yang tampak dari titik pusatnya.
Penata Layanan Operasional Api Abadi Mrapen, Annas Rofiqi tak lama ini mengungkap bahwa pihaknya juga memutuskan untuk menggratiskan tiket masuk (retribusi) selama api belum menyala kembali.
Lebih lanjut, ia kemudian menambahkan bahwa pihaknya telah berhenti menarik retribusi sejak tanggal 1 Januari, dimana biasanya sebesar Rp 2.500 per orang
Pemeriksaan Dinas ESDM pada 3 Februari 2026
Setelah sebulan padam, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah melakukan pemeriksaan mendalam pada 3 Februari 2026.
Hasilnya, padamnya api bukan semata-mata karena hujan, melainkan adanya sumbatan lumpur. Sumbatan ini menghalangi aliran gas dari perut bumi menuju permukaan.
“Sekarang posisinya tersumbat oleh lumpur, nah ini kan harus ditreatment supaya gasnya bisa kembali normal,”ujar EBTKE Dinas ESDM Jateng, Dwi Suryono pada Selasa, 3 Februari 2026.
Upaya Tindak Lanjut (Sekarang)
Saat ini, dinas terkait tengah berupaya melakukan pembersihan lumpur agar gas bisa kembali mengalir.
Sementara itu, diketahui bahwa berdasarkan penelitian tenaga ahli, secara kandungan gas di tempat wisata tersebut masih melimpah.
“Nanti sumur diflushing, dibersihkan kembali supaya lumpur-lumpur tadi yang menyumbat itu bisa terangkat, gasnya bisa mengalir kembali,” ungkap Dwi Suryono.
“Dari penelitian tenaga ahli, gasnya masih cukup melimpah, cukup banyak,” lanjutnya.
Bukan Kali Pertama Terjadi
Kejadian ini seolah menjadi de javu. Sebab, sejarah mencatat bahwa Api Abadi Mrapen pernah mengalami nasib serupa beberapa tahun silam.
Lebih tepatnya pada September 2020 dimana Api Mrapen pernah padam total. Setelah mati selama enam bulan, api berhasil dinyalakan kembali.
Berdasarkan laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, diketahui bahwa Gubernur Jawa Tengah kala itu, Ganjar Pranowo memimpin proses penyalaan kembali api tersebut pada Selasa (20/4/2021) setelah tim ahli geologi berhasil memperbaiki jalur gasnya.
Mengapa Bisa Padam?
Secara ilmiah, Api Abadi Mrapen adalah fenomena geologi di mana gas alam bocor dari dalam tanah dan tersulut api. Lokasi ini berada di zona stratigrafi lembah Randublatung (zona depresi bertekanan tinggi).
Api bisa padam jika saluran gas tersumbat (oleh lumpur atau pergeseran tanah). Selain itu juga karena cadangan gas di kantong bawah tanah menipis atau habis.
Sejarah dan Mitos Api Abadi Mrapen
Sebagai informasi, masyarakat meyakini api ini muncul dari bekas tancapan tongkat Sunan Kalijaga. Konon, saat itu Sunan Kalijaga sedang mencari sumber air untuk prajuritnya.
Lubang pertama yang ditancapkan justru mengeluarkan api (Mrapen), sedangkan tancapan kedua di lokasi berbeda mengeluarkan air bersih (Sendang Dudo).
Sementara, selama puluhan tahun, api di sana sering kali dijadikan untuk upacara Waisak hingga berbagai event olahraga seperti PON hingga Asian Games 2018.
Padam Sejak Awal Tahun
Jadi, kronologi Api Abadi Mrapen padam bermula pada 1 Januari 2026. Hal ini berdasarkan penuturan pihak operasional Api Abadi Mrapen, Annas Rofiqi yang mana retribusi wisata juga dihentikan sementara karena tidak adanya sumber api.
Selain itu, kini diketahui bahwa padamnya api tersebut akibat saluran gas yang tersumbat lumpur. Dan hingga kini, pihak berwenang tengah berupaya untuk perbaikan agar ikon Jawa Tengah tersebut dapat berkobar kembali.***