
KabarJawa.com – Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, memiliki bentang perbukitan yang membuat persawahan di sejumlah wilayahnya dicetak mengikuti kontur lereng dengan sistem terasering.
Salah satu kawasan yang layak diperhatikan adalah Kecamatan Bener, terutama wilayah perbukitan yang memiliki hamparan sawah dan lanskap pedesaan.
Sawah terasering di Purworejo pun bukan sekadar lanskap untuk difoto. Sistem bertingkat ini berkaitan dengan cara petani mengelola lahan miring sekaligus mengendalikan aliran air dan erosi.
Data BPS dan kajian pertanian menunjukkan bahwa penggunaan terasering memang berkaitan erat dengan karakter lahan perbukitan.
Lokasi Sawah Terasering di Purworejo
Jika mencari sawah terasering Purworejo, Kecamatan Bener merupakan salah satu kawasan yang paling relevan untuk ditelusuri.
BPS mencatat bahwa kecamatan tersebut memiliki sekitar 1.451,92 hektare lahan sawah, atau 15,43 persen dari total wilayahnya.
Kajian yang sama menyebut sebagian sawah di wilayah Bener berada di dataran tinggi dan menggunakan sistem terasering.
BPS Kabupaten Purworejo juga menerbitkan Kecamatan Bener Dalam Angka 2025 yang memuat data geografi, sosial, dan pertanian wilayah tersebut.
Salah satu kawasan pedesaan yang bisa dijadikan titik awal penelusuran adalah Desa Karangsari dan kawasan Krandon di Kecamatan Bener.
Kawasan tersebut dikenal memiliki persawahan dan berada dalam bentang perbukitan Bener.
Namun, perlu dicatat, sawah terasering di Bener bukan satu objek wisata resmi dengan satu pintu masuk atau satu nama destinasi.
Karena itu, pengunjung sebaiknya tidak menganggap setiap lahan sawah sebagai tempat wisata.
Sebagian besar merupakan lahan pertanian milik warga yang tetap digunakan untuk kegiatan produksi.
Kapan Waktu Terbaik Berburu Foto Sawah Terasering?
Tidak ada waktu pasti untuk mendapatkan sawah terasering yang paling hijau karena kondisi tanaman mengikuti siklus tanam dan panen petani.
Tapi jika ingin berburu foto, waktu pagi sekitar pukul 06.00–09.00 atau sore 15.30–17.30 bisa menjadi pilihan karena cahaya lebih lembut.
Pada waktu-waktu tersebut, sawah biasanya tampak hijau setelah masa tanam, sedangkan menjelang panen warnanya berubah keemasan.
Sebelum berangkat, wisatawan juga sebaiknya mengecek prakiraan cuaca BMKG untuk wilayah tujuan karena kondisi cuaca dapat berubah, terutama di kawasan perbukitan.
Musim kemarau umumnya membuat jalan dan pematang lebih mudah dilalui, tetapi bukan berarti hujan sama sekali tidak turun.
Sebaliknya, saat musim hujan, pemandangan bisa lebih hijau, tetapi pematang dan jalan tanah cenderung lebih licin sehingga wisatawan perlu lebih berhati-hati.
Kenapa Banyak Sawah di Purworejo Menggunakan Sistem Terasering?
Sebagian wilayah utara dan timur Purworejo memiliki karakter perbukitan. Penelitian mengenai Kecamatan Bener menunjukkan wilayah tersebut memiliki bentuk lahan perbukitan dan kondisi lereng yang membutuhkan pengelolaan khusus.
Pada lahan miring, air hujan lebih mudah mengalir mengikuti lereng. Jika aliran permukaan terlalu cepat, tanah dapat tererosi dan unsur hara ikut terbawa.
Karena itu, terasering digunakan untuk memecah panjang lereng dan memperlambat aliran permukaan.
Kementerian Pertanian menyebut beberapa manfaat terasering adalah mengurangi erosi tanah, meningkatkan infiltrasi air, menjaga unsur hara tanah, meningkatkan kestabilan lereng, memaksimalkan pemanfaatan lahan miring, dan
mendukung kegiatan pertanian di wilayah perbukitan.
Kajian Balai Penelitian Tanah juga menunjukkan bahwa lahan pertanian dataran tinggi memiliki risiko erosi yang perlu dikendalikan melalui teknik konservasi tanah dan air.
Arah bedengan yang mengikuti kontur, misalnya, dapat membantu mengendalikan aliran permukaan dan erosi.
Tips Menikmati Sawah Terasering Purworejo dengan Aman
Lanskap sawah di perbukitan memang menarik untuk dijelajahi, tetapi pengunjung perlu mengingat bahwa area tersebut merupakan lingkungan pertanian dan memiliki risiko medan. Beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan:
- Datang ketika cuaca relatif cerah. Hindari memasuki area lereng ketika hujan deras atau setelah hujan berkepanjangan. Tanah yang jenuh air dapat meningkatkan risiko longsor.
- Jangan berdiri di tepi lereng atau pematang yang rapuh. Pematang sawah bukan jalur wisata yang dirancang untuk menampung banyak orang.
- Gunakan alas kaki dengan daya cengkeram baik. Sepatu atau sandal dengan sol antiselip lebih aman ketika harus melewati tanah, batu, atau pematang.
- Jangan menerobos lahan pertanian tanpa izin. Sebagian sawah merupakan lahan produktif milik warga. Jika ingin mengambil foto dari dekat, mintalah izin kepada pemilik atau petani setempat.
- Hindari memaksakan perjalanan saat muncul tanda bahaya. Retakan tanah, tanah bergerak, aliran air yang berubah, atau longsoran baru merupakan tanda untuk menjauh dari lereng.
- Periksa prakiraan cuaca sebelum berangkat. Informasi resmi BMKG dapat menjadi acuan untuk menentukan waktu perjalanan.
- Jangan mengejar foto sampai ke lokasi berbahaya. Pemandangan dari jalan desa atau titik yang aman tetap bisa menjadi pilihan. Keselamatan lebih penting daripada mendapatkan satu sudut foto.***