Festival Garam Memetri Kawitane Uyah Angkat Tradisi dan Pengetahuan Petani Garam Desa Dasun

Bagikan :
Festival Garam Memetri Kawitane Uyah di Desa Dasun menghadirkan seni, tradisi, pengetahuan lokal, dan isu petani garam.
Festival Garam Memetri Kawitane Uyah di Desa Dasun menghadirkan seni, tradisi, pengetahuan lokal, dan isu petani garam.

Rembang, KabarJawa.com – Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, akan menjadi ruang pertemuan antara tradisi, seni, pengetahuan lokal, dan isu keberlanjutan melalui Festival Garam “Memetri Kawitane Uyah” yang berlangsung pada 13-18 Oktober 2026.

Festival yang digagas Komunitas Pusaka Dasun tersebut menjadi bagian dari program Festival Garam sebagai Diseminasi Praktik Kebudayaan dalam Upaya Pemajuan Kebudayaan di Desa Dasun.

Kegiatan ini dirancang untuk menghidupkan, mendokumentasikan, sekaligus menyebarluaskan pengetahuan tradisional masyarakat dalam memproduksi garam rakyat.

Bagi masyarakat Desa Dasun, garam tidak hanya memiliki nilai ekonomi. Aktivitas produksi garam telah diwariskan secara turun-temurun dan berkembang menjadi bagian dari pengetahuan lokal masyarakat pesisir.

Proses tersebut berkaitan erat dengan pengelolaan tambak, air, perubahan cuaca, kondisi lingkungan, hingga kehidupan sosial masyarakat.

Desa Dasun sendiri memiliki perjalanan sejarah panjang sebagai kawasan pesisir. Wilayah ini pernah dikenal sebagai salah satu lokasi penting bagi aktivitas galangan kapal dan pelabuhan.

Potensi budaya yang terus dijaga dan dikembangkan masyarakat kemudian mengantarkan Desa Dasun memperoleh penghargaan sebagai Desa Budaya Tahun 2024 dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Tradisi Garam Rakyat Menghadapi Berbagai Tantangan

Residensi Seni Lukisan Garam 13-16 Oktober 2026 mempertemukan perupa dan petani Dasun. Program “Meneruskan Nasirun” ini menargetkan terciptanya Lukisan Garam Terbesar di Dunia.
Residensi Seni Lukisan Garam 13-16 Oktober 2026 mempertemukan perupa dan petani Dasun. Program “Meneruskan Nasirun” ini menargetkan terciptanya Lukisan Garam Terbesar di Dunia.

Di tengah nilai sejarah dan kebudayaannya, keberlanjutan tradisi produksi garam rakyat kini menghadapi sejumlah persoalan.

Regenerasi petani garam menjadi salah satu tantangan yang muncul karena pekerjaan tersebut dinilai semakin kurang menarik dan kurang menjanjikan bagi generasi muda. Selain itu, pencemaran lingkungan, perubahan serta anomali cuaca, ketidakstabilan harga, hingga tekanan pasar turut memengaruhi keberlangsungan produksi garam rakyat di Desa Dasun.

Baca juga  Akibat Erupsi Gunung Lewotobi, Banyak Penerbangan Internasional ke Bali Terpaksa Dihentikan

Melalui Festival Garam “Memetri Kawitane Uyah”, Komunitas Pusaka Dasun ingin mengajak masyarakat melihat garam dari perspektif yang lebih luas.

Produksi garam tidak hanya dipahami sebagai kegiatan ekonomi, tetapi juga sebagai praktik kebudayaan yang merekam hubungan masyarakat dengan alam. Di dalamnya terdapat pengetahuan ekologis, teknologi lokal, pengalaman lintas generasi, serta identitas masyarakat pesisir.

Festival tersebut juga dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial. Berbagai program yang disiapkan diharapkan dapat menjadi ruang pendidikan publik, dialog lintas disiplin, transfer pengetahuan, dan pertemuan antara petani garam, masyarakat, seniman, peneliti, generasi muda, pelaku budaya, pemerintah, serta masyarakat umum.

Sejumlah kegiatan akan digelar selama festival, antara lain Produksi dan Pameran Lukisan Garam, Residensi Seni, Pembuatan Film Dokumenter, Lomba Menggambar dan Mewarnai, Bedah Buku Pranata Banyu Desa Dasun, Pembukaan Pameran dan Perform Art, Sarasehan Lukisan Garam, Gowes Heritage Dasun, Dialog Garam Rakyat, hingga Lomba Konten Kreatif.

Melalui rangkaian tersebut, pengetahuan tradisional masyarakat diharapkan dapat bertemu dengan gagasan dan praktik baru. Dokumentasi melalui film, catatan residensi, workshop, dan karya seni juga menjadi bagian dari upaya menjaga pengetahuan yang selama ini hidup dalam praktik keseharian masyarakat.

“Lewat festival garam ini, kami mengajak semua pihak untuk merawat warisan pengetahuan tentang garam, sambil serius mendengarkan dan membedah persoalan yang dihadapi para petambak garam saat ini,” kata Ketua Komunitas Pusaka Dasun, Angga Hermansah.

Lukisan Garam sebagai Upaya Merawat Ingatan

Salah satu agenda utama Festival Garam “Memetri Kawitane Uyah” adalah Residensi Seni Lukisan Garam yang berlangsung pada 13-16 Oktober 2026.

Program tersebut mengundang perupa dan pegiat budaya untuk tinggal, belajar, serta bekerja bersama para petani garam Desa Dasun dalam menciptakan karya lukisan.

Peserta residensi akan mempelajari sejarah, tradisi, ekologi, serta kearifan lokal yang berkembang dalam pengelolaan tambak garam di Desa Dasun, Lasem, Rembang.

Dalam proses kreatif tersebut, garam tidak hanya digunakan sebagai material seni. Garam ditempatkan sebagai medium ekspresi yang membawa cerita tentang kehidupan masyarakat pesisir. Sementara itu, tambak menjadi ruang berkarya dan petani garam menjadi mitra sekaligus sumber pengetahuan.

Baca juga  Lupa Username atau Password Akun UM-PTKIN 2025? Ini Solusi Mudahnya

Program ini memiliki makna khusus melalui proyek “Lukisan Garam (Meneruskan) Nasirun”.

Sebelumnya, para petani garam Desa Dasun memiliki gagasan untuk berkolaborasi dengan perupa Nasirun dalam menciptakan sebuah lukisan garam. Gagasan tersebut telah dituangkan Nasirun dalam bentuk sketsa pada 25 Juli 2026.

Setelah Nasirun berpulang pada 1 Agustus 2026, para petani garam Desa Dasun memutuskan untuk meneruskan gagasan tersebut bersama para perupa dan pegiat budaya yang mengikuti program residensi.

Karya tersebut diproyeksikan menjadi Lukisan Garam Terbesar di Dunia, melampaui lukisan Bancaan Rupa yang dibuat pada 2023.

Lebih dari sekadar mengejar karya monumental, lukisan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk merawat ingatan, meneruskan gagasan, serta menyuarakan kehidupan masyarakat petani garam Desa Dasun.

Kurator Lukisan Garam, Eggy Yunaedi, memandang garam bukan hanya sebagai komoditas, melainkan juga medium yang menyimpan jejak sejarah, pengetahuan, dan kehidupan masyarakat pesisir.

“Garam bukan barang baru, berabad-abad sudah mengkristal di bentangan tambak sebelum batas negara digariskan. Garam adalah arsip dan pamflet paling jujur yang menunggu untuk digubah menjadi citra yang bicara,” ujar Eggy Yunaedi.

Merawat Garam sebagai Bagian dari Merawat Kebudayaan

Bagi Komunitas Pusaka Dasun, keberlanjutan garam rakyat tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan kebudayaan masyarakat pesisir.

Karena itu, Festival Garam “Memetri Kawitane Uyah” diharapkan tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga membangun kesadaran publik, memperkuat kapasitas komunitas lokal, serta membuka ruang dialog mengenai masa depan petani dan produksi garam rakyat.

Penyelenggaraan festival ini juga menjadi bagian dari upaya mengimplementasikan semangat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, khususnya dalam perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan unsur kebudayaan lokal.

Dengan memadukan seni, pengetahuan lokal, dokumentasi, pendidikan publik, serta partisipasi masyarakat, Festival Garam “Memetri Kawitane Uyah” diharapkan mampu memperkuat posisi Desa Dasun sebagai salah satu ruang kebudayaan garam rakyat.

Festival tersebut juga diharapkan dapat menjadi contoh bagaimana kebudayaan dapat mengambil peran dalam menghadapi tantangan ekologis dan ekonomi yang dihadapi masyarakat pesisir.

Sepuluh Tahun Perjalanan Komunitas Pusaka Dasun

Komunitas Pusaka Dasun merupakan komunitas yang berdiri sejak 2016 dan bergerak dalam bidang pelestarian serta pemajuan kebudayaan di Desa Dasun, Lasem, Rembang.

Baca juga  SIM Gratis 2025 & Berlaku Seumur Hidup, Apakah Benar? Ini Faktanya

Selama perjalanannya, komunitas tersebut telah menggelar dan terlibat dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Di antaranya Festival Bandeng Mrico pada 2021, Grebeg Tumpeng Pesisiran pada 2023, Bancaan Rupa atau pembuatan Lukisan Garam Terbesar di Dunia pada 2023, Pameran Lukisan Garam Pranata Banyu pada 2024, serta pameran Garam Arthe Fact pada 2024.

Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengaktifkan ruang budaya sekaligus menyebarluaskan pengetahuan lokal yang berkembang di tengah masyarakat Desa Dasun.

Komunitas Pusaka Dasun juga terlibat dalam penerbitan tiga buku yang membahas Desa Dasun, yakni Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya pada 2020, Pemajuan Kebudayaan Desa Dasun pada 2021, dan Pranata Banyu Desa Dasun pada 2026.

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, mengapresiasi kiprah Komunitas Pusaka Dasun yang selama satu dekade ikut berkontribusi terhadap perkembangan kebudayaan dan pengetahuan di desa tersebut.

Komunitas Pusaka Dasun sendiri dikukuhkan oleh Pemerintah Desa Dasun pada 2016. Dengan demikian, penyelenggaraan Festival Garam pada 2026 sekaligus menjadi momentum 10 tahun perjalanan komunitas tersebut dalam berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat Desa Dasun.

“Saya sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Komunitas Pusaka Dasun selama ini. Sepuluh tahun lalu, pada 2016, komunitas ini saya kukuhkan sebagai bagian dari upaya bersama untuk mengembangkan potensi dan kebudayaan Desa Dasun. Selama perjalanan itu, Komunitas Pusaka Dasun telah memberikan warna bagi desa melalui berbagai kegiatan, prestasi, serta upaya pelestarian budaya dan pengembangan ilmu pengetahuan,” kata Sujarwo.

Menurut Sujarwo, keberadaan komunitas yang tumbuh dari masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan.

Pelestarian budaya, menurutnya, tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Proses tersebut membutuhkan kerja yang berkelanjutan, dokumentasi, serta keterlibatan generasi muda agar pengetahuan dan tradisi lokal dapat terus diwariskan.

Melalui Festival Garam “Memetri Kawitane Uyah”, Desa Dasun kembali menempatkan garam sebagai bagian penting dari perjalanan budaya masyarakatnya. Festival ini menjadi ruang untuk menjaga pengetahuan masa lalu sekaligus membicarakan tantangan masa depan yang dihadapi para petani garam dan masyarakat pesisir.***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Messi memimpin Argentina juara Piala Dunia 2022 setelah menang adu penalti atas Prancis dalam final dramatis di Qatar.
Pada Tahun Berapa Messi Memimpin Argentina Meraih Gelar Piala Dunia?
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional