
Kabarjawa – Bagi umat Kristen, Jumat Agung adalah hari yang sangat penting dan penuh makna. Inilah momen di mana Yesus Kristus, yang diyakini sebagai Putra Allah, mengalami penderitaan, wafat di kayu salib, dan kemudian dikuburkan.
Peristiwa ini menjadi inti dari kabar keselamatan yang membawa pengharapan bagi umat percaya di seluruh dunia.
Namun, tidak sedikit orang di luar iman Kristen yang mempertanyakan atau bahkan menyangkal kebenaran sejarah Jumat Agung.
Mereka menyebutnya sebagai mitos atau kisah legenda. Apakah penyaliban Yesus hanyalah cerita dalam Alkitab? Atau benarkah peristiwa tersebut juga tercatat dalam catatan sejarah lain di luar Kekristenan?
Ternyata, jawabannya mengejutkan. Terdapat beberapa sumber sejarah non-Kristen yang mencatat kematian Yesus.
Bukti-bukti ini berasal dari para ahli sejarah dan filsuf yang hidup dekat dengan zaman kehidupan Yesus, dan mereka bukan bagian dari pengikut-Nya. Mari kita lihat 5 sumber tulisan kuno yang menguatkan bahwa Jumat Agung memang benar-benar terjadi.
1. Catatan Sejarawan Yahudi Kuno
Sejarawan terkenal dari kalangan Yahudi, Flavius Josephus, mencatat bahwa Yesus dihukum mati oleh Pontius Pilatus setelah mendapat tuduhan dari para pemuka agama Yahudi.
Ia hidup pada abad pertama dan dikenal akan karya sejarahnya yang cukup rinci mengenai peristiwa-peristiwa besar pada masa itu.
2. Kesaksian Sejarawan Romawi
Cornelius Tacitus, seorang sejarawan Romawi yang sangat dihormati, menulis bahwa Kristus, asal mula nama “Kristen”, telah mengalami hukuman berat pada masa pemerintahan Kaisar Tiberius.
Hukuman tersebut dijatuhkan oleh Pontius Pilatus. Tacitus tidak menulis dari sudut pandang kepercayaan, tetapi murni dari sudut pandang sejarah.
3. Pengakuan Seorang Penulis Yunani
Lucianus dari Samosata, seorang penulis satire asal Yunani, menyatakan bahwa orang Kristen menyembah seorang tokoh yang telah disalibkan.
Meski tulisannya bernada sindiran, ia secara tidak langsung menegaskan keberadaan Yesus dan kematian-Nya melalui penyaliban.
4. Surat Seorang Filsuf Syria
Seorang filsuf bernama Mara Bar-Serapion menulis surat kepada anaknya dan menyebut tentang seorang raja bijak yang dihukum mati oleh bangsa Yahudi.
Ia tidak menyebut nama Yesus secara langsung, namun deskripsinya mengarah kuat pada peristiwa penyaliban.
5. Teks Rabinik Yahudi Kuno
Talmud Yahudi juga memuat referensi singkat mengenai Yesus yang digantung pada malam Paskah. Ini adalah pengakuan tidak langsung tentang kematian-Nya yang terjadi pada waktu yang sangat khas menurut tradisi Yahudi.
Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa penyaliban Yesus bukan hanya keyakinan rohani, tetapi juga peristiwa sejarah yang terdokumentasi.
Bahkan para sejarawan dan pemikir yang bukan pengikut Kristus mencatat kematian-Nya dalam tulisan-tulisan mereka. Ini membuktikan bahwa Jumat Agung bukanlah sekadar kepercayaan, tetapi realitas sejarah yang diakui banyak pihak.
Kini, salib bukan lagi lambang penghukuman, melainkan simbol kasih, pengharapan, dan keselamatan bagi umat manusia.
Jumat Agung menjadi pengingat bahwa kasih yang sejati tidak mengenal batas, dan bahwa sejarah telah mencatat pengorbanan yang menjadi dasar dari iman Kristen.(Kabarjawa)