
KABAR JAWAย – Hujan pertama setelah kemarau panjang kerap membawa kelegaan bagi warga yang terdampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Meski udara terasa lebih segar, air hujan yang turun pada awal musim penghujan belum tentu aman untuk langsung diminum atau digunakan tanpa pengolahan.
Air hujan dapat menangkap partikel debu, polusi kendaraan, dan asap yang melayang di atmosfer. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak karhutla perlu memperhatikan kualitas air sekaligus kondisi udara setelah hujan turun.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa hujan dapat membantu menurunkan partikel pencemar dari udara ke permukaan bumi. Namun, proses tersebut tidak otomatis membuat air hujan layak dikonsumsi.
Adapun fenomena penyapuan partikel dari atmosfer oleh hujan dikenal sebagai washout. Tetesan air menangkap sebagian partikel yang melayang di udara, kemudian membawanya turun bersama air hujan.
Dalam kondisi udara yang tercemar asap karhutla, partikel seperti PM2,5 dan PM10 menjadi perhatian. PM2,5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan, sedangkan PM10 memiliki ukuran lebih besar.
Ketika hujan turun, sebagian partikel tersebut dapat terbawa ke permukaan. Akibatnya, air hujan awal berpotensi mengandung polutan, terlebih jika sebelumnya terjadi pencemaran udara yang cukup tinggi.
Meski demikian, istilah hujan pertama sebagai air yang pasti beracun tidak tepat digunakan secara umum. Tingkat pencemaran air hujan bergantung pada kondisi atmosfer, lingkungan, dan sumber kontaminasi. Air yang tampak jernih pun belum tentu bebas dari zat pencemar.
Hujan juga tidak selalu langsung membersihkan udara secara menyeluruh. Kemampuan hujan mengurangi konsentrasi partikel dipengaruhi intensitas, durasi, serta kondisi cuaca. Gerimis singkat belum tentu cukup untuk menurunkan kadar polutan secara signifikan.
Dan air yang mengalir dari atap dan talang memiliki risiko kontaminasi tambahan dibandingkan air hujan yang ditampung langsung. Permukaan atap dapat menyimpan debu, daun kering, kotoran burung, sisa asap, serta material bangunan.
Saat hujan pertama turun, berbagai kotoran tersebut dapat terbawa menuju tempat penampungan. Karena itu, air dari talang tidak disarankan untuk langsung dikonsumsi tanpa pengolahan yang sesuai.
Masyarakat yang ingin memanfaatkan air hujan dapat melakukan beberapa langkah pencegahan, antara lain membersihkan atap dan talang secara rutin, membuang aliran awal hujan, serta menggunakan sistem penyaringan yang sesuai.
Pengendapan dan penyaringan dapat membantu mengurangi sebagian kotoran, tetapi tidak menjamin seluruh kontaminan hilang.
Untuk air minum, proses pengolahan dan disinfeksi harus disesuaikan dengan jenis pencemarnya. Merebus air dapat membunuh banyak mikroorganisme, tetapi tidak menghilangkan seluruh bahan kimia atau logam berat.
Jika air hujan hendak digunakan secara rutin untuk minum dan memasak, pengujian kualitas air menjadi langkah penting. Air yang terlihat jernih tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator keamanan.
Langit cerah apakah pasti udara aman?
Selain memperhatikan air hujan, masyarakat perlu memantau kualitas udara setelah hujan turun. Langit yang terlihat lebih cerah tidak selalu menandakan bahwa konsentrasi partikel pencemar sudah berada pada tingkat aman.
Bau asap, mata perih, batuk, atau gangguan pernapasan dapat menjadi tanda perlunya mengurangi paparan. Namun, ketiadaan gejala juga tidak menjamin udara bebas polutan.
BMKG menyediakan informasi pemantauan PM2,5 melalui jaringan stasiun pemantauan di sejumlah wilayah. Informasi tersebut dapat menjadi salah satu rujukan masyarakat untuk menilai kondisi udara, selain mengikuti peringatan resmi setempat.
Ketika kualitas udara masih buruk, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit pernapasan.
Masker yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan partikel, tetapi tidak memberikan perlindungan penuh terhadap semua jenis polutan.
Jika muncul sesak napas atau gejala yang memburuk, segera cari pertolongan medis.
Pada akhirnya, hujan pertama dapat membantu mengurangi sebagian polutan di atmosfer, tetapi airnya tidak otomatis aman untuk diminum.
Di wilayah yang baru terdampak karhutla, kewaspadaan terhadap kualitas air dan udara tetap diperlukan meskipun cuaca mulai membaik.***