
Kabar Jawa – Kalau berbicara soal akultursai budaya, Jawa punya berbagai landmark yang menjadi saksi nyata. Di antaranya adalah 5 masjid kuno di Jawa yang jadi saksi akulturasi budaya yang akan dibahas dalam artikel ini.
Masjid kuno di Jawa bukan sekadar tempat ibadah. Di balik atap bertingkat, tiang kayu, gapura bata merah, hingga ukiran pada dindingnya, tersimpan kisah panjang tentang pertemuan budaya lokal, Hindu-Buddha, dan Islam.
Ketika Islam berkembang di Jawa, para penyebarnya tidak serta-merta menghapus tradisi yang sudah hidup di tengah masyarakat.
Sebaliknya, sejumlah unsur budaya setempat diolah menjadi bentuk baru yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Proses inilah yang dikenal sebagai akulturasi budaya.
Jejaknya masih bisa ditemukan di berbagai masjid bersejarah di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Salah satu ciri khas masjid kuno Jawa adalah atap tumpang, yaitu atap bertingkat yang ukurannya semakin mengecil ke bagian atas. Bentuk ini berbeda dari kubah besar yang sering diasosiasikan dengan masjid modern.
Penggunaan atap bertingkat memperlihatkan kesinambungan tradisi arsitektur Nusantara yang telah berkembang sebelum Islam datang.
Dalam bangunan masjid, bentuk tersebut kemudian memperoleh fungsi baru sebagai pelindung ruang salat.
Ciri lainnya adalah soko guru, yakni empat tiang utama yang menopang struktur bangunan. Tiang-tiang kayu ini memperlihatkan keterampilan pertukangan tradisional Jawa sekaligus menjadi bagian penting dari konstruksi masjid.
Berikut lima masjid kuno di Jawa yang menjadi saksi akulturasi budaya Hindu-Buddha dan Islam di tanah Jawa:
1. Masjid Agung Demak
Masjid Agung Demak merupakan salah satu ikon penting sejarah Islam di Jawa. Masjid ini berkaitan erat dengan Kesultanan Demak, kerajaan Islam yang berperan besar dalam perkembangan politik dan keagamaan di pesisir utara Jawa.
Menurut profil resmi Masjid Agung Demak, bangunan ini memiliki riwayat pendirian yang dimulai pada 1466, kemudian mengalami pembangunan kembali pada 1477 dan renovasi pada 1478.
Masjid ini juga tercatat sebagai cagar budaya peringkat nasional berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2015.
Salah satu ciri yang menonjol adalah atap bertingkat dengan bentuk tajug, yang mencerminkan tradisi arsitektur Jawa.
Ruang utamanya ditopang tiang-tiang kayu, sementara tata bangunannya menunjukkan karakter masjid tradisional Nusantara.
Masjid ini juga lekat dengan kisah Wali Songo, termasuk legenda soko tatal yang dikaitkan dengan Sunan Kalijaga.
Menurut cerita yang berkembang dalam tradisi masyarakat, tiang tersebut dibuat dari potongan-potongan kayu yang disatukan.
2. Masjid Menara Kudus
Kalau ingin melihat akulturasi arsitektur secara langsung, Masjid Menara Kudus menjadi salah satu contoh paling menarik.
Kompleks peninggalan Sunan Kudus ini memadukan unsur bangunan Islam dengan bentuk-bentuk arsitektur yang mengingatkan pada tradisi Hindu-Jawa.
Daya tarik utamanya adalah menara bata merah yang menyerupai bangunan candi, lengkap dengan susunan bagian kaki, badan, dan atap. Di area kompleks juga terdapat gapura bercorak arsitektur klasik Jawa.
Data cagar budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebut desain masjid ini sebagai “penggabungan Budaya Hindu dan Budaya Islam”.
Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa unsur lokal bukan sekadar hiasan, melainkan bagian penting dari karakter bangunan.
Masjid Menara Kudus dikaitkan dengan Sunan Kudus, salah seorang anggota Wali Songo yang berperan dalam penyebaran Islam di Jawa.
Pendekatan dakwah yang menyesuaikan diri dengan lingkungan budaya setempat menjadi salah satu konteks penting untuk memahami keunikan kompleks ini.
3. Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Yogyakarta
Bergeser ke Yogyakarta, ada Masjid Gedhe Mataram Kotagede yang berada di kawasan bersejarah Kotagede, Bantul.
Kompleks ini menjadi salah satu peninggalan penting Kerajaan Mataram Islam dan berkaitan erat dengan perkembangan pusat pemerintahan tradisional.
Data resmi JOGJACAGAR mencatat tahun pembangunan masjid pada 1589 M. Bangunannya mempertahankan karakter arsitektur Jawa, termasuk atap tajug tumpang dua dan penggunaan kayu serta bata.
Keunikan lainnya terlihat pada pagar bata merah, gapura, halaman, dan pembagian ruang kompleksnya.
Pagar bata tanpa perekat dan tanpa plester menjadi salah satu ciri yang masih dapat diamati pada bagian kompleks.
Menurut JOGJACAGAR, masjid dan makam di Kotagede merupakan unsur penting dalam tata ruang pusat pemerintahan tradisional.
Pada masa itu, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial dan politik kerajaan.
Perpaduan unsur arsitektur Jawa dengan fungsi keislaman di Kotagede menunjukkan bahwa identitas Mataram Islam berkembang melalui kesinambungan tradisi lokal, bukan dengan memutus seluruh warisan masa sebelumnya.
4. Masjid Mantingan, Jepara
Masjid Mantingan di Jepara menyimpan jejak penting perkembangan Islam sekaligus seni ukir Jawa. Kompleks masjid dan makam ini berkaitan dengan Ratu Kalinyamat serta Sultan Hadlirin pada abad ke-16.
Portal pariwisata resmi Provinsi Jawa Tengah menyebut pembangunan masjid berlangsung pada 1559 M, berdasarkan penafsiran angka tahun pada candra sengkala yang terukir di mihrab.
Sumber yang sama menyebut Chi Hui Gwan yang dikenal sebagai Patih Sungging Badarduwung sebagai arsiteknya.
Keistimewaan Mantingan terletak pada relief batu dengan motif tumbuhan, sulur, dan bentuk dekoratif yang memperlihatkan kekayaan seni ukir setempat.
Ragam hias tersebut memperlihatkan bagaimana keterampilan seni yang berkembang dalam lingkungan budaya Jawa dapat hadir dalam kompleks bangunan Islam.
Unsur dekoratifnya juga kerap dibahas dalam kaitannya dengan tradisi seni Hindu-Jawa dan pengaruh Tiongkok.
5. Masjid Pathok Negoro Mlangi, Sleman
Masjid Pathok Negoro Mlangi di Sleman memiliki peran penting dalam sejarah Kasultanan Yogyakarta. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan agama dan kehidupan masyarakat Muslim di sekitarnya.
Berdasarkan catatan JOGJACAGAR, Masjid Mlangi ditetapkan sebagai masjid Pathok Negoro pada 1758 M. Keberadaannya berkaitan dengan Kiai Nur Iman, tokoh agama yang mengembangkan pengajaran Islam di wilayah tersebut.
Istilah pathok negoro merujuk pada jaringan masjid yang memiliki peran keagamaan sekaligus berkaitan dengan tata wilayah Kasultanan Yogyakarta.
Dalam konteks ini, masjid berfungsi sebagai salah satu penyangga kehidupan spiritual dan sosial kerajaan.
Lingkungan Mlangi kemudian berkembang menjadi kawasan pendidikan Islam dengan banyak pesantren.
Jejaknya pun masih terasa melalui tradisi pengajian dan aktivitas keagamaan yang berlangsung di sekitar masjid.
Kelima masjid tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Islam di Jawa tidak bisa dilepaskan dari lingkungan budaya tempat agama ini berkembang.
Atap tumpang, tiang kayu, gapura, pagar bata, dan relief menjadi bukti pertemuan tradisi lokal dengan kebutuhan keagamaan Islam.
Tata ruang masjid juga memiliki fungsi praktis. Halaman dan serambi dapat menampung kegiatan masyarakat, sedangkan ruang utama menjadi pusat ibadah.
Dalam kompleks kerajaan, masjid bahkan menjadi bagian dari tata ruang pemerintahan dan kehidupan sosial.