
KabarJawa.com– Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul memastikan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SMP tahun 2026 berjalan terstruktur, masif, dan berbasis teknologi.
Sebanyak 73 sekolah yang terdiri atas 47 SMP negeri dan swasta serta 26 MTs negeri dan swasta mengikuti ujian ini dalam dua gelombang berbeda, yakni pada 6–7 April dan 8–9 April 2026.
Pelaksanaan TKA tahun ini tidak hanya menjadi tolok ukur kemampuan akademik siswa, tetapi juga menjadi ujian kesiapan infrastruktur digital di lingkungan pendidikan Kabupaten Bantul.
Disdikpora Bantul mengatur jadwal secara bertahap untuk memastikan seluruh proses berjalan optimal tanpa hambatan berarti.
Gelombang Pertama TKA SMP 2026 Bantul
Disdikpora Bantul mengawali pelaksanaan TKA dengan gelombang pertama pada 6–7 April 2026. Pada tahap ini, hanya satu sekolah yang mengikuti ujian lebih awal, yakni SMP Ali Maksum. Sekolah tersebut memilih jadwal awal karena memiliki agenda internal yang bertepatan dengan gelombang kedua.
Kepala Bidang SMP Disdikpora Bantul, Himawan Sulistyo, menegaskan bahwa pelaksanaan gelombang pertama berlangsung lancar tanpa kendala teknis yang berarti. Tim teknis yang disiapkan sejak awal berhasil memastikan sistem berjalan stabil.
“Untuk gelombang pertama berjalan lancar karena kami juga menyiapkan tim desk IT, sehingga pelaksanaannya terpantau tanpa kendala,” ujar Himawan.
Keberhasilan gelombang pertama menjadi indikator kesiapan Disdikpora dalam menghadapi pelaksanaan skala lebih besar pada tahap berikutnya.
Memasuki gelombang kedua pada 8–9 April 2026, Disdikpora Bantul meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan teknis, terutama terkait pasokan listrik.
Ujian berbasis komputer membuat ketergantungan pada listrik menjadi faktor krusial yang tidak dapat diabaikan.
Disdikpora Bantul langsung mengambil langkah strategis dengan menjalin koordinasi bersama PLN untuk menjaga stabilitas pasokan listrik selama ujian berlangsung.
Selain itu, Disdikpora juga mengimbau seluruh sekolah peserta untuk menyiapkan generator set (genset) sebagai langkah antisipasi.
Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam memastikan pelaksanaan TKA berjalan tanpa gangguan, sekaligus menjaga kredibilitas hasil ujian.
Pelaksanaan TKA tahun ini menggunakan sistem yang terstruktur dalam setiap sesi ujian. Pada hari pertama, siswa mengerjakan soal Matematika, sedangkan hari kedua difokuskan pada Bahasa Indonesia.
Setiap sesi ujian berlangsung dalam tiga tahapan. Peserta memulai dengan 10 menit latihan untuk memahami sistem, kemudian melanjutkan dengan 75 menit pengerjaan soal utama. Setelah itu, siswa mengisi survei karakter selama 20 menit sebagai bagian dari penilaian non-akademik.
Skema ini tidak hanya mengukur kemampuan kognitif siswa, tetapi juga memperhatikan aspek karakter yang semakin menjadi perhatian dalam sistem pendidikan modern.
Kebijakan Khusus di SMP Kesatuan Bangsa
Di tengah pelaksanaan yang seragam, Disdikpora Bantul juga mencatat adanya kebijakan khusus di salah satu sekolah, yakni SMP Kesatuan Bangsa. Sekolah tersebut tidak mewajibkan seluruh siswanya mengikuti TKA.
Kebijakan ini diambil karena sebagian besar siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA di institusi yang sama, yang tidak mensyaratkan nilai TKA dalam proses seleksi.
Meski demikian, pihak sekolah tetap membuka kesempatan bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah lain untuk mengikuti TKA. Disdikpora Bantul memastikan fasilitas tetap tersedia bagi mereka, meskipun jumlah peserta dari sekolah tersebut tidak banyak.
“Meski begitu, siswa yang ingin melanjutkan ke sekolah lain tetap difasilitasi untuk mengikuti TKA, meskipun jumlahnya tidak banyak,” jelas Himawan.
Pelaksanaan TKA 2026 mencerminkan komitmen Disdikpora Bantul dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui sistem evaluasi yang terstandar dan berbasis teknologi.
Dengan melibatkan puluhan sekolah dan ribuan siswa, ujian ini menjadi momentum penting dalam memetakan kemampuan akademik sekaligus kesiapan digital di sektor pendidikan.
Langkah antisipatif, koordinasi lintas sektor, serta fleksibilitas kebijakan menunjukkan bahwa Disdikpora Bantul tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga pada proses yang inklusif dan adaptif.
Melalui pelaksanaan TKA yang tertib dan terukur, Bantul semakin menegaskan posisinya sebagai daerah yang serius dalam mendorong transformasi pendidikan di era digital. (ef linangkung)