
KabarJawa.com – Dalam diskursus spiritualitas Islam, seringkali muncul pertanyaan mengenai apa yang membuat sebuah ibadah diterima di sisi Tuhan. M. Nur Kholis Setiawan, melalui ulasan mendalam terhadap kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari, memberikan perspektif tajam mengenai perbedaan mendasar antara amal yang lahir dari ketamakan batin dengan amal yang muncul dari kebersihan hati.
Fokus utama yang ditekankan adalah bahwa nilai sebuah perbuatan tidak terletak pada tampilan fisiknya, melainkan pada kejujuran niat pelakunya.
Definisi Amal yang Baik
Menurut pemaparan M. Nur Kholis Setiawan, sebuah amal dikategorikan sebagai Khusnul a’mali atau amal yang baik apabila perbuatan tersebut bersih dari segala bentuk pretensi atau penghalang spiritual. Ketulusan ini menjadi syarat mutlak agar sebuah tindakan memiliki bobot di hadapan Allah SWT. M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa amal yang baik adalah amal yang “sepi” dari kepentingan-kepentingan pribadi yang dapat menggugurkan nilai ibadah tersebut.
“Definisi amal yang baik, perbuatan kebaikan yang baik adalah perbuatan atau amal perbuatan yang memang sepi atau jauh dari pretensi atau jauh dari hal-hal yang menghalangi diterimanya amal perbuatan itu,” tegasnya.
Kontras Tajam: Ketamakan vs Kebersihan Hati
Salah satu poin paling krusial yang diangkat oleh M. Nur Kholis Setiawan adalah paradoks kuantitas amal. M. Nur Kholis Setiawan menyatakan bahwa amal yang secara kasat mata terlihat sedikit, namun dikerjakan dengan hati yang bersih, penuh kezuhudan, dan semata-mata karena Allah, akan memiliki nilai yang luar biasa besar. Sebaliknya, amal yang terlihat melimpah secara kuantitas namun didorong oleh hati yang tamak, seperti mengharapkan pujian, pengakuan, atau kepentingan duniawi lainnya, akan menjadi sia-sia dan tidak memiliki arti spiritual.
Ketamakan dalam beramal seringkali muncul dalam bentuk “pamrih” yang halus. M. Nur Kholis Setiawan menekankan bahwa saat melakukan sebuah amal perbuatan, hati harus hadir sepenuhnya hanya untuk Allah. Jika hati tercemar oleh berbagai kepentingan selain Allah, maka amal tersebut kehilangan esensinya sebagai bentuk penghambaan yang murni.
Stabilitas Jiwa sebagai Fondasi Ketulusan
M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa kualitas amal yang baik (Khusnul a’mali) merupakan hasil atau buah dari kondisi jiwa yang stabil (Khusnul akhwali). Seseorang yang memiliki stabilitas jiwa mampu mengelola batinnya dengan sangat baik saat melakukan ibadah, sehingga ia tidak lagi terjebak pada keinginan-keinginan yang bersifat transaksional dengan Tuhan.
“Amal perbuatan yang baik lahir dari kondisi dimana hati itu berhati-hati, mampu memanage dengan sangat baik kondisi kejiwaan juga stabil dalam arti ia mampu dengan sangat baik semata-mata melakukan itu hanya karena Allah bukan karena yang lain,” jelasnya.
Lebih lanjut, M. Nur Kholis Setiawan merinci bahwa ketulusan total berarti seseorang tidak lagi mengejar balasan yang cepat di dunia maupun sekadar mengharapkan pahala di akhirat sebagai motif utama dalam beraksi.
M. Nur Kholis Setiawan menyatakan, “Seseorang sama sekali tidak berharap balasan yang cepat, jadi balasan yang ada di dunia, walau orang ganjaran ajilin… artinya nanti balasan di akhirat”.
Proses Ma’rifatullah dan Peran Tasawuf
Untuk mencapai derajat kebersihan hati tersebut, M. Nur Kholis Setiawan mengajak para penyimak untuk melalui proses pembelajaran batin yang tak kenal henti melalui konsep maqomat atau tingkatan spiritual. Melalui proses ini, seorang hamba akan memperoleh Ma’rifatullah atau pengenalan yang lebih dalam terhadap Allah. Semakin baik pengenalan seseorang kepada Tuhannya, maka hatinya akan semakin luas, batinnya semakin tenang, dan perilakunya akan semakin istikamah.
M. Nur Kholis Setiawan menyimpulkan bahwa tasawuf adalah piranti utama untuk memperhalus budi pekerti dan menghindarkan diri dari “penyakit hati” yang halus, seperti godaan untuk merasa memiliki amal (klaim) atau beribadah karena takut neraka dan ingin surga semata. Pada akhirnya, kebersihan hati adalah sebuah anugerah yang diperoleh melalui ikhtiar yang konsisten untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.