
KabarJawa.com – Bahasa Jawa memang menyimpan keunikan tersendiri. Tak hanya kaya dengan tingkatan bahasa seperti Ngoko, Madya, dan Krama Inggil, tetapi juga memiliki banyak kata yang terlihat mirip bahkan sama dari segi penulisannya, namun sebenarnya memiliki makna yang benar-benar berbeda.
Tak jarang, fenomena ini bisa membuat orang bingung, terutama mereka yang tidak bisa Bahasa Jawa.
Meski begitu, tak jarang pula penutur aslinya pun perlu memperhatikan konteks kalimat supaya tidak salah paham.
Dan dalam percakapan sehari-hari, kata-kata seperti ini sering muncul dan menimbulkan makna ganda yang menarik.
Untuk itu, merangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa contoh kata dalam Bahasa Jawa yang mirip, tetapi ternyata berbeda arti tergantung penggunaannya.
1. Keri
Kata keri dalam Bahasa Jawa bisa memiliki dua makna yang sangat berbeda. Pertama, keri berarti “ketinggalan”, seperti dalam kalimat aku “dompetku keri” yang berarti “dompet aku ketinggalan”.
Namun, dalam konteks lain, keri juga bisa berarti “geli” atau “merasa geli” ketika seseorang digelitik. Jadi, maknanya sangat bergantung pada situasi dan konteks pembicaraan.
2. Geger
Kata geger juga memiliki makna ganda. Dalam konteks pertama, geger bisa berarti “berisik” atau “ramai”, misalnya “ono geger ning kono” yang berarti “ada ramai-ramai di sana”.
Namun, di sisi lain, geger juga bisa bermakna “punggung”. Sehingga, kalimat “gegerku lara” berarti “punggungku sakit”.
3. Ngelih
Kata ngelih juga cukup menarik karena bisa diartikan secara berbeda. Arti pertama adalah “lapar”, seperti dalam kalimat “aku ngelih banget” yang berarti “aku sangat lapar”. Namun, ngelih juga dapat berarti “memindahkan” sesuatu.
4. Keset
Kata keset juga memiliki dua arti yang jauh berbeda. Di satu sisi, keset bisa berarti alat pembersih kaki yang biasa diletakkan di depan pintu.
Namun, dalam konteks lain, keset juga dapat diartikan sebagai “malas” atau “enggan bergerak”, tergantung pada gaya bahasa daerah tertentu.
5. Dodol
Kata dodol sering digunakan dengan dua makna yang tidak berhubungan satu sama lain. Makna pertama adalah “menjual sesuatu”, misalnya dodol sayur berarti “berjualan sayur”.
Sedangkan makna kedua adalah nama makanan manis tradisional dari Jawa, yaitu jenang dodol.
6. Keju
Kata keju tidak hanya berarti makanan dari susu yang biasa dikenal dalam Bahasa Indonesia. Dalam Bahasa Jawa, keju juga bisa berarti “pegal” atau “terasa nyeri pada otot”. Contohnya, “tanganku keju kabeh” berarti “tanganku terasa pegal semua”.
7. Cemeng
Kata cemeng juga memiliki dua arti unik. Dalam Bahasa Krama, cemeng berarti “hitam”, warna yang gelap pekat.
Namun, di sisi lain, cemeng juga bisa berarti “anak kucing”. Jadi, jika seseorang mengatakan “aku nemu cemeng”, bisa jadi ia menemukan seekor anak kucing, bukan sesuatu yang berwarna hitam.
Bahasa Jawa memang kaya akan keunikan dan nuansa makna. Satu kata yang sama bisa mengandung arti berbeda tergantung pada intonasi, konteks, dan daerah penuturnya. Inilah yang membuat Bahasa Jawa begitu menarik untuk dipelajari lebih dalam.***