
KabarJawa.com – Bahasa Jawa dikenal memiliki kekayaan tata bahasa yang luar biasa. Salah satu keunikannya adalah adanya teknik penyambungan dua kata menjadi satu untuk mempersingkat pengucapan, yang disebut dengan Tembung Garba.
Bagi Anda yang sedang mempelajari sastra Jawa atau Tembang Macapat, istilah ini pasti sering terdengar. Namun, apa sebenarnya Tembung Garba itu?
Untuk itu, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut penjelasan lengkapnya.
Pengertian Tembung Garba
Sederhananya, Tembung Garba adalah gabungan dua kata atau lebih yang diringkas menjadi satu kata baru dengan pengurangan jumlah suku kata.
Peleburan kata ini tidak dilakukan secara sembarangan. Terdapat aturan fonetik yang harus diperhatikan, misalnya perangkaian dengan fonem ‘w’, fonem ‘y’, atau perubahan vokal.
Fungsi Tembung Garba
Lantas, mengapa perlu ada singkatan kata-kata tersebut? Jadi, fungsi utama Tembung Garba adalah untuk memenuhi aturan Guru Wilangan (jumlah suku kata per baris) dalam pembuatan Tembang Macapat.
Jika sebuah kalimat terlalu panjang, pujangga akan menggunakan Tembung Garba untuk memangkas jumlah suku kata agar pas dengan aturan tembang.
Selain itu juga untuk mempermudah Pengucapan. Dimana sebuah kalimat bakal terasa lebih mengalir dan ringkas saat diucapkan.
Lebih lanjut, Tembung Garba juga akan memberikan kesan puitis dan indah. Oleh karena itu, Tembung Garba lebih sering bersifat bahasa sastra.
Meskipun bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari, Tembung Garba biasanya hanya diperbolehkan untuk komunikasi dengan teman sebaya atau orang yang lebih muda.
Penggunaan kata-kata ini kepada orang tua dianggap kurang sopan karena sifatnya yang menyingkat dan terkesan santai.
Rumus dan Contoh Tembung Garba
Agar lebih mudah memahaminya, berikut adalah daftar contoh Tembung Garba yang sering digunakan, dikelompokkan berdasarkan pola penggabungannya:
Perubahan Bunyi Vokal
- Narendra = Nara + Indra (Raja)
- Sutendra = Suta + Indra
- Prapteng = Prapta + Ing (Datang di)
- Aneng = Ana + Ing (Ada di)
- Sitinggil = Siti + Inggil (Tanah tinggi)
- Mungging = Mungguh + Ing
Sisipan Bunyi ‘Y’
- Sugyarta = Sugih + Arta (Kaya uang)
- Kalyan = Kalih + Lan (Dan/Dengan)
- Sedyarsa = Sedya + Arsa (Berniat akan)
- Taksyalit = Taksih + Alit (Masih kecil)
- Dhemenyar = Dhemen + Anyar (Suka hal baru)
- Kadya = Kadi + Kaya (Seperti)
Sisipan Bunyi ‘W’
- Jalwestri = Jalu + Estri (Laki-laki dan perempuan)
- Ratwelok = Ratu + Elok
- Dadyawuh = Dadi + Ewuh (Menjadi sungkan/ribet)
- Murweng = Murwa + Ing
Penggabungan Lainnya
- Prawirotama = Prawiro + Utama (Prajurit utama)
- Priyagung = Priya + Agung
- Sireku = Sira + Iku (Kamu itu)
- Yeku = Ya + Iku (Yaitu)
- Sinom = Isih + Enom (Masih muda)
- Sumbangsih = Sumbang + Asih
- Tankocap = Tanpa + Ucap
- Mahameru = Maha + Meru
Teknik Menyambung Dua Kata
Jadi kesimpulannya, Tembung Garba adalah teknik menyambung dua kata menjadi satu dengan mengurangi suku katanya untuk tujuan keindahan sastra maupun efisiensi pengucapan.
Adapun contoh yang paling populer adalah “Aneng” (dari Ana + Ing) dan “Narendra” (dari Nara + Indra).
Sementara itu, kini diketahui pula bahwa memahami Tembung Garba juga merupakan kunci agar siapapun bisa menikmati dan memahami isi dari Tembang-tembang Jawa klasik.***