
Kabarjawa – Ahli kubur menangis, Hari Raya Idulfitri merupakan momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Salah satu ibadah yang dianjurkan dalam menyambut hari kemenangan ini adalah melantunkan takbirTakbir menjadi simbol pengagungan kepada Allah SWT dan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan.
Namun, di tengah tradisi ini, muncul mitos yang menyebutkan bahwa ahli kubur menangis saat mendengar takbiran. Benarkah demikian? Artikel ini akan membahas makna takbiran dan meluruskan persepsi terkait mitos tersebut.
Makna Takbiran dan Keutamaannya
Takbiran pada malam Idulfitri memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk mengagungkan-Nya sebagai bentuk rasa syukur atas hidayah yang diberikan.
Takbir disunnahkan untuk dikumandangkan dengan suara lantang, baik di masjid, rumah, maupun di perjalanan menuju tempat salat Id.
Lafal takbir yang umum dilantunkan adalah:
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil hamdu.
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah. Allah Maha Besar. Segala puji bagi-Nya.”
Takbir ini mencerminkan kebesaran Allah dan mengingatkan umat Islam bahwa segala sesuatu hanya terjadi atas kehendak-Nya. Selain itu, takbiran juga menjadi ajakan bagi sesama Muslim untuk ikut mengagungkan Allah SWT dalam suasana penuh kegembiraan.
Mitos Ahli Kubur Menangis Saat Takbiran
Sebagian masyarakat masih mempercayai bahwa ahli kubur menangis ketika mendengar takbiran karena merindukan keluarga atau menyesali perbuatan mereka di dunia.
Namun, tidak ada dalil sahih yang mendukung klaim ini. Sebaliknya, beberapa ulama menjelaskan bahwa orang yang telah meninggal dunia justru berbahagia jika mendengar keluarganya melakukan amal saleh, termasuk bertakbir.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa amal perbuatan seseorang akan diperlihatkan kepada keluarganya yang telah meninggal. Jika amal itu baik, mereka merasa bahagia, dan jika buruk, mereka merasa sedih.
Ini menegaskan bahwa tangisan ahli kubur bukan karena mendengar takbiran, melainkan karena melihat perilaku buruk yang dilakukan oleh keluarganya yang masih hidup.
Dalil Tentang Sunnahnya Takbiran
Berdasarkan literatur dalam mazhab Syafi’i, bertakbir pada malam Idulfitri adalah sunnah yang dianjurkan. Takbir dapat dilakukan kapan saja selama masih dalam waktu yang ditentukan, baik di rumah, di jalan, atau di tempat umum lainnya.
Bagi laki-laki dianjurkan untuk mengeraskan suara, sementara bagi perempuan cukup melantunkan dengan suara rendah agar tidak terdengar oleh pria non-mahram.
Rasulullah SAW bersabda bahwa mengagungkan Allah dengan takbir, tahlil, dan tahmid pada hari-hari istimewa sangat dicintai oleh-Nya.
Oleh karena itu, memperbanyak takbir pada malam Idulfitri merupakan salah satu cara untuk memperoleh keberkahan dan pahala yang berlimpah.
Takbiran adalah ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Mitos tentang ahli kubur menangis saat mendengar takbir tidak memiliki dasar yang kuat dalam agama.
Sebaliknya, orang yang telah meninggal justru berbahagia jika keluarganya melakukan kebaikan dan ibadah. Oleh karena itu, mari kita manfaatkan momen Idulfitri untuk terus bertakbir, bersyukur, dan memperbanyak amal baik agar mendapat berkah dari Allah SWT.(Kabarjawa)