
Kabar Jawa – Ditengah dunia yang serba mengukur kesuksesan lewat saldo tabungan, deretan aset portofolio dan merk pakaian yang digunakan, pernahkah kita bertanya mengapa ada orang yang hidupnya sangat bersahaja, makan seadanya diteras, namun raut wajahnya memancarkan ketenangan yang luar biasa.
Sebaliknya, tidak sedikit orang dengan penghasilan ratusan juta yang justru hidup dalam kecemasan konstan, takut kehilangan pengaruh, hingga terjebak jeratan utang demi menjaga gengsi.
Mayarakat Jawa punya cara pandang yang unik sekaligus radikal untuk menjawab teka-teki ini melalui adagium legendaris: sugih tanpa bandha.
Falsafah ini membongkar ulang definisi kemakmuran yang selama ini diagung-agungkan peradaban modern. Bagi orang Jawa, menjadi kaya bukan soal seberapa banyak barang yang berhasil dikumpulkan ke dalam lumbung, melainkan seberapa merdeka jiwa seseorang dari ketergantungan terhadap barang-barang tersebut.
Menelisik Makna Sugih Tanpa Bandha: Warisan Luhur Sang Tokoh Visioner
Secara harfiah, ungkapan sugih tanpa bandha tersusun dari dua kata bahasa Jawa: sugih yang berarti kaya raya, dan tanpa bandha yang bermakna tanpa kepemilikan harta benda kasatmata.
Sekilas, rangkaian kata ini tampak seperti paradoks atau kontradiksi yang mustahil. Bagaimana mungkin seseorang ditahbiskan sebagai orang kaya bila ia tidak mengantongi harta?
Jawabannya terletak pada pergeseran lokus kekayaan itu sendiri. Konsep adiluhung ini merupakan buah perenungan mendalam dari seorang cendekiawan besar Nusantara, Raden Mas Panji (R.M.P.) Sosrokartono kakak kandung tokoh emansipasi R.A. Kartini. Sosrokartono dikenal sebagai sosok genius poliglot yang menguasai puluhan bahasa asing dan mengenyam pendidikan tinggi di Belanda pada era kolonial.
Kendati memiliki privilese ningrat dan tawaran karier cemerlang dengan gaji menggiurkan di Eropa, ia secara sadar memilih jalan hidup bersahaja, pulang ke tanah air, dan mendedikasikan sisa usianya untuk mengabdi membantu orang-orang kecil yang membutuhkan pertolongan.
Kajian akademis menunjukkan bahwa ajaran Sosrokartono ini tidak berdiri sendirian, melainkan terangkum dalam satu paket utuh empat laku kepemimpinan dan kematangan jiwa:
- Sugih tanpa bandha (Kaya tanpa bersandar pada harta benda).
- Digdaya tanpa aji (Sakti mandraguna tanpa jimat atau mantra, karena menaklukkan lawan lewat ketulusan budi dan pantang menyakiti hati sesama).
- Nglurug tanpa bala (Menyerbu ke gelanggang tanpa pasukan, sebab medan laga sejati adalah menundukkan hawa nafsu dan keangkuhan diri sendiri).
- Menang tanpa ngasorake (Merengkuh keunggulan tanpa sedikit pun mempermalukan atau merendahkan martabat orang lain).
Ketika ditransformasikan ke dalam tembang kontemporer oleh seniman Sudjiwo Tejo, lirik sugih tanpa bandha dikaji sebagai tangga spiritual etis untuk menggapai kesadaran tertinggi masyarakat Jawa, yaitu manunggaling kawula Gusti. Di titik ini, seseorang yang sugih diartikan sebagai pribadi yang keberadaannya melimpahkan manfaat bagi lingkungan sekitar melalui ikhtiar menanam benih-benih kebaikan (nandur kebecikan).
Kekayaan Materi versus Kekayaan Batin: Belajar Menatap Melampaui yang Kasatmata
Untuk memahami mengapa orang Jawa tidak silau oleh materi, kita perlu menyelami kosmologi pandangan hidup Jawa yang membagi realitas eksistensi ke dalam dua kutub: alam lahir (lair) dan alam batin.
- Alam Lahir (Wadhag): Merupakan wilayah fisik-inderawi yang sifatnya kasar (kasar). Di sanalah letak uang, pakaian mewah, takhta kekuasaan, dan desakan hawa nafsu ragawi. Dunia lahiriah ini dangkal; mengejarnya tanpa kendali hanya akan menjebak manusia pada rasa lapar yang tak pernah kenyang (ngangsa-angsa atau rakus).
- Alam Batin: Merupakan pusat kesadaran hening tempat ditemukannya kebenaran sejati yang bersifat halus (alus). Di ranah inilah terletak kekayaan hakiki manusia Jawa: kelapangan dada, ketajaman nurani, kemampuan introspeksi (mawas diri), dan kedamaian hati (tentrem ing manah).
Dalam sebuah kajian teologis di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), pemaknaan sugih tanpa bandha dieksplorasi secara mendalam untuk membedah relasi manusia dengan kepemilikan duniawi. Kajian tersebut menegaskan bahwa lawan kata sejati dari kekayaan bukanlah kemiskinan, melainkan ketamakan dan kekikiran.
Orang yang hanya menimbun harta tetapi batinnya diselimuti rasa cemas, kikir (owel), dan takut hartanya berkurang, sejatinya sedang menderita kemiskinan mental yang parah. Sebaliknya, orang Jawa mengartikan kata “kaya” dalam cakupan rasa yang sangat luas: sugih sabar (berlimpah kesabaran), sugih kawruh (kaya ilmu pengetahuan), sugih kanca (memiliki banyak sahabat yang tulus), serta sugih pangapura (mudah memaafkan kekhilafan orang lain). Ketika batin sudah kaya dengan kebajikan, manusia tidak lagi membutuhkan tumpukan barang mewah hanya untuk merasa berharga.
Mengapa Status Sosial Tidak Selalu Menentukan Kekayaan Seseorang?
Secara sosiologis, peradaban Jawa mengenal diferensiasi kelas sosial antara kaum bangsawan atau aparatur birokrasi (priyayi) dan rakyat kecil yang bekerja di sektor agraris maupun buruh kasar (wong cilik). Lazimnya, kelas priyayi diasosiasikan dengan kelimpahan akses pendidikan, kekuasaan, dan prestise ekonomi. Akan tetapi, kebudayaan Jawa memiliki kearifan lokal yang meruntuhkan batasan hierarki feodal tersebut saat berbicara mengenai kemuliaan jiwa.
Masyarakat Jawa memegang prinsip kebijaksanaan yang berbunyi: “Giri lusi jalma tan kena kinira”. Secara metaforis, giri berarti gunung dan lusi adalah cacing tanah. Ungkapan ini bermakna seekor cacing yang mampu merayap menaiki puncak gunung tinggi—sebuah peringatan keras agar kita jangan pernah memandang remeh sesama manusia hanya karena penampilannya bersahaja atau strata sosialnya berada di lapisan bawah.
Seseorang yang status ekonominya tampak pas-pasan bisa jadi memiliki derajat kematangan spiritual (kasepuhan) dan keluhuran budi pekerti yang jauh melampaui para bangsawan maupun pejabat berharta melimpah.
Karakter ideal ini tercermin dalam konsep sosok satria pinandita—figur ksatria yang sekaligus berjiwa resi atau pendeta suci. Seorang satria pinandita pantang menggantungkan kehormatan hidupnya pada tiga perangkap duniawi: semat (kekayaan harta), derajat (pangkat kekuasaan), dan kramat (pengaruh privilese politik). Harta dan takhta diposisikan murni sebagai amanah atau instrumen pengabdian, bukan tujuan hidup yang dikejar mati-matian.
Simbolisasi ini hadir nyata dalam seni pertunjukan wayang tradisi, seperti lakon Lumbung Tugu Mas pada ritual Suran di lereng Gunung Merapi. Tokoh Semar ditampilkan sebagai punakawan yang penampilannya sangat sederhana mewakili rakyat jelata, namun sejatinya ia adalah titisan dewa kahyangan tertinggi yang menyimpan mutiara rahasia Sang Pencipta. Semar disegani para raja dan kesatria bukan karena ia bergelimang emas, melainkan karena kemurnian ketulusan batinnya.
Di samping itu, standar martabat manusia Jawa terpatri kuat dalam pedoman moral:
- Ajining dhiri saka lati: Nilai kehormatan diri seseorang dinilai dari kejujuran, kehalusan, dan integritas kata-katanya, bukan dari saldo rekeningnya.
- Ajining salira saka busana: Penghargaan jasmani dinilai dari kepantasan serta kesopanan berbusana yang disesuaikan dengan lingkungan sosial (empan papan), bukan dinilai dari harga busananya yang serba mahal.
Seni Menikmati Cukup: Menemukan Bahagia dalam Kesahajaan
Bagaimana cara orang Jawa mempraktikkan rasa cukup dalam keseharian? Rahasianya tertanam pada sikap hidup samadya (atau sak madya), yakni komitmen batin untuk hidup secara proporsional, wajar, dan secukupnya tanpa tergelincir pada ambisi berlebihan (ngoyak kadonyan).
Tokoh kebatinan Jawa, Ki Ageng Suryamentaram, merumuskan peta kesederhanaan ini melalui panduan etis yang sangat tersohor, yaitu Kaidah Enam-Sa:
- Sabutuhe (sesuai dengan kebutuhan riil).
- Saperlune (digunakan seperlunya saja).
- Sacukupe (mengambil secukupnya).
- Sapenake (menciptakan kenyamanan hati yang wajar).
- Samesthine (bertindak sesuai kepatutan dan kepantasan etis).
- Sabenere (berada di koridor kebenaran moral).
Kesahajaan ini bertumpu pada laku batin narima ing pandum dan rila. Sayangnya, konsep narima sering kali disalahpahami oleh pengamat luar bahkan oleh sebagian masyarakat modern sebagai kepasrahan buta, kemalasan sosial, atau sikap fatalistis yang membuat orang putus asa. Padahal, dalam kajian etnopsikologi dan sosiologi, narima merupakan bentuk kecerdasan emosional dan kematangan batin tingkat tinggi.
Narima bukan berarti berdiam diri menunggu nasib. Makna orisinalnya adalah bekerja giat tanpa dihantui ketakutan atas hasil akhirnya (sepi ing pamrih, rame ing gawe). Setelah segala daya upaya dikerahkan secara halal, manusia Jawa bersikap semeleh atau sumarah: menyerahkan keputusan akhir secara ikhlas kepada kehendak Ilahi dengan penuh kesyukuran. Mereka menyadari hakikat hidup di dunia ini hanyalah sekadar mampir ngombe (singgah sejenak untuk minum); sehingga mengejar materi duniawi seolah-olah akan hidup selamanya adalah kesia-siaan yang mengaburkan arah pulang.
Apakah Filosofi Ini Mengajarkan Sikap Anti-Kekayaan?
Sebuah pertanyaan kritis kerap mencuat: apakah ajaran sugih tanpa bandha membenarkan kemiskinan dan mencela orang yang memiliki aset melimpah? Jawabannya adalah tidak sama sekali.
Budaya Jawa tidak memusuhi harta benda, uang, atau keberhasilan finansial. Dalam temuan penelitian kepribadian sehat di Yogyakarta, salah satu indikator pribadi yang matang (wutuh) justru ditandai oleh produktivitas nyata, daya cipta yang inovatif, dan kemandirian ekonomi yang tidak membebani orang lain.
Titik persoalannya bukan pada wujud hartanya, melainkan pada relasi batin manusia dengan harta tersebut. Filosofi Jawa memberikan peringatan keras melalui ungkapan:
- Melik nggendhong lali: Keinginan yang terlalu bernafsu untuk menguasai kepemilikan materi akan menggendong sifat lupa diri, melunturkan rasa malu, dan menghalalkan segala cara.
- Aja nggege mangsa: Nasihat agar manusia tidak memaksakan diri mendahului waktu atau takdir lewat jalan pintas yang curang, seperti praktik pesugihan, suap, maupun korupsi demi cepat kaya.
Bagi orang Jawa, kepemilikan harta benda dipandang sebagai titipan sementara (titipan Gusti), bukan hak mutlak yang bebas dipergunakan sewenang-wenang. Harta yang melimpah baru memiliki nilai kemuliaan apabila diimbangi dengan watak dermawan, kesediaan menolong yang lemah, dan dijadikan sarana mempercantik tatanan dunia (memayu hayuning bawana). Memiliki uang itu wajar, tetapi jangan sampai uang tersebut menguasai nurani sang pemilik.
Menampar Budaya Flexing: Ketika Pamer Menjadi Gejala Kemiskinan Jiwa
Jika ditarik ke era digital hari ini, falsafah sugih tanpa bandha bagaikan cermin jernih yang menampar tren flexing—kebiasaan pamer kemewahan, pamer saldo, dan unjuk gaya hidup konsumtif di media sosial.
Jauh berabad-abad lalu, khazanah sastra Jawa telah mengidentifikasi perilaku pamer ini sebagai cacat kepribadian yang tidak sehat, seperti terangkum dalam larangan watak:
- Adigang (menyombongkan kekuatan fisik atau koneksi kekuasaan).
- Adigung (menyombongkan tumpukan kekayaan dan kedudukan materi).
- Adiguna (menyombongkan kepandaian akal bulus).
- Kumenthus dan kumaki (sikap pongah, sok tahu, dan haus akan validasi orang lain).
Fenomena haus pengakuan ini juga mengingatkan kita pada kritik tajam nubuat pujangga besar tentang jaman edan, di mana rasa malu terkikis habis karena orang-orang malas bekerja namun ingin hidup serba mewah dengan mengumbar nafsu angkara murka.
Dalam jurnal Refleksi Hukum, para peneliti hukum pidana mengkaji bahwa pitutur luhur sugih tanpa bandha merupakan instrumen pencegahan kultural yang sangat relevan untuk memberantas mentalitas koruptif. Korupsi di kalangan pejabat publik kerap kali terjadi bukan karena mereka kekurangan makan, melainkan karena gaya hidup mewah dan ketamakan tanpa batas yang kehilangan kendali rasa.
Dengan menanamkan nilai aja dumeh (jangan sok mentang-mentang berkuasa atau kaya), manusia terlindung dari ilusi kemewahan yang merusak tatanan keadilan sosial. Seseorang yang benar-benar kaya secara batin tidak akan pernah merasakan kebutuhan untuk memamerkan hartanya ke hadapan publik hanya demi memancing decak kagum.
Mengapa Generasi Burnout Hari Ini Membutuhkan Kembali Falsafah Jawa?
Mengapa ajaran klasik ini kembali terasa segar dan menarik bagi generasi muda saat ini?
Generasi hari ini hidup di tengah kepungan arus informasi tanpa jeda yang terus memicu kecemasan status (status anxiety). Kita kerap merasa tertinggal (FOMO), terjebak dalam hustle culture yang melelahkan, dan mengalami kelelahan mental (burnout) hanya demi mengejar standar pencapaian yang dipasang orang lain. Di titik nadir kejenuhan inilah, kebijaksanaan Jawa hadir sebagai terapi jiwa yang menyejukkan:
- Jalan Menuju Ketenangan Pikiran (Mindfulness Lokal): Melalui laku olah rasa dan mawas diri, kita diajak menarik napas panjang, mengendapkan batin (wening), dan berhenti membandingkan garis hidup kita dengan lini masa orang lain. Kita belajar bahwa hidup bukan tentang berlomba menjadi yang paling mencolok, melainkan tentang menjaga ketenangan batin yang seimbang.
- Kekuatan Modal Sosial (Social Capital): Falsafah ini mengingatkan bahwa jaring pengaman hidup yang paling kokoh di masa-masa sulit bukanlah segepok uang tunai, melainkan ketulusan ikatan persaudaraan dan kebiasaan tolong-menolong (gotong royong, saiyeg saeka praya). Ketika kita senang menanam kebajikan, pertolongan sering kali hadir tanpa perlu dipanggil di saat kita tertimpa kemalangan.
- Ketangguhan Mental (Resilience): Konsep pribadi tangguh (katangguhan) melatih manusia agar memiliki sikap tatag (berani menghadapi ujian) dan takat (tegar bertahan). Kita dilatih kecakapan rohani untuk meronce urip dadi kanugrahan—yakni kelihaian merangkai peristiwa pahit, derita, dan kegagalan menjadi untaian hikmah serta anugerah yang mendewasakan jiwa.
Pada akhirnya, sugih tanpa bandha bukanlah romantisme masa lalu, melainkan kompas hidup yang sangat relevan. Menjadi kaya sejati adalah ketika kita berhenti diombang-ambingkan oleh kepemilikan materi; tatkala jiwa kita telah merasa penuh, bersyukur atas apa yang ada, dan tangan kita tetap ringan menebarkan keharuman budi pekerti bagi sesama.