
Kabar Jawa – Kawasan Simpang Lima dan Tugu Muda hari ini dipadati hilir-mudik kendaraan modern. Namun jika mesin waktu diputar balik ke pertengahan Oktober 1945, tanah di pusat Kota Atlas ini bergetar hebat oleh dentuman mortir dan rentetan tembakan karabin.
Buku-buku sejarah sering kali menggambarkan Pertempuran Lima Hari di Semarang semata sebagai aksi adu tembak antara laskar pemuda melawan serdadu Batalion Kidobutai.
Padahal, jika menyingkap balik kabut mesiu, denyut utama yang menjaga perlawanan warga tidak padam justru lahir dari ruang-ruang sunyi: lorong rumah sakit rakyat, dapur umum darurat, hingga aksi tanpa pamrih kelompok marjinal yang kerap luput dari lembaran sejarah.
Bara Bawah Tanah Kota Pelabuhan
Keberanian warga Semarang mengangkat bambu runcing dan senjata rampasan bukanlah aksi spontan yang meletup dalam semalam. Jauh sebelum proklamasi berkumandang, kota pelabuhan ini sudah menjadi kawah candradimuka gerakan akar rumput.
Mulai dari aksi pemogokan buruh pimpinan Semaun di era Sarekat Islam pada dekade 1910-an, hingga jejaring bawah tanah Boedi Oetomo, Parindra, dan Gerindo, perlawanan anti-kolonial sudah menghujam dalam di benak warganya.
Memasuki masa transisi kekuasaan pada 1945, para aktivis dan tokoh pergerakan lokal kerap berkumpul di Rumah Sakit Purusaraโcikal bakal RSUP Dr. Kariadi saat ini.
Mereka memegang teguh satu prinsip: Indonesia bukan barang inventaris perang yang bisa diserahkan begitu saja oleh Jepang kepada Sekutu atau Belanda. Kesadaran kolektif inilah yang membakar militansi warga saat kekuatan asing mencoba kembali.
Gugurnya Sang Dokter: Titik Ledak Amarah Kota
Ketegangan makin membara ketika 400 bekas prajurit Dai Nippon melarikan diri dari Pabrik Gula Cepiring dan bergabung dengan markas Mayor Kido di Jatingaleh. Situasi kian panas setelah pos penjagaan Polisi Istimewa di reservoir Wungkal diserbu mendadak.
Namun, pemantik utama yang membakar tuntas amarah warga Semarang bukanlah tewasnya perwira militer, melainkan gugurnya seorang dokter.
Saat itu, kepanikan meluas akibat rumor bahwa tandon air Siranda di Candi Lama telah diracun oleh musuh. Menyadari bahaya nyata bagi ratusan ribu jiwa, dr. Kariadi yang menjabat Kepala Laboratorium Malaria Purusara memutuskan turun langsung mengambil sampel air.
Didampingi tentara pelajar, dr. Kariadi menembus jalanan kota yang terkepung baku tembak. Malang, mobilnya dicegat serdadu Jepang di kawasan Candi Lama.
Tanpa sempat memeriksa tandon air, dr. Kariadi gugur diterjang peluru musuh. Kehilangan sosok tenaga medis berdedikasi ini menjadi bahan bakar moral yang melipatgandakan gelombang perlawanan rakyat.
Gotong Royong di Balik Barikade Kampung
Sejak 15 Oktober dini hari, pertempuran meletus di empat kawasan utama: Pandanaran, Kintelan, Jombang, dan area sekitar Lawang Sewu. Serdadu Jepang melancarkan intimidasi brutal dengan menyisir permukiman padat dan membakar sekitar 250 rumah warga di perkampungan seperti Bulu, Pendrikan, Sobokarti, dan Batik.
Pasar-pasar tutup, jalur logistik lumpuh, dan warga terjebak dalam ancaman kelaparan. Di tengah situasi krisis itulah ketangguhan warga sipil diuji:
Dapur Mandiri Kampung: Para ibu dan warga berinisiatif patungan bahan makanan, mendirikan dapur umum darurat, dan menyiapkan ransum bagi para pejuang yang bertahan di garis depan.
Peran Kaum Terpinggirkan: Sejarawan Elisabeth Shinta Dwi Prapsiwi dalam risetnya di jurnal Danadyaksa Historica (2024) mencatat, kelompok marjinal perkotaan seperti gelandangan turut mengambil peran. Tanpa mengharap tanda jasa, mereka membantu mengangkut logistik darurat dan menyelinap di gang-gang sempit untuk menyampaikan pesan lapangan.
Garda Medis Palang Merah: Puluhan perawat dan tenaga kesehatan RS Purusara bertaruh nyawa mengevakuasi korban luka langsung dari titik kontak senjata, merawat para gerilyawan TKR dan warga jelata di bawah ancaman serbuan musuh.
Pertempuran sengit ini baru mereda setelah diplomasi gencatan senjata digelar bersama Kasman Singodimedjo, Mr. Sartono, Gubernur Wongsonegoro, Letkol Nomura, serta perwakilan Sekutu Brigjen Bethel. Konflik resmi berakhir dengan pelucutan senjata tentara Jepang pada 20 Oktober 1945, meninggalkan catatan memilukan dengan sedikitnya 2.000 jiwa yang gugur.
Menatap Tugu Muda: Pahlawan Masa Kini
Untuk mengenang pengorbanan rakyat, Monumen Tugu Muda mulai dibangun pada 1952 dan diresmikan langsung oleh Presiden Sukarno pada 20 Mei 1953.
Delapan puluh satu tahun berselang, atmosfer perjuangan itu kembali dihidupkan lewat pementasan teatrikal Teater Pitoelas dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang serta pameran arsip sejarah di Lawang Sewu.
Pesan sejarah ini membawa refleksi yang tetap relevan hingga hari ini. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan bahwa semangat perjuangan tersebut tidak pernah padam.
“Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tumbuh dari keberanian, kehilangan, dan harapan yang diperjuangkan sepenuh jiwa. Perjuangan itu kini hadir pada mereka yang bekerja dalam senyapโtenaga kesehatan, petugas pemadam kebakaran, pasukan kebersihan, hingga para relawan di kampung-kampung,” ungkapnya.
Pertempuran Lima Hari Semarang memberi pelajaran penting bagi generasi hari ini: kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya dimenangkan oleh senjata di medan perang, tetapi juga oleh ketulusan dokter yang melayani, ketangguhan dapur umum yang menyuapi, dan keberanian orang-orang kecil yang saling menjaga di tengah krisis.