
Kabar Jawa – Pernah melihat seseorang yang awalnya biasa saja, tetapi setelah sukses malah berubah jadi sombong? Dulu ramah kepada siapa pun, sekarang menyapa saja enggan. Ketika punya uang lebih, orang lain dipandang sebelah mata. Begitu mendapat jabatan, sikapnya berubah seolah semua orang harus tunduk kepadanya.
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak dahulu, masyarakat Jawa sudah punya nasihat sederhana untuk mengingatkan manusia agar tidak lupa diri ketika sedang berada di atas. Nasihat itu dikenal dengan istilah ojo dumeh.
Ungkapan ini mungkin terdengar singkat, tetapi maknanya cukup dalam. Ojo dumeh mengingatkan kita agar tidak merasa paling hebat hanya karena punya sesuatu yang belum tentu dimiliki orang lain.
Mau kaya, pintar, punya jabatan tinggi, terkenal, atau lebih tua sekalipun, semuanya bukan alasan untuk merendahkan sesama. Sebab, kehidupan selalu berubah. Apa yang kita banggakan hari ini belum tentu akan kita miliki selamanya.
Apa Arti Ojo Dumeh dalam Filosofi Jawa?
Secara sederhana, ojo dumeh berarti jangan mentang-mentang. Ungkapan ini berasal dari bahasa Jawa, dengan kata ojo yang berarti jangan dan dumeh yang bermakna mentang-mentang atau merasa memiliki kelebihan tertentu.
Dalam kehidupan sehari-hari, ojo dumeh bisa diartikan sebagai ajakan untuk tidak sombong, tidak bertindak semaunya sendiri, dan tidak menggunakan kelebihan untuk menekan orang lain.
Contohnya, jangan mentang-mentang kaya lalu meremehkan orang yang hidup sederhana. Jangan mentang-mentang pintar kemudian menganggap pendapat orang lain tidak berguna. Jangan pula mentang-mentang punya jabatan lalu memperlakukan bawahan seenaknya.
Filosofi ini mengajarkan bahwa kelebihan seharusnya membuat seseorang lebih bijak, bukan malah membuatnya merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Dalam budaya Jawa, nasihat tersebut juga dekat dengan prinsip eling lan waspada. Artinya, manusia perlu selalu ingat dan berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Jangan sampai kesenangan, keberhasilan, atau kekuasaan membuat kita lupa diri.
Ada pula ungkapan urip iku mung mampir ngombe, yang menggambarkan bahwa hidup di dunia hanya sementara. Kalau kehidupan ini tidak berlangsung selamanya, lantas apa yang perlu disombongkan secara berlebihan?
Mengapa Orang Bisa Berubah?
Tidak sedikit orang yang mengalami perubahan sikap setelah memperoleh kekayaan, popularitas, atau kedudukan. Sebagian merasa dirinya semakin penting, sementara sebagian lainnya mulai menjaga jarak dari orang-orang yang dahulu dekat dengannya.
Salah satu penyebabnya adalah munculnya perasaan bahwa keberhasilan merupakan hasil kemampuan pribadi semata. Orang tersebut lupa bahwa perjalanan menuju kesuksesan juga bisa dipengaruhi bantuan orang lain, kesempatan, keadaan, dan faktor yang tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Ketika perasaan paling hebat mulai tumbuh, kritik dianggap sebagai serangan. Nasihat dipandang sebagai gangguan. Bahkan, orang yang berbeda pendapat bisa dianggap sebagai musuh.
Di sinilah filosofi ojo dumeh menjadi penting. Nasihat ini mengajak kita untuk tetap sadar bahwa kelebihan bukan tiket untuk berbuat semaunya.
Ojo Dumeh dalam menggunakan kekuasaan
Dalam kehidupan sosial maupun pemerintahan, jabatan memberikan seseorang wewenang untuk mengambil keputusan dan mengatur berbagai hal. Namun, wewenang tersebut seharusnya digunakan untuk menjalankan tanggung jawab, bukan demi kepentingan pribadi.
Sikap ojo dumeh mengingatkan pemegang jabatan agar tidak menyalahgunakan kekuasaan. Misalnya, menggunakan posisi untuk memperkaya diri, mengutamakan keluarga tanpa mempertimbangkan kepatutan, atau menekan orang yang berani menyampaikan kritik.
Orang yang bijak memahami bahwa jabatan memiliki batas waktu. Ketika masa tugas berakhir, gelar dan kewenangan bisa saja hilang. Yang tetap diingat masyarakat adalah bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawabnya.
Karena itu, semakin besar kekuasaan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga sikap dan kepercayaan orang lain.
Empat Contoh Sikap Ojo Dumeh dalam Kehidupan Sehari-hari
Ojo dumeh tidak hanya berkaitan dengan pejabat atau orang-orang terkenal. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap ini juga bisa diterapkan di rumah, sekolah, tempat kerja, hingga lingkungan pertemanan.
Berikut empat contoh perilaku yang sering kita jumpai.
1. Ojo Dumeh Sugih: Jangan Mentang-mentang Kaya
Memiliki banyak uang tentu bisa memberikan berbagai kemudahan. Namun, kekayaan tidak seharusnya membuat seseorang merasa lebih mulia daripada orang lain.
Sikap ojo dumeh sugih terlihat ketika seseorang tetap menghormati orang yang hidup sederhana, tidak mempermalukan orang karena kondisi ekonominya, dan tidak menggunakan uang untuk membeli penghormatan secara paksa.
Pamer barang mahal atau menikmati hasil kerja keras bukan otomatis berarti sombong. Masalahnya muncul ketika kekayaan dijadikan alasan untuk merendahkan orang lain.
Kita juga perlu ingat bahwa kondisi ekonomi dapat berubah. Seseorang yang sekarang berkecukupan belum tentu selalu berada dalam keadaan yang sama. Sebaliknya, orang yang sedang kesulitan juga memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya.
Jadi, kalau sedang punya rezeki lebih, gunakanlah dengan bijak. Tidak perlu merasa paling hebat hanya karena isi rekening berbeda.
2. Ojo Dumeh Pinter: Jangan Mentang-mentang Pintar
Pintar adalah kelebihan yang patut disyukuri. Namun, kepintaran bisa kehilangan nilainya ketika digunakan untuk meremehkan orang lain.
Orang yang terjebak dalam sikap ojo dumeh pinter biasanya merasa pendapatnya paling benar. Ia sulit menerima masukan, gemar menyalahkan orang lain, dan terkadang menggunakan pengetahuannya untuk mempermalukan orang yang dianggap kurang memahami suatu persoalan.
Padahal, orang berilmu seharusnya semakin terbuka untuk belajar. Semakin banyak hal yang diketahui, semakin besar pula kesadaran bahwa masih ada banyak hal yang belum dipahami.
Ada nasihat Jawa yang berbunyi, aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa. Secara sederhana, nasihat ini mengingatkan agar kita tidak sekadar merasa mampu, tetapi juga belajar memahami keadaan dan menyadari kekurangan diri.
Orang yang benar-benar pintar tidak harus selalu menang dalam perdebatan. Terkadang, mau mendengarkan orang lain justru menunjukkan kedewasaan berpikir.
3. Ojo Dumeh Kuwasa: Jangan Mentang-mentang Punya Jabatan
Punya jabatan bukan berarti boleh memerintah tanpa mempertimbangkan perasaan dan hak orang lain.
Dalam lingkungan kerja, misalnya, seorang atasan memang memiliki tanggung jawab mengarahkan tim. Namun, tanggung jawab tersebut tidak membenarkan perilaku kasar, mempermalukan bawahan di depan umum, atau menolak semua masukan hanya karena merasa lebih berkuasa.
Pemimpin yang baik mampu membedakan ketegasan dan kesewenang-wenangan. Ia dapat memberikan teguran tanpa merendahkan, mengambil keputusan tanpa bertindak sewenang-wenang, dan menerima kritik tanpa harus merasa harga dirinya jatuh.
Jabatan semestinya menjadi sarana untuk memberikan manfaat, bukan alat untuk mencari perlakuan istimewa.
Ingat, orang mungkin menghormati kita karena posisi yang sedang dipegang. Namun, rasa hormat yang tulus tumbuh dari sikap adil, tanggung jawab, dan cara kita memperlakukan orang lain.
4. Ojo Dumeh Luwih Tuwa: Jangan Mentang-mentang Lebih Tua
Dalam budaya Jawa, menghormati orang yang lebih tua merupakan bagian penting dari tata krama. Anak muda diajarkan menjaga ucapan, bersikap sopan, dan menghargai pengalaman orang yang lebih senior.
Namun, menghormati orang yang lebih tua bukan berarti semua perkataannya harus diterima tanpa pertimbangan.
Usia memang membawa pengalaman, tetapi tidak otomatis membuat seseorang selalu benar. Generasi muda juga bisa memiliki gagasan yang baik dan pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Karena itu, orang yang lebih tua sebaiknya memberikan contoh melalui kebijaksanaan, bukan menggunakan usia untuk membungkam pendapat orang lain.
Sebaliknya, generasi muda tetap perlu menyampaikan perbedaan pendapat dengan cara yang santun. Dengan begitu, hubungan antargenerasi bisa berjalan lebih sehat tanpa kehilangan nilai unggah-ungguh dalam budaya Jawa.
Ojo Dumeh Mengajarkan Rendah Hati dan Tenggang Rasa
Filosofi ojo dumeh erat kaitannya dengan dua sikap yang dikenal dalam budaya Jawa, yaitu andhap asor dan tepa slira.
Andhap asor berarti rendah hati. Sikap ini bukan berarti harus merendahkan diri sendiri atau merasa tidak memiliki kemampuan. Rendah hati berarti mampu menghargai diri sendiri tanpa merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Sementara itu, tepa slira mengajarkan tenggang rasa. Sebelum bertindak atau berbicara, kita berusaha mempertimbangkan bagaimana orang lain mungkin merasakan perlakuan tersebut.
Misalnya, kita sedang memiliki penghasilan lebih besar daripada teman. Apakah itu menjadi alasan untuk mengejek kondisi ekonominya? Tentu tidak.
Begitu juga ketika menjadi atasan. Apakah bawahan boleh diperlakukan seenaknya hanya karena posisinya lebih rendah? Jelas bukan begitu.
Dengan menggabungkan rendah hati dan tenggang rasa, kita belajar bahwa setiap orang memiliki martabat yang patut dihormati.
Nilai ini juga tercermin dalam sosok Semar dalam pewayangan Jawa. Semar dikenal sebagai tokoh yang sederhana, bijaksana, dan dekat dengan rakyat kecil. Ia menjadi pengingat bahwa kebijaksanaan tidak harus ditunjukkan melalui kemewahan atau penampilan yang megah.
Mengenal Adigang, Adigung, Adiguna
Selain ojo dumeh, masyarakat Jawa juga mengenal ungkapan adigang, adigung, adiguna. Ketiganya menggambarkan sikap terlalu membanggakan kelebihan diri sampai lupa bahwa setiap kemampuan memiliki batas.
Ungkapan ini dikenal dalam tradisi tembang Jawa, termasuk pembahasan dalam Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV.
Berikut gambaran sederhana dari ketiga sifat tersebut.
Adigang: Terlalu Mengandalkan Kekuatan
Adigang digambarkan melalui kijang yang mengandalkan kelincahan dan kecepatan. Dalam kehidupan manusia, sifat ini terlihat ketika seseorang merasa bisa mengatasi semua persoalan hanya karena memiliki kekuatan fisik atau kemampuan tertentu.
Contohnya, seseorang menggunakan kekuatan untuk mengintimidasi orang lain atau merasa tidak ada yang berani melawannya.
Adigung: Terlalu Membanggakan Kekuasaan
Adigung digambarkan melalui gajah yang memiliki tubuh besar. Maknanya berkaitan dengan orang yang terlalu membanggakan kedudukan, kekuasaan, atau status sosial.
Sikap ini bisa muncul ketika seseorang merasa semua orang harus mengikuti keinginannya hanya karena ia memiliki jabatan tinggi atau berasal dari keluarga terpandang.
Adiguna: Terlalu Mengandalkan Kepandaian
Adiguna digambarkan melalui ular yang mengandalkan bisa. Dalam kehidupan manusia, sifat ini berkaitan dengan orang yang terlalu membanggakan kecerdikan atau kepintarannya, bahkan sampai menggunakannya untuk memperdaya orang lain.
Ketika kecerdasan dipakai untuk memanipulasi, mencari pembenaran, atau menjatuhkan orang lain secara tidak jujur, kemampuan tersebut justru berubah menjadi sumber masalah.
Ketiga sifat ini mengajarkan bahwa kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian perlu disertai kebijaksanaan. Tanpa pengendalian diri, kelebihan yang seharusnya membawa manfaat bisa menjadi penyebab kerugian.
Filosofi Ojo Dumeh Masih Cocok untuk Zaman Sekarang
Mungkin ada yang menganggap filosofi Jawa seperti ojo dumeh hanya cocok diterapkan pada kehidupan masyarakat zaman dahulu. Padahal, nasihat ini justru terasa dekat dengan berbagai fenomena masa kini.
Di media sosial, misalnya, orang bisa dengan mudah memamerkan kekayaan, pencapaian, atau gaya hidup. Berbagi kebahagiaan tentu tidak salah. Namun, masalah muncul ketika pencapaian tersebut digunakan untuk merendahkan orang yang kehidupannya berbeda.
Di tempat kerja, sikap ojo dumeh mengingatkan atasan agar tidak memanfaatkan jabatan untuk menekan bawahan. Dalam dunia pendidikan, nasihat ini mendorong orang yang berilmu agar tidak merasa paling benar. Sementara dalam kehidupan keluarga, ojo dumeh mengajak anggota keluarga yang lebih tua atau lebih mampu untuk tetap menghargai yang lain.
Filosofi ini juga relevan bagi siapa saja yang sedang membangun karier. Ketika memperoleh promosi, jangan sampai hubungan baik dengan rekan kerja berubah hanya karena posisi kita meningkat.
Ada pula ungkapan Jawa, ngono ya ngono, ning aja ngono, yang secara umum mengingatkan bahwa sesuatu mungkin saja dilakukan, tetapi tetap ada batas kepantasan yang perlu dijaga.
Artinya, kita tidak cukup hanya bertanya apakah suatu tindakan bisa dilakukan. Kita juga perlu mempertimbangkan apakah tindakan tersebut pantas, adil, dan merugikan orang lain atau tidak.
Cara Menerapkan Ojo Dumeh dalam Kehidupan Sehari-hari
Memahami makna ojo dumeh akan lebih bermanfaat jika diikuti dengan tindakan nyata. Tidak harus melakukan sesuatu yang besar, sebab kebiasaan sederhana pun bisa menjadi awal yang baik.
Berikut beberapa hal yang bisa dicoba.
- Pertama, tetap menghargai orang lain dalam kondisi apa pun. Jangan membedakan cara memperlakukan seseorang hanya berdasarkan kekayaan, jabatan, pendidikan, atau status sosialnya.
- Kedua, belajar menerima kritik. Tidak semua masukan menyenangkan untuk didengar. Namun, kritik yang disampaikan dengan alasan jelas bisa membantu kita melihat kekurangan yang sebelumnya tidak disadari.
- Ketiga, jangan menggunakan kelebihan untuk menekan orang lain. Kalau punya kemampuan, gunakan untuk membantu dan memberikan manfaat. Kalau memiliki jabatan, jalankan tanggung jawab dengan adil.
- Keempat, ingat bahwa keadaan bisa berubah. Kesuksesan hari ini patut disyukuri, tetapi tidak perlu dijadikan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
- Kelima, biasakan introspeksi. Sebelum menyalahkan orang lain, tanyakan kepada diri sendiri apakah perkataan atau tindakan kita sudah pantas. Kebiasaan ini membantu kita lebih berhati-hati dalam bersikap.
Menerapkan ojo dumeh bukan berarti kita tidak boleh bangga terhadap pencapaian sendiri. Kita tetap boleh merayakan keberhasilan, menikmati hasil kerja keras, dan merasa senang ketika mencapai sesuatu.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kebanggaan tersebut berubah menjadi kesombongan dan membuat kita kehilangan rasa hormat kepada sesama.