Kabar Jawa – Jika Anda biasa melihat candi-candi Hindu-Buddha di Jawa Tengah seperti Borobudur atau Prambanan yang megah, simetris, dan dipenuhi ukiran halus mengacu pada kitab arsitektur India Wastu Widya, melangkah ke kompleks Candi Sukuh akan memberikan pengalaman visual yang sangat mengejutkan.
Bangunan utamanya tidak memiliki atap bertingkat yang menjulang tinggi, melainkan berdiri sebagai piramida terpancung di atas punden berundak yang terkesan bersahaja. Relief dan arcanya pun dipahat dalam wujud yang tebal, agak kasar, bahkan menampilkan bentuk anatomi serta simbol kedewasaan secara gamblang.
Keunikan wujud ini melahirkan pertanyaan mendasar: mengapa Candi Sukuh dibangun dengan bentuk dan bahasa seni yang sangat bertolak belakang dari candi-candi Jawa lainnya?
Jejak Oposisi di Masa Akhir Majapahit
Secara arkeologis, pendirian Candi Sukuh terekam melalui penanggalan sengkalan memet pada gapura teras pertama yang berbunyi “Gapura Buta Aban Wong” dan “Gapura Buta Anahut Buntut”, yang merujuk pada tahun 1359 Saka atau 1437 Masehi. Periode ini menandai masa pemerintahan Ratu Suhita (1429โ1447 M) di Kerajaan Majapahit.
Berdasarkan kajian analisis pustaka oleh Achmad Syafi’i dari ISI Surakarta serta laporan riset Riboet Darmosoetopo dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Candi Sukuh diperkirakan bukan diprakarsai oleh pusat istana Majapahit, melainkan oleh kubu oposisi keturunan bangsawan Kediri (Bhre Daha). Kecewa terhadap melunaknya sikap istana Majapahit atas masuknya pengaruh asing serta gejolak politik yang kian meruncing, kelompok ini membangun tempat pemujaannya sendiri di lokasi yang terpencil.
Arkeolog termasyhur W.F. Stutterheim pada tahun 1930 menjelaskan bahwa bentuk candi yang tampak sederhana dan kurang rapi ini disebabkan oleh tiga faktor utama: para pemahatnya kemungkinan besar adalah tukang batu/kayu dari pedesaan dan bukan empu istana, pembangunannya dilakukan secara tergesa-gesa, serta situasi politik Majapahit kala itu yang terancam runtuh sehingga tidak memungkinkan pendirian monumen yang megah.
Mandala Kedewaguruan Kaum Rsi
Selain sebagai pusat peribadatan masyarakat lokal, kajian Heri Purwanto dalam Jurnal Berkala Arkeologi membuktikan bahwa Candi Sukuh berfungsi sebagai karsyan berbentuk mandala kedewaguruan. Pembuktian ini dikuatkan oleh penemuan Prasasti Lingga Sukuh yang bertuliskan “biseka yang Begawan gangga suding laksana purusa sorning rat…”, menceritakan upacara penahbisan Hyang Ganggasudi menjadi seorang wiku (rsi atau pertapa).
Sebagai sebuah mandala, kawasan di lereng barat Gunung Lawu yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kerajaan ini memenuhi syarat mutlak sebagai pemukiman tempat tinggal sang dewaguru bersama para muridnya (sisya) untuk belajar agama, bercocok tanam, dan menggembleng rohani demi mencapai penyucian jiwa.
Tata Ruang Berteras dan Orientasi Chthonic
Berbeda dari candi Hindu klasik yang berdenah bujur sangkar simetris dan menghadap ke timur, Candi Sukuh terbagi dalam tiga teras berundak yang membujur dari barat ke timur dengan posisi menghadap ke barat. Ruangan atau tempat yang dianggap paling sakral (sanctum sanctorum) tidak berada di tengah-tengah, melainkan ditempatkan di teras ketiga, yaitu pelataran tertinggi dan paling belakang di lereng gunung.
Kajian arkeoastronomi oleh T.H. Pramono dan Aprilia dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan bahwa Candi Sukuh tidak dirancang mengacu pada kesegarisan benda langit tertentu seperti Matahari atau Bintang. Tata letak dan orientasi bangunan candi ini sepenuhnya mengacu pada konsep chthonic, yaitu penghormatan terhadap puncak Gunung Lawu yang sejak zaman prasejarah disucikan sebagai persemayaman roh nenek moyang.
Fenomena Revivalisme Megalitikum
Bentuk candi induk yang menyerupai trapesium atau piramida terpancung sering kali disepadankan secara visual dengan bangunan peninggalan suku Maya di Meksiko atau Inca di Peru. Namun, para pakar menegaskan bahwa tidak ada keterkaitan sejarah di antara keduanya.
Anomali bentuk ini terjadi karena memudarnya pengaruh kebudayaan Hindu-India klasik di akhir era Majapahit, yang memicu kebangkitan kembali (revivalisme) unsur-unsur budaya asli Indonesia dari era megalitikum. Struktur punden berundak, penggunaan batu monolith, serta kesederhanaan pahatan adalah bukti otentik bagaimana masyarakat lokal kembali ke tradisi leluhur mereka.
Membedah Relief dan Simbol Keagamaan Menurut Kajian Para Ahli
Salah satu daya tarik Candi Sukuh adalah keberadaan pahatan lingga dan yoni (alat kelamin laki-laki dan perempuan) dalam wujud yang sangat nyata di lantai ruang dalam gapura utama. Para ahli arkeologi menjelaskan bahwa pahatan ini tidak bermakna erotis vulgar, melainkan berfungsi sebagai suwuk (mantra/penawar) untuk ngruwat (menghilangkan) segala kotoran batin yang melekat pada diri seseorang sebelum melangkah masuk ke tempat suci.
Sementara itu, relief ornamen Tapal Kuda yang melingkupi figur di pelataran teras ketiga dikaji secara mendalam oleh Putu Budiadnya dalam Jurnal Widya Aksara. Relief menyerupai rahim perempuan ini dimaknai sebagai perlambang asal muasal embrio manusia yang terikat ajaran Sangkan Paraning Dumadi falsafah Kejawen-Hindu mengenai dari mana manusia berasal dan ke mana ia akan kembali setelah kematian melalui pemusatan pikiran dan pembersihan diri (Raja Yoga).
Narasi Pengruwatan: Sudamala, Garudeya, dan Bima Suci
Hampir seluruh kisah yang dipahatkan pada dinding relief Candi Sukuh mengusung tema pengruwatan atau pembebasan jiwa (kalepasan):
- Kidung Sudamala: Dalam riset Effy Indratmo NS dan Amir Gozali dari ISI Surakarta, lima panel relief Sudamala menceritakan keberhasilan Sadewa (salah satu ksatria Pandawa) dalam meruwat Bathari Durga wujud kutukan Dewi Uma kembali menjadi bidadari suci di Hutan Setra Gandamayit.
- Garudeya & Samuderamantana: Mengisahkan perjuangan Sang Garuda mencari Tirta Amerta (air kehidupan) demi membebaskan ibunya, Dewi Winata, dari perbudakan.
- Kultus Bima & Nawaruci: Menampilkan sosok Bima dalam lakon Bima Bungkus dan Nawaruci (Bima Suci) yang mencerminkan ajaran Tantrisme Siwa tentang pencarian tirta pawitra sari sebagai simbol keteguhan rohani menggapai pencerahan tertinggi.
Relief Pandai Besi: Keunikan Tunggal di Nusantara
Candi Sukuh memiliki satu relief luar biasa yang tidak ditemukan di bangunan suci mana pun di Indonesia, yaitu relief adegan pandai besi. Relief ini menggambarkan Bima yang sedang menempa keris (wesi aji) menggunakan kedua telapak tangannya, didampingi sosok Batara Ganesha yang mengenakan hiasan kepala khas pertapa (wiku). Heri Purwanto (2017) mencatat bahwa relief ini menyimbolkan tingginya keahlian spiritual dan keterampilannya kaum rsi dalam memproduksi alat-alat logam maupun senjata sakral.
Bagi Anda yang berminat mengamati langsung keunikan arsitektur dan relief peninggalan era Majapahit akhir ini, berikut informasi lengkapnya:
- Lokasi Administratif: Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
- Ketinggian & Akses: Berada pada ketinggian sekitar 910 hingga 1.186 meter di atas permukaan laut di lereng barat Gunung Lawu. Situs ini berjarak sekitar 20 km dari pusat Kota Karanganyar atau 36 km dari Kota Surakarta (Solo).
- Pengelola Resmi: Saat ini Candi Sukuh berada di bawah pengelolaan Museum dan Cagar Budaya (Indonesian Heritage Agency) Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia serta Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah.