Kabar Jawa – Begitu melangkah masuk ke salah satu warung mi tradisional di sudut kota Wonosobo yang berudara dingin, aroma rempah gurih langsung menyambut dari arah tungku. Suasana sejuk pegunungan seketika terasa hangat saat melihat kepulan uap air mendidih dari kuali sang penjual.
Di balik meja racik, atraksi memasak yang unik langsung menyita perhatian. Penjual memegang keranjang kecil berbahan anyaman bambu yang disebut ongklok. Ke dalam keranjang bambu tersebut, racikan mi kuning pipih digabungkan bersama irisan kol segar serta rajangan daun kucai.
Keranjang bambu itu kemudian dicelupkan ke dalam kuali berisi air mendidih dan dikocok atau digoyang-goyangkan berulang kali selama beberapa saat. Gerakan mencelup dan mengocok mi beserta sayuran inilah yang masyarakat lokal sebut dengan istilah diongklok atau dongklok, yang menjadi asal-usul penamaan hidangan khas ini. Penggunaan daun kucai khas Wonosobo ini bukan sekadar pemanis warna, tetapi juga dikenal memiliki manfaat alami untuk membantu menurunkan tekanan darah tinggi.
Rahasia Kehangatan dalam Siraman Kuah Loh
Setelah mi dan sayuran matang merata lalu dituangkan ke dalam mangkuk, proses krusial berikutnya adalah penyiraman kuah. Mi Ongklok disiram dengan kuah pekat berkanji yang kerap disapa kuah loh atau lo.
Kuah bertekstur mirip jenang ini diracik dari adonan tepung tapioka atau pati yang dimasak bersama gula jawa, ebi (udang kering) yang dihaluskan, bawang, serta aneka bumbu rempah pilihan dalam kaldu. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan karakter rasa gurih manis yang kuat dengan sentuhan umami yang khas. Tekstur kuah yang kental ini memegang peranan penting karena sanggup menahan suhu panas makanan lebih lama. Hasilnya, setiap suapan tetap hangat melintasi tenggorokan di tengah cuaca Dieng dan Wonosobo yang kerap diselimuti kabut dingin.
Latar belakang lahirnya sajian ini tak kalah menarik. Resep awal Mi Ongklok dipelopori oleh Pak Muhadi, seorang juru masak asal Kelurahan Jaraksari, Wonosobo. Pada era 1940-an, kuliner ini diawali dari dagangan keliling menggunakan pikulan khas (hik) yang dilengkapi tungku anglo dan kuali tembaga.
Pada masa itu, daging sapi tergolong bahan pangan yang mahal bagi warga sekitar. Untuk menyiasatinya, rasa gurih kaldu diakali dengan memanfaatkan ebi dan gula jawa, serta dipadukan bersama potongan tahu bacem sebagai lauk bawaannya. Formula sederhana ini rupanya berhasil menciptakan rasa autentik yang dicintai masyarakat secara turun-temurun.
Seiring waktu, tradisi menyantap Mi Ongklok berkembang semakin nikmat. Untuk melengkapi kandungan protein dan stamina saat cuaca dingin, dihadirkanlah kondimen pendamping berupa sate sapi. Daging sate yang dibakar dengan bumbu kacang dan kecap manis memberikan aroma renyah smoky yang kontras saat berpadu dengan gurih kentalnya kuah mi.
Selain sate sapi atau ayam, pengunjung juga bisa memilih gorengan tradisional khas daerah ini, seperti tempe kemul tempe renyah berbumbu kunyit dan kucai serta geblek yang terbuat dari olahan singkong kenyal.
Kuliner legendaris ini tetap ramah di kantong wisatawan maupun warga lokal. Semangkuk Mi Ongklok hangat dipatok kisaran harga Rp9.000 hingga Rp20.000 per porsi, tergantung tempat dan porsi lauk pendamping yang dipilih.