KABAR JAWA – Kabut yang turun di lereng Gunung Lawu bukan satu-satunya hal yang membuat Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, terasa istimewa. Di balik hawa dingin khas pegunungan, tersimpan kehidupan masyarakat yang masih erat dengan adat istiadat, kepercayaan leluhur, dan semangat gotong royong.
Di tengah perkembangan pariwisata yang semakin pesat, warga Dusun Cetho justru memiliki cara tersendiri dalam menyambut perubahan. Mereka tidak serta-merta mengubah kehidupan desa demi mengikuti selera wisatawan. Tradisi tetap dijalankan, pertanian terus menjadi sumber penghidupan, sementara kerajinan lokal dan kesenian warisan leluhur dipertahankan sebagai bagian dari keseharian.
Pemandangan ini terasa kontras dengan perkembangan kawasan wisata di sekitarnya, terutama Candi Cetho yang dikenal sebagai salah satu tujuan wisata budaya dan sejarah di lereng Gunung Lawu.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan wisatawan memang membawa peluang ekonomi. Namun, ada sesuatu yang dianggap jauh lebih penting untuk dijaga, yakni identitas desa yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bukan Sekadar Desa Wisata, Cetho Punya Cara Sendiri Menjaga Tradisi
Menjelang sore, sekitar pukul 14.00 WIB, aktivitas warga mulai berubah. Setelah menyelesaikan pekerjaan di ladang sayuran yang berada di kawasan perbukitan, sebagian masyarakat kembali ke rumah untuk beristirahat atau melanjutkan kegiatan lain.
Salah satu aktivitas yang menarik perhatian berlangsung di rumah Pak Winarno (34). Pemuda lulusan SMP tersebut menjadi salah satu orang yang masih menekuni keterampilan mengolah kayu bertuah.
Beberapa warga, termasuk Pak Kasmin (41), menyempatkan diri datang untuk belajar sekaligus berbagi pengetahuan mengenai kerajinan kayu yang telah lama dikenal masyarakat Cetho.
Bagi Winarno, kegiatan tersebut bukan sekadar pekerjaan untuk menghasilkan barang bernilai ekonomi.
“Di Cetho, merawat kayu bertuah bukan sekadar membuat suvenir. Ini adalah cara kami menghormati anugerah alam Gunung Lawu,” ujarnya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan masyarakat dengan alam tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan ekonomi. Ada nilai penghormatan dan keyakinan yang ikut membentuk cara mereka memperlakukan lingkungan.
Kayu Bertuah Diolah Menjadi Kerajinan Bernilai Budaya
Jenis kayu seperti Liwung, Mentawa, Lotrok, dan Kebak dikenal sebagai bahan yang memiliki tempat tersendiri dalam tradisi masyarakat setempat.
Kayu-kayu tersebut dikaitkan dengan kawasan hutan Gunung Lawu. Proses pencariannya pun tidak dilakukan secara sembarangan. Para pengrajin masih memperhatikan perhitungan hari baik berdasarkan kalender pasaran Jawa sebelum memasuki kawasan hutan.
Setelah diperoleh, bahan kayu kemudian diolah menjadi berbagai benda kerajinan, mulai dari tasbih, gelang, pipa rokok, hingga tongkat.
Menariknya, aktivitas tersebut lebih banyak dilakukan secara sederhana di lingkungan rumah. Tidak ada kesan seperti industri kerajinan yang mengejar produksi dalam jumlah besar.
Warga mengerjakannya ketika memiliki waktu luang setelah menyelesaikan pekerjaan pertanian. Dengan cara tersebut, keterampilan mengolah kayu tetap hidup sekaligus menjadi sarana meneruskan pengetahuan yang telah dikenal sejak masa leluhur.
Bagi masyarakat Cetho, nilai sebuah kerajinan tidak semata-mata ditentukan oleh harga jualnya. Proses, bahan, dan filosofi yang menyertainya juga menjadi bagian penting dari warisan tersebut.
Pertanian Tetap Menjadi Penopang Utama Kehidupan Warga
Di tengah popularitas Candi Cetho sebagai destinasi wisata, masyarakat Dusun Cetho tidak menjadikan sektor pariwisata sebagai satu-satunya tumpuan ekonomi.
Pertanian masih menjadi fondasi kehidupan sebagian besar keluarga. Kondisi geografis lereng Lawu yang subur dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis sayuran.
Pengelolaan lahan dilakukan secara mandiri dengan memanfaatkan pupuk kompos dan peralatan tradisional. Pola ini memperlihatkan bagaimana masyarakat mempertahankan hubungan langsung dengan tanah yang selama ini menjadi sumber penghidupan.
Ada prinsip yang terus dipegang warga: pertanian merupakan akar kehidupan, sedangkan pariwisata menjadi pelengkap.
Pemahaman tersebut cukup penting di tengah perkembangan industri wisata. Jumlah pengunjung bisa berubah mengikuti musim liburan, kondisi ekonomi, maupun tren perjalanan. Sementara kebutuhan hidup masyarakat tetap berjalan setiap hari.
Dengan mempertahankan pertanian, warga memiliki sumber penghasilan yang tidak sepenuhnya bergantung pada ramai atau sepinya wisatawan.
Mondosiyo hingga Dawuhan, Tradisi yang Terus Menghidupkan Dusun Cetho
Kekuatan budaya Dusun Cetho tidak hanya terlihat dari kerajinan kayu. Masyarakat juga masih menjalankan sejumlah ritual adat yang menjadi bagian penting dalam kehidupan bersama.
Tradisi tersebut bukan sekadar agenda tahunan untuk menarik perhatian pengunjung. Bagi warga, setiap upacara mempunyai makna yang berkaitan dengan hubungan manusia, alam, dan kehidupan sosial.
1. Mondosiyo sebagai Tradisi Bersih Desa
Salah satu ritual yang masih dipertahankan adalah Mondosiyo. Upacara ini dilaksanakan setiap tahun pada Selasa Kliwon dalam kalender Wuku, bertempat di pelataran Candi Cetho.
Mondosiyo menjadi bagian dari tradisi bersih desa yang mengandung harapan agar masyarakat dijauhkan dari berbagai musibah.
Dalam pelaksanaannya, setiap kepala keluarga membawa dua tumpeng yang dilengkapi lauk berupa bothok dan ayam panggang.
Makanan tersebut menjadi bagian dari perlengkapan ritual sekaligus simbol kebersamaan. Warga berkumpul dan menjalankan tradisi secara bersama-sama, sehingga hubungan antarkeluarga tetap terjaga.
2. Dawuhan, Ungkapan Syukur atas Sumber Air
Selain Mondosiyo, masyarakat juga merawat tradisi Dawuhan atau Dawuan.
Ritual ini berkaitan dengan keberadaan sendang atau sumber mata air yang memiliki peran penting bagi kehidupan warga.
Air merupakan kebutuhan utama, terlebih bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pegunungan dan menggantungkan kehidupan pada pertanian.
Melalui tradisi Dawuhan, warga mengungkapkan rasa syukur sekaligus memanjatkan doa agar sumber air tetap terjaga dan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Ritus tersebut juga mengingatkan bahwa kelestarian lingkungan bukan hanya urusan pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.
3. Beganjuran, Kesenian yang Dikenalkan kepada Generasi Muda
Warisan budaya lainnya hadir melalui musik Beganjuran.
Kesenian ini menggunakan perpaduan instrumen seperti kendang, kenong, dan kepyak. Alunannya memperlihatkan pertemuan unsur budaya Hindu dan tradisi Jawa yang telah berkembang dalam kehidupan masyarakat setempat.
Agar tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, anak-anak muda Dusun Cetho masih mempelajarinya melalui kegiatan latihan rutin setiap minggu.
Keterlibatan generasi muda menjadi salah satu kunci keberlanjutan kesenian tersebut. Sebab, tradisi akan semakin sulit dipertahankan apabila tidak ada penerus yang mengenal dan memahami maknanya.
Toleransi Antarumat Beragama Menjadi Kekuatan Sosial Dusun Cetho
Satu hal yang tidak kalah menarik dari kehidupan masyarakat Cetho adalah hubungan sosial antarwarganya.
Berdasarkan gambaran kehidupan masyarakat setempat, sekitar 90 persen warga memeluk agama Hindu-Jawa, sedangkan 10 persen lainnya beragama Islam.
Perbedaan keyakinan tersebut tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk hidup berdampingan. Justru, kebersamaan terlihat dalam berbagai kegiatan adat maupun kehidupan sehari-hari.
Ketika umat Hindu menjalankan Hari Raya Nyepi, warga muslim turut menghormati suasana hening yang dijalankan melalui sejumlah pantangan, seperti amati geni dan amati karya.
Sebaliknya, saat berlangsung upacara adat maupun hajatan dusun, warga dari berbagai latar belakang agama ikut membantu menyiapkan kebutuhan acara.
Mulai dari menata tempat pertemuan, menyiapkan tumpeng, hingga membantu keperluan ritual, semuanya dilakukan dengan semangat gotong royong.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa toleransi di Dusun Cetho bukan hanya sebatas sikap saling menghormati dalam ucapan. Nilai itu hadir dalam tindakan nyata yang dilakukan bersama-sama.
Cetho Membuktikan Kemajuan Desa Tidak Harus Menghapus Warisan Leluhur
Kisah masyarakat Dusun Cetho memberikan gambaran berbeda tentang bagaimana sebuah desa menghadapi perkembangan zaman.
Di satu sisi, kawasan ini memiliki potensi wisata yang besar berkat keberadaan Candi Cetho dan panorama alam Gunung Lawu. Di sisi lain, masyarakatnya tetap berusaha menjaga pertanian, kesenian, ritual adat, serta hubungan sosial yang telah tumbuh selama bertahun-tahun.
Kerajinan kayu bertuah yang dikerjakan di rumah, tradisi Mondosiyo, ritual Dawuhan, hingga latihan musik Beganjuran menjadi bagian dari kehidupan yang terus berjalan.
Semua itu memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak selalu harus dipertahankan melalui bangunan megah atau pertunjukan khusus untuk wisatawan. Tradisi justru bisa tetap hidup ketika masyarakat masih menjalankannya dalam aktivitas sehari-hari.
Dusun Cetho mengajarkan bahwa pariwisata dan modernisasi tidak harus membuat masyarakat kehilangan jati diri. Pembangunan dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya, selama warga tetap memiliki ruang untuk menentukan arah kehidupan mereka sendiri.
Di lereng Gunung Lawu, kehangatan Dusun Cetho ternyata bukan hanya berasal dari rumah-rumah yang melindungi penghuninya dari udara dingin. Kehangatan itu tumbuh dari tradisi, rasa saling menghormati, dan kebersamaan yang terus dijaga oleh masyarakatnya.