
Kabar Jawa – Yogyakarta selalu punya cara tersendiri untuk menyimpan cerita masa lalu. Di balik ramainya Malioboro, kampung-kampung tua, dan kawasan wisata yang selalu dipadati pengunjung, berdiri sebuah sistem pertahanan bersejarah yang menjadi bagian penting dari kehidupan Keraton Yogyakarta, namanya Benteng Baluwerti.
Benteng ini bukan sekadar tembok tebal yang mengelilingi kompleks keraton. Di dalamnya tersimpan kisah tentang strategi pertahanan, tata kota tradisional Jawa, perubahan kekuasaan, hingga pandangan masyarakat Jawa mengenai kehidupan dan kematian.
Salah satu bagian yang menarik untuk ditelusuri adalah lima plengkung atau gerbang bersejarah yang dahulu menjadi akses keluar-masuk kawasan benteng. Setiap gerbang memiliki nama, fungsi, dan perjalanan sejarahnya sendiri.
Bagi pencinta sejarah hingga wisatawan yang gemar melakukan heritage walk, menyusuri kawasan Benteng Baluwerti bisa menjadi cara menarik untuk memahami Yogyakarta dari sudut pandang yang berbeda. Di sini kamu bukan cuma diajak melihat bangunan tua, tetapi juga membaca filosofi yang tersimpan di balik tata ruang kota.
Sejarah Pembangunan Benteng Baluwerti
Sejarah Benteng Baluwerti tidak bisa dipisahkan dari berdirinya Keraton Yogyakarta pada abad ke-18. Setelah Perjanjian Giyanti pada 1755 membagi wilayah Mataram menjadi dua kekuasaan.
Pangeran Mangkubumi mendirikan pusat pemerintahan baru dan kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Keraton Yogyakarta dibangun sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat kebudayaan dan kehidupan spiritual kerajaan.
Dalam perkembangan berikutnya, kawasan inti keraton dilengkapi dengan sistem pertahanan berupa tembok keliling. Kawasan di dalam benteng dikenal sebagai Baluwerti, yang secara historis berfungsi melindungi lingkungan keraton dan permukiman yang berada di sekitarnya.
Istilah baluwerti merujuk pada benteng luar yang mengelilingi kompleks keraton dan sejumlah permukiman di sekitarnya. Istilah ini perlu dibedakan dari cepuri-benteng bagian dalam yang secara langsung melingkupi kompleks inti keraton.
Perbedaan tersebut bukan hanya soal ukuran atau posisi bangunan. Keduanya juga mencerminkan pembagian ruang dalam lingkungan kerajaan. Ada kawasan yang lebih luas untuk permukiman dan kegiatan pendukung, serta kawasan inti yang memiliki kedudukan khusus.
Dinas Kebudayaan DIY menjelaskan bahwa kawasan inti Keraton Yogyakarta berada di dalam Baluwerti, sedangkan kawasan ekstensif mencakup permukiman di luar benteng yang secara historis berhubungan dengan kehidupan keraton.
Pembangunan benteng berlangsung dalam beberapa tahap. Sri Sultan Hamengku Buwono I berperan penting dalam perancangan dan pembangunan awal, sementara penyempurnaan sistem pertahanan dilanjutkan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono II.
Periode 1785โ1787 kerap dikaitkan dengan penyelesaian pembangunan benteng dalam sejumlah catatan sejarah. Namun, detail kronologi setiap bagian konstruksi perlu dibaca dengan memperhatikan sumber arsip dan kajian sejarah yang digunakan.
Geger Sepehi dan Perubahan Wajah Benteng
Salah satu peristiwa penting yang memengaruhi sejarah Keraton Yogyakarta adalah Geger Sepehi pada 1812. Dalam peristiwa ini, pasukan Inggris menyerbu keraton di tengah konflik politik antara penguasa Yogyakarta dan pemerintahan kolonial Inggris.
Penyerbuan tersebut membawa dampak besar terhadap kehidupan politik, kekuasaan keraton, serta kondisi sejumlah bangunan dan benda bersejarah. Keraton mengalami kerusakan dan penjarahan, sementara berbagai koleksi penting dibawa keluar dari Yogyakarta.
Benteng sebagai bagian dari sistem pertahanan keraton juga perlu dipahami dalam konteks perubahan tersebut. Meski begitu, tidak tepat jika seluruh perubahan fisik benteng dianggap terjadi hanya dalam satu peristiwa. Kondisi bangunan yang terlihat sekarang merupakan hasil perjalanan panjang, termasuk perbaikan, perubahan fungsi, dan perkembangan kota.
Dari sini, Benteng Baluwerti bisa dibaca sebagai saksi perubahan zaman: dari pusat pertahanan kerajaan, melewati masa kolonial, hingga menjadi bagian dari kawasan perkotaan Yogyakarta modern.
Arsitektur dan Fungsi Militer Benteng Baluwerti
Kalau dilihat sekilas, Benteng Baluwerti mungkin tampak seperti tembok tua yang membatasi kawasan permukiman. Namun, struktur aslinya dirancang dengan perhitungan pertahanan yang cukup serius.
Menurut data resmi Sistem Informasi Cagar Budaya DIY, benteng ini memiliki bentuk mendekati persegi empat dengan panjang keseluruhan sekitar lima kilometer dan ketebalan dinding sekitar lima meter. Di bagian luarnya terdapat jagang, yakni parit yang menjadi penghalang bagi pihak yang hendak menerobos masuk.
Ada beberapa elemen penting yang membuat sistem pertahanan ini menarik untuk dipelajari, yaitu:
- Tembok keliling: menjadi batas fisik kawasan keraton sekaligus penghalang terhadap serangan dari luar.
- Bastion atau pojok beteng: bagian yang menjorok keluar pada sudut benteng, sehingga penjagaan dan pengawasan dapat dilakukan dari beberapa arah.
- Jagang: parit pertahanan di sisi luar tembok yang memperlambat pergerakan pihak penyerang.
- Plengkung: pintu gerbang yang menjadi jalur keluar-masuk kawasan, sekaligus titik yang dapat dikendalikan ketika situasi berbahaya.
Pada masa ketika benteng masih berfungsi sebagai pertahanan kerajaan, pintu gerbang tidak sekadar dibuka dan ditutup seperti akses jalan biasa. Gerbang dilengkapi gardu penjagaan dan celah untuk penempatan meriam. Sejumlah plengkung juga memiliki jembatan yang dapat diangkat untuk memutus akses dari luar.
Mengenal 5 Plengkung Bersejarah Benteng Keraton Yogyakarta
Salah satu ciri paling mudah dikenali dari Benteng Baluwerti adalah lima plengkung yang dahulu menghubungkan kawasan di dalam benteng dengan dunia luar. Nama-nama yang digunakan dalam sumber resmi meliputi Tarunasura, Jagasura, Jagabaya, Nirbaya, dan Madyasura.
Masing-masing memiliki nama populer yang lebih akrab di telinga warga Yogyakarta. Tetapi perlu digaris bawahi, nama resmi dan nama populer plengkung terkadang berbeda antarcatatan. Untuk menghindari kekeliruan, uraian berikut mengacu terutama pada data Keraton Yogyakarta dan Dinas Kebudayaan DIY.
1. Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gading
Plengkung Nirbaya berada di sisi selatan benteng, dekat kawasan Alun-Alun Selatan. Masyarakat lebih mengenalnya sebagai Plengkung Gading, nama yang sampai sekarang sering digunakan untuk menyebut gerbang bersejarah ini.
Dalam tradisi keraton, plengkung ini dikenal memiliki hubungan dengan prosesi pelepasan jenazah Sultan yang telah wafat. Karena itu, Plengkung Gading sering dikaitkan dengan filosofi akhir kehidupan dan pelepasan kedudukan duniawi.
Nama Nirbaya sendiri kerap ditafsirkan berkaitan dengan keadaan tanpa bahaya. Namun, penjelasan tentang nama dan filosofi gerbang sebaiknya dibedakan dari fungsi historisnya sebagai bagian sistem pertahanan.
Hubungan Plengkung Gading dengan prosesi pemakaman raja juga perlu dipahami sebagai tradisi dan tata upacara keraton, bukan berarti gerbang ini sejak awal hanya berfungsi sebagai jalur pemakaman. Secara struktural, Nirbaya merupakan salah satu pintu utama benteng.
2. Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan
Bergeser ke sisi timur laut, ada Plengkung Tarunasura yang lebih dikenal sebagai Plengkung Wijilan. Gerbang ini merupakan salah satu akses penting menuju kawasan Jeron Beteng.
Nama Tarunasura sering dihubungkan dengan prajurit muda atau semangat keprajuritan. Meski demikian, makna nama tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bukti bahwa gerbang ini hanya diperuntukkan bagi kelompok prajurit tertentu. Catatan resmi lebih jelas menempatkannya sebagai salah satu pintu keluar-masuk benteng.
Kawasan Wijilan sekarang dikenal luas sebagai salah satu sentra gudeg Yogyakarta. Pengunjung yang datang untuk menikmati kuliner khas kota ini mungkin tidak menyadari bahwa kawasan tersebut juga menyimpan jejak sejarah pertahanan keraton.
Di sinilah daya tarik tata kota tradisional terlihat. Gerbang yang dahulu memiliki fungsi militer kini berada di tengah kehidupan sehari-hari, berdampingan dengan warung makan, rumah penduduk, dan aktivitas wisata.
3. Plengkung Madyasura atau Plengkung Gondomanan
Plengkung Madyasura berada di sisi timur benteng dan juga dikenal dengan nama Plengkung Gondomanan atau Tambakbaya dalam sejumlah catatan.
Berbeda dari gerbang lain yang masih dapat dikenali bentuknya, sejarah Madyasura cukup menarik karena gerbang ini pernah ditutup. Penutupan tersebut membuatnya dikenal pula sebagai Plengkung Buntet atau Gapura Buntet.
Menurut data resmi JOGJACAGAR, tiga plengkung, yakni Madyasura, Jagabaya, dan Jagasura, mengalami perubahan setelah Geger Sepehi pada 1812. Madyasura kemudian dibuka kembali pada 1923 atas perintah Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa benteng tidak selalu mempertahankan bentuk dan fungsi yang sama sepanjang zaman. Ketika situasi politik, keamanan, dan kebutuhan kota berubah, akses serta struktur pertahanan pun ikut mengalami penyesuaian.
4. Plengkung Jagasura
Plengkung Jagasura terletak di sisi barat laut benteng dan dikenal dengan nama Plengkung Ngasem. Gerbang ini termasuk dalam lima pintu utama yang dahulu menghubungkan kawasan Baluwerti dengan lingkungan di luarnya. Sebagai bagian dari sistem pertahanan, keberadaannya membantu mengatur akses menuju kawasan keraton.
Nama Jagasura kerap diasosiasikan dengan unsur penjagaan dan keprajuritan. Akan tetapi, fungsi historis gerbang ini sebaiknya dipahami dalam keseluruhan sistem benteng, bukan hanya dari penafsiran namanya.
Perlu dicatat, Plengkung Jagasura berbeda dari Plengkung Jagabaya. Dalam sejumlah tulisan populer, keduanya kadang tertukar karena sama-sama memiliki unsur nama yang berkaitan dengan penjagaan.
5. Plengkung Jagabaya atau Plengkung Tamansari
Plengkung Jagabaya berada di sisi barat benteng dan dikenal sebagai Plengkung Tamansari. Letaknya berkaitan dengan kawasan yang mengarah ke Tamansari, kompleks yang populer dengan sebutan Istana Air.
Tamansari sendiri merupakan bagian penting dari lanskap historis Keraton Yogyakarta. Kawasan ini memiliki bangunan dan ruang yang berkaitan dengan aktivitas keluarga kerajaan, rekreasi, serta kebutuhan keraton pada masa lalu.
Kedekatan geografis antara Plengkung Jagabaya dan kawasan Tamansari membuat gerbang ini menarik untuk ditelusuri dalam satu perjalanan sejarah. Pengunjung bisa melihat bagaimana akses benteng, permukiman, dan kompleks bangunan kerajaan saling terhubung.
Sama seperti plengkung lainnya, Jagabaya bukan sekadar pintu masuk. Gerbang ini merupakan bagian dari sistem yang dahulu memungkinkan akses dikendalikan dan jalur menuju kawasan keraton diawasi.
Benteng Baluwerti Hari Ini: Revitalisasi dan Pelestarian Cagar Budaya
Kini, Benteng Baluwerti berada di tengah kawasan perkotaan Yogyakarta yang terus berkembang. Jalan raya, pertokoan, rumah warga, tempat kuliner, dan berbagai aktivitas wisata tumbuh di sekitar struktur benteng yang usianya sudah mencapai ratusan tahun.
Perubahan tersebut menghadirkan tantangan tersendiri. Benteng harus tetap dirawat sebagai peninggalan sejarah, tetapi pada saat yang sama berada di lingkungan yang menjadi ruang hidup masyarakat.
Kabar baiknya, pelestarian benteng telah menjadi bagian dari upaya perlindungan cagar budaya di Yogyakarta. Data resmi JOGJACAGAR mencatat Benteng Keraton Yogyakarta sebagai struktur cagar budaya berdasarkan keputusan Gubernur DIY Nomor 192/KEP/2019.
Sementara itu, Kawasan Baluwarti Keraton Yogyakarta tercatat sebagai kawasan cagar budaya berdasarkan keputusan tahun 2009.
Penetapan tersebut penting karena pelestarian bangunan bersejarah bukan hanya perkara mempertahankan tampilan fisik. Nilai sejarah, keaslian struktur, lingkungan sekitar, dan hubungan bangunan dengan kehidupan masyarakat juga perlu diperhatikan.
Salah satu contoh upaya pelestarian adalah rehabilitasi dinding Benteng Keraton Yogyakarta yang dilakukan Dinas Kebudayaan DIY pada 2018. Kegiatan tersebut mencakup Plengkung Gading, Plengkung Wijilan, serta tiga pojok beteng, yakni Pojok Beteng Wetan, Pojok Beteng Kulon, dan Pojok Beteng Lor.
Pekerjaan seperti ini penting untuk menjaga kondisi fisik bangunan sekaligus memperpanjang usia struktur bersejarah. Namun, pemeliharaan benteng tidak cukup dilakukan sesekali. Perlu pengawasan berkala, penanganan kerusakan yang sesuai dengan karakter bangunan lama, dan keterlibatan masyarakat di sekitarnya.
Salah satu keunikan kawasan Jeron Beteng adalah keberadaan warisan budaya yang masih menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Rumah tradisional, kampung bersejarah, kegiatan kebudayaan, dan jejak tata ruang lama masih dapat dijumpai di kawasan yang sama.
Dinas Kebudayaan DIY menggambarkan kawasan keraton sebagai living monument, yaitu warisan budaya yang tetap hidup dan mempunyai pengaruh terhadap masyarakat sekitarnya.