5 Situs Candi Kuno di Lereng Gunung Lawu Karanganyar dan Kaitannya dengan Majapahit

Bagikan :
Candi Sukuh, salah satu situs candi kuno yang berada di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah. (GMaps)
Candi Sukuh, salah satu situs candi kuno yang berada di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah. (GMaps)

Kabar Jawa – Gunung Lawu bukan sekadar tujuan pendakian dengan pemandangan alam yang memikat. Di lerengnya, terutama wilayah Karanganyar, Jawa Tengah, tersebar sejumlah situs candi kuno yang menyimpan jejak kehidupan keagamaan dan kebudayaan Jawa pada masa akhir Kerajaan Majapahit.

Mulai dari Candi Sukuh yang bentuknya menyerupai piramida bertingkat, Candi Cetho dengan teras-teras batu yang mengarah ke puncak, hingga situs-situs yang tersembunyi di antara perkebunan dan hutan, semuanya punya cerita menarik untuk ditelusuri.

Menurut buku Menggamit Minat Warisan Budaya Lereng Gunung Lawu terbitan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, kawasan ini memiliki banyak peninggalan arkeologi dari sekitar abad ke-15 Masehi.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa Gunung Lawu pernah menjadi tempat aktivitas kaum resi dan pertapa yang mencari suasana tenang untuk menjalankan kehidupan spiritual.

Lantas, apa saja situs candi di Jawa Tengah yang menyimpan jejak sejarah tersebut? Mari mengenal lima situs kuno di lereng Gunung Lawu sekaligus memahami filosofi yang ada di baliknya.

Peran Penting Lereng Gunung Lawu di Masa Akhir Kerjaaan Majapahit

Untuk memahami keberadaan candi-candi di Gunung Lawu, kita perlu melihat situasi Jawa pada abad ke-15 hingga ke-16. Periode ini merupakan masa perubahan besar dalam kehidupan politik dan keagamaan, seiring melemahnya kekuasaan Majapahit dan berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.

Di tengah perubahan tersebut, lereng Gunung Lawu menjadi salah satu kawasan penting bagi kegiatan keagamaan Hindu dan tradisi spiritual setempat.

Letaknya yang jauh dari pusat permukiman dan suasananya yang relatif sunyi menjadikannya tempat yang sesuai untuk bertapa maupun menjalankan ritual keagamaan.

Penelitian arkeologi yang diterbitkan dalam jurnal Kapata Arkeologi pada 2025 membahas pemujaan terhadap Parwatarajadewa, sosok yang dikaitkan dengan penguasa gunung dalam tradisi keagamaan masa lalu.

Baca juga  Mengurai Sejarah Panjang Bahasa Jawa di Yogyakarta: Dari Bahasa Istana hingga Bahasa Sehari-hari yang Masih Hidup di Era Digital

Kajian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas kaum resi dan pertapa di Gunung Lawu berlangsung sekitar abad ke-15 hingga ke-16.

Lalu, bagaimana dengan kisah Prabu Brawijaya V yang konon mengasingkan diri ke Gunung Lawu setelah Majapahit runtuh?

Cerita tersebut hidup dalam tradisi lisan dan berbagai kisah babad Jawa. Namun, kisah pelarian sang raja tidak bisa disamakan begitu saja dengan fakta arkeologis.

Keberadaan candi-candi di lereng Lawu membuktikan aktivitas keagamaan pada masa lalu, tetapi tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh situs tersebut berkaitan langsung dengan perjalanan Prabu Brawijaya V.

Karena itu, menariknya Gunung Lawu justru terletak pada pertemuan antara sejarah yang dapat diteliti, tradisi spiritual, dan legenda yang diwariskan masyarakat.

5 Situs Candi Kuno di Lereng Gunung Lawu

1. Candi Sukuh: Piramida Unik dengan Relief Penuh Makna

Lokasi: Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar

Candi Sukuh menjadi salah satu situs paling ikonik di lereng Gunung Lawu. Bentuk bangunan utamanya menyerupai piramida terpancung, sehingga sekilas mengingatkan orang pada bangunan suku Maya di Amerika Tengah.

Menurut publikasi resmi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, candi ini berasal dari masa akhir Majapahit, sekitar abad ke-15. Relief dan arca di kompleksnya antara lain berkaitan dengan kisah Garudeya, Sudamala, dan Dewa Ruci.

Salah satu hal yang membuat Candi Sukuh menarik adalah keberadaan simbol lingga dan yoni. Dalam tradisi Hindu, keduanya berkaitan dengan aspek penciptaan dan kesuburan. Karena itu, relief yang terkesan erotis sebaiknya dipahami dalam konteks keagamaan dan simbolisme zamannya, bukan sekadar dianggap sebagai gambar vulgar.

2. Candi Cetho: Teras Bertingkat di Ketinggian

Lokasi: Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar

Berada di lereng Gunung Lawu, Candi Cetho terkenal dengan susunan teras batu yang semakin tinggi menuju bagian belakang kompleks. Udara sejuk, kabut, dan pemandangan perkebunan di sekitarnya menambah kesan istimewa ketika berkunjung.

Baca juga  Mengenal Nisfu Syaban: Jadwal, Keutamaan, dan Amalan yang Dianjurkan

Situs ini merupakan peninggalan Hindu yang berfungsi sebagai tempat peribadatan. Susunan berundaknya kerap dikaitkan dengan perjalanan spiritual, meskipun penafsiran simbolis setiap bagian perlu mempertimbangkan bukti arkeologi dan konteks sejarahnya.

Arsitekturnya juga memperlihatkan karakter khas candi-candi di lereng Lawu yang berbeda dari banyak candi Hindu periode sebelumnya di Jawa.

3. Candi Kethek: Situs Sunyi di Tengah Hutan

Lokasi: Kawasan lereng Gunung Lawu, Karanganyar

Jika Candi Sukuh dan Cetho sudah cukup dikenal, Candi Kethek menawarkan suasana yang lebih tersembunyi. Situs ini memiliki struktur teras bertingkat yang dibangun mengikuti kontur lereng, dengan batu andesit sebagai salah satu bahan utamanya.

Penelitian Heri Purwanto, Coleta Palupi Titasari, dan I Wayan Sumerata yang terbit dalam jurnal Forum Arkeologi pada 2017 membahas karakter bangunan dan latar belakang keagamaan Candi Kethek. Kajian tersebut menempatkannya sebagai bagian penting dari sebaran peninggalan arkeologi Gunung Lawu.

Susunan teras dan pemanfaatan batu alam memperlihatkan kemampuan masyarakat masa lalu menyesuaikan bangunan dengan kondisi geografis pegunungan.

4. Candi Planggatan: Jejak Kompleks Pertapaan Kuno

Lokasi: Dukuh Tambak, kawasan lereng Lawu, Karanganyar

Tidak semua candi kuno masih berdiri utuh. Candi Planggatan justru menarik karena sebagian besar tinggalannya berupa struktur batu, reruntuhan, dan sisa bangunan yang menyimpan petunjuk tentang aktivitas masa lampau.

Penelitian Heri Purwanto dan Coleta Palupi Titasari mengenai Candi Planggatan yang diterbitkan dalam jurnal Naditira Widya mengajukan interpretasi bahwa kompleks ini kemungkinan merupakan mandala kedewaguruan, yakni lingkungan suci yang berkaitan dengan kehidupan dan kegiatan keagamaan kaum resi. Penafsiran tersebut didukung oleh pola halaman, temuan artefak, serta sumber tekstual yang dikaji peneliti.

Planggatan juga dikaitkan dengan tradisi naskah Jawa, termasuk Serat Centhini. Namun, hubungan antara cerita dalam naskah dan fungsi spesifik setiap bangunan perlu dipahami sebagai hasil interpretasi, bukan kepastian mutlak.

Baca juga  Mengapa Grebeg di Yogyakarta dan Surakarta Masih Menjadi Daya Tarik Wisata Budaya?

5. Candi Buntar: Jejak Arkeologi yang Belum Banyak Dikenal

Lokasi: Kawasan lereng Gunung Lawu, Karanganyar

Candi Buntar melengkapi gambaran tentang banyaknya peninggalan arkeologi yang tersebar di lereng Gunung Lawu. Berbeda dengan dua candi utama yang populer sebagai tujuan wisata, situs ini belum banyak dikenal oleh masyarakat umum.

Inventarisasi peninggalan arkeologi di lereng barat Gunung Lawu mencatat Candi Buntar sebagai salah satu situs dari periode klasik, meskipun penanggalan pastinya belum diketahui. Sebuah arca Durga Mahisasuramardini juga dilaporkan pernah ditemukan di kawasan ini.

Keterbatasan informasi mengenai situs ini justru menjadi pengingat bahwa penelitian arkeologi masih berperan penting dalam mengungkap sejarah kawasan pegunungan.

Filosofi Tantrayana dan Spiritualitas Jawa di Lereng Lawu

Keunikan candi-candi di Gunung Lawu sering memunculkan pembahasan mengenai Tantrayana, tradisi keagamaan yang memiliki beragam praktik dan simbol dalam sejarah Hindu maupun Buddha.

Candi Sukuh, misalnya, memiliki simbol lingga-yoni dan relief yang berkaitan dengan proses penyucian serta kisah-kisah keagamaan. Akan tetapi, tidak tepat jika seluruh situs di lereng Lawu langsung disebut sebagai candi Tantrayana tanpa pemeriksaan bukti khusus untuk masing-masing situs.

Yang dapat dilihat dengan lebih jelas adalah adanya corak keagamaan yang khas pada masa akhir Majapahit. Penelitian arkeologi memperlihatkan bahwa sebagian kompleks di kawasan tersebut berkaitan dengan kehidupan kaum resi, pertapaan, dan pemujaan dewa.

Susunan teras yang mengikuti kontur gunung juga memperlihatkan bagaimana ruang alam diolah menjadi ruang sakral. Gunung bukan hanya latar geografis, melainkan bagian penting dari pengalaman spiritual masyarakat pada masa itu.

Berita Terbaru

Ilustrasi - Modal Rp2 juta, berikut lima ide usaha kuliner malam di Bantul yang bisa dimulai dari rumah atau lapak sederhana. (AI/Kabar Jawa)
Modal Rp2 Jutaan! 5 Ide Usaha Kuliner Malam di Bantul yang Bisa Dimulai dari Rumah
Candi Sukuh, salah satu situs candi kuno yang berada di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah. (GMaps)
5 Situs Candi Kuno di Lereng Gunung Lawu Karanganyar dan Kaitannya dengan Majapahit
Serial Drama Korea 100 Days of Deception.
100 Days of Deception Episode 4 Tayang Jam Berapa Malam Ini? Cek Jadwal, Prediksi Cerita, dan Link Nonton Resmi
Prosesi Pembukaan Cupu Kyai Panjala di Kalurahan Girisekar, Gunungkidul, Selasa (29/9/2025). (Ef Linangkung)
Mengenal Cupu Panjala, Tradisi Leluhur Pembaca Pertanda Alam di Gunungkidul
Bukan sekedar ramalan, berikut ini lima fungsi weton jawa dari sudut pandang psikologi dan sains populer, serta cara memaknai di era modern. (AI/Kabar Jawa)
Bukan Sekadar Ramalan, Inilah 5 Fungsi Weton Jawa dari Sudut Pandang Psikologi dan Sains Populer

Terpopuler

Hamenang Wajar Ismoyo anak siapa dan dari partai apa? Simak profil, perjalanan politik, kronologi OTT KPK, serta dugaan kasusnya!
Hamenang Wajar Ismoyo Anak Siapa dan Berasal dari Partai Apa? Profil, Kronologi OTT KPK, dan Kasus yang Menjeratnya
Drama Korea Doctor X: Mafia in White atau Doctor X: Age of the White Mafia.
Doctor X: Age of the White Mafia Episode 4 Tayang Jam Berapa di Netflix? Cek Jadwal, Link Nonton, dan Prediksi Cerita
Twibbon Hari Kebudayaan Nasional 2026, pilih desain estetik, pasang foto, lalu bagikan gratis di media sosial 17 Oktober. (Twibbonize)
Link Twibbon Hari Kebudayaan Nasional 2026 Desain Estetik dan Terbaru untuk Media Sosial, Bagikan Gratis 16 Oktober
Kenapa ChatGPT muncul This Response Couldn’t Load? Ketahui arti error, penyebab, dan cara mengatasinya berdasarkan panduan resmi OpenAI.
Kenapa Chat GPT This response couldn’t load Terus? Ketahui Arti, Penyebab, dan Cara Mengatasi Chat GPT Error
Yadi Timo meninggal pada 16 Oktober 2026 di usia 66 tahun. Simak kronologi wafat, kondisi kesehatan, agama, dan profilnya.
Yadi Timo Meninggal Karena Apa? Ketahui Artis Senior Ini Sakit Apa, Penyebab Wafat, Agama, hingga Profil Singkatnya