Kabar Jawa – Di tengah riuhnya ribuan warga yang berdesakan menantikan pembagian gunungan, tersimpan sebuah filosofi kehidupan yang telah diwariskan lintas generasi. Aneka hasil bumi yang menjulang membentuk kerucut bukan sekadar sajian dalam perayaan Grebeg Maulud. Di balik bentuk dan susunannya, terdapat pesan mendalam tentang hubungan manusia dengan alam, rasa syukur kepada Tuhan, serta ikhtiar mencari keberkahan hidup.
Dalam kosmologi Jawa, gunung memiliki kedudukan istimewa. Ia tidak hanya dipahami sebagai bentang alam yang menjulang tinggi, tetapi juga menjadi simbol hubungan antara dunia manusia dan dimensi ketuhanan. Gunung dianggap sebagai ruang sakral, tempat manusia membayangkan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Pandangan tersebut kemudian diwujudkan melalui bentuk gunungan, sebuah representasi visual menyerupai gunung yang tersusun dari berbagai hasil bumi. Bagi masyarakat Jawa, khususnya dalam lingkungan keraton, gunungan menjadi simbol penghormatan terhadap alam sekaligus ungkapan rasa syukur atas kehidupan dan kesuburan tanah.
Dalam perayaan Grebeg Maulud, simbolisme itu mencapai salah satu ekspresi paling kuat. Gunungan menjadi representasi hubungan antara manusia, alam yang memberikan kehidupan, dan Tuhan sebagai sumber segala berkah.
Dari Numplak Wajik, Mengawali Perjalanan Sebuah Gunungan
Kemegahan gunungan yang diarak dalam perayaan Grebeg Maulud tidak tercipta dalam waktu singkat. Sebelum menjadi pusat perhatian masyarakat, setiap gunungan melalui serangkaian proses persiapan yang sarat makna tradisional.
Salah satu tahapan pentingnya adalah ritus Numplak Wajik yang berlangsung di Pareden Magangan. Dalam prosesi ini, para abdi dalem keraton berkumpul untuk mempersiapkan bahan dan kerangka dasar gunungan.
Wajik, makanan tradisional berbahan dasar ketan yang memiliki tekstur lengket, menjadi salah satu unsur penting dalam proses pembuatannya. Selain sebagai bagian dari konstruksi, wajik juga memiliki makna simbolis tentang kebersamaan dan keterikatan.
Setelah kerangka terbentuk, proses berlanjut pada penyusunan berbagai hasil bumi. Kacang panjang, cabai merah, sayuran, buah-buahan, hingga rengginang dirangkai secara teliti mengikuti bentuk yang telah ditentukan.
Setiap bahan disusun sedemikian rupa hingga membentuk bangunan menyerupai gunung yang menjulang. Perpaduan warna dan jenis pangan menciptakan tampilan yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memperlihatkan kekayaan hasil pertanian masyarakat.
Dari proses tersebut, lahirlah beragam jenis gunungan dengan bentuk dan karakteristik masing-masing. Dua di antaranya adalah Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon.
Gunungan Lanang memiliki bentuk yang cenderung tinggi dan meruncing, menyerupai lingga. Bentuk ini dimaknai sebagai simbol tanggung jawab dan kepemimpinan laki-laki. Sementara itu, Gunungan Wadon memiliki bentuk lebih membulat menyerupai yoni yang merepresentasikan kesuburan, keharmonisan, dan peran perempuan sebagai pengayom keluarga.
Keduanya memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa menerjemahkan pandangan tentang kehidupan melalui bentuk, bahan, dan simbol yang dekat dengan keseharian.
Kerucut Gunungan dan Filosofi Sangkan Paraning Dumadi
Jika diperhatikan lebih dekat, bentuk gunungan menyimpan pesan filosofis yang jauh melampaui keindahan susunan hasil bumi. Bentuknya yang lebar di bagian bawah, kemudian semakin menyempit hingga mencapai satu titik di bagian atas, merepresentasikan perjalanan kehidupan manusia.
Dalam falsafah Jawa, konsep tersebut dikenal sebagai Sangkan Paraning Dumadi, yakni pemahaman mengenai asal-usul dan tujuan akhir kehidupan.
Bagian dasar gunungan yang lebar menggambarkan kehidupan duniawi dengan segala keragaman kebutuhan, keinginan, dan tantangannya. Sementara itu, bentuk yang semakin mengerucut ke atas melambangkan perjalanan spiritual manusia menuju satu tujuan tertinggi, yakni Tuhan Yang Maha Esa.
Filosofi ini juga berkaitan dengan konsep Manunggaling Kawula Gusti, sebuah pemahaman spiritual tentang kedekatan dan penyatuan batin antara manusia sebagai hamba dengan Sang Pencipta.
Makna tersebut bukan sekadar interpretasi budaya yang diwariskan secara lisan. Sejumlah penelitian akademis turut menguraikan kedalaman simbolisme gunungan dalam tradisi Grebeg.
Kajian Ahmad Adib yang dipublikasikan melalui repositori Universitas Gadjah Mada (UGM), misalnya, menjelaskan bahwa elemen visual dan desain Gunungan Grebeg Maulud berfungsi sebagai media komunikasi budaya. Melalui bentuk dan susunan simboliknya, gunungan menyampaikan pesan mengenai kedermawanan raja sekaligus nilai-nilai luhur dalam perpaduan budaya Jawa dan Islam.
Penelitian lain oleh Novi Nurlaili dalam repositori UGM juga menyoroti dimensi religius gunungan. Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merepresentasikan perjalanan spiritual manusia dalam memahami hubungan dengan Tuhan melalui konsep Manunggaling Kawula Gusti.
Sementara itu, penelitian Hafshah ‘Abidatul Mu’azaroh dari UIN Malang menguraikan bagaimana unsur-unsur gunungan mencerminkan akulturasi budaya yang berkembang melalui dakwah Wali Songo. Tradisi yang berakar pada kebudayaan lokal tersebut kemudian diadaptasi menjadi media penyebaran nilai-nilai Islam, termasuk sedekah dan ungkapan syukur atas nikmat kesuburan yang diberikan Allah SWT.
Dengan demikian, gunungan bukan hanya benda budaya, melainkan juga media penyampaian pesan moral dan spiritual yang dapat dipahami oleh masyarakat lintas generasi.
Ngalap Berkah: Ketika Perebutan Menjadi Simbol Ikhtiar
Salah satu momen yang paling dinantikan dalam perayaan Grebeg Maulud adalah saat gunungan dibagikan kepada masyarakat.
Begitu prosesi pembagian dimulai, suasana yang sebelumnya tertib dapat berubah menjadi riuh. Warga berbondong-bondong mendekati gunungan untuk mendapatkan bagian dari hasil bumi yang telah disusun dan diarak dalam rangkaian upacara keraton.
Tradisi ini dikenal dengan istilah ngalap berkah.
Bagi sebagian orang, mendapatkan potongan sayuran, buah, atau makanan dari gunungan dipercaya membawa keberuntungan dan ketenteraman bagi keluarga. Bahan pangan tersebut kerap dibawa pulang, disimpan, atau dimanfaatkan sebagaimana makanan pada umumnya.
Namun, di balik suasana perebutan yang terlihat meriah, terdapat pesan filosofis yang lebih dalam. Ngalap berkah dapat dimaknai sebagai gambaran ikhtiar manusia dalam menjalani kehidupan.
Rezeki dan keberkahan tidak datang begitu saja. Manusia perlu berusaha, bekerja keras, dan menjalani kehidupan dengan kesungguhan. Sebagaimana masyarakat petani yang mengolah tanah untuk mendapatkan hasil panen, kehidupan juga menuntut usaha dan ketekunan.
Dalam konteks tradisi keraton, hasil bumi yang telah melewati rangkaian ritual dan doa menjadi simbol harapan agar keberkahan senantiasa menyertai kehidupan masyarakat.
Karena itu, ngalap berkah bukan semata-mata tentang siapa yang berhasil mendapatkan bagian terbesar dari gunungan. Lebih jauh, tradisi tersebut menjadi pengingat mengenai pentingnya usaha, rasa syukur, dan keyakinan terhadap kemurahan Tuhan.
Dari Media Dakwah hingga Daya Tarik Wisata Budaya
Perjalanan tradisi Grebeg Maulud tidak dapat dilepaskan dari sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana kebudayaan lokal dapat menjadi sarana penyampaian ajaran agama tanpa harus menghilangkan identitas masyarakat setempat.
Dalam berbagai catatan sejarah dan tradisi lisan, Sunan Kalijaga dikenal sebagai salah satu tokoh yang mengembangkan pendekatan dakwah melalui kesenian dan kebudayaan. Gamelan, keramaian masyarakat, serta tradisi berkumpul menjadi medium untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam.
Pendekatan tersebut memperlihatkan kemampuan para penyebar Islam dalam merangkul tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat. Nilai-nilai keislaman disampaikan melalui simbol dan kegiatan budaya yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Seiring berjalannya waktu, Grebeg Maulud berkembang menjadi salah satu perhelatan budaya yang identik dengan Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Perayaan ini tidak hanya dinantikan oleh masyarakat setempat, tetapi juga menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.
Arak-arakan gunungan kini menjadi bagian penting dari daya tarik wisata budaya. Kehadirannya kerap diabadikan melalui kamera, dibagikan di media sosial, dan menjadi objek dokumentasi bagi para pengunjung.
Meski mengalami perkembangan sebagai atraksi pariwisata, tradisi ini tetap menyimpan dimensi sakral yang tidak dapat dilepaskan dari akar sejarahnya.
Di sinilah tantangan pelestarian budaya muncul. Bagaimana menjaga agar Grebeg Maulud tidak sekadar menjadi tontonan tahunan, tetapi tetap dipahami sebagai warisan nilai dan pengetahuan masyarakat Jawa?
Jawabannya terletak pada upaya menjaga pemahaman terhadap makna di balik setiap prosesi. Sebab, pelestarian tradisi tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk perayaannya, tetapi juga harus merawat filosofi yang menjadi fondasinya.
Gunungan sebagai Pengingat untuk Bersyukur kepada Alam
Pada akhirnya, gunungan Grebeg Maulud menghadirkan pesan yang tetap relevan di tengah kehidupan modern.
Ketika masyarakat semakin akrab dengan kemudahan teknologi dan perubahan gaya hidup, gunungan mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari alam. Pangan yang dikonsumsi setiap hari berasal dari tanah yang diolah, air yang menghidupi tanaman, serta kerja keras para petani.
Di balik setiap hasil bumi yang tersusun menjulang, terdapat proses panjang yang melibatkan alam dan manusia. Karena itu, gunungan juga dapat dibaca sebagai simbol penghormatan terhadap sumber kehidupan.
Tradisi ini mengajarkan bahwa kesuburan bukan sekadar sesuatu yang dinikmati, melainkan anugerah yang harus dijaga. Rasa syukur tidak cukup diwujudkan melalui doa dan ritual, tetapi juga melalui sikap bijak dalam memperlakukan lingkungan.
Grebeg Maulud pada akhirnya bukan hanya perayaan tentang gunungan yang diperebutkan atau arak-arakan yang disaksikan ribuan pasang mata. Ia merupakan perjumpaan antara sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal yang terus hidup dalam masyarakat Jawa.
Melalui bentuk kerucutnya, gunungan menyampaikan pesan tentang perjalanan manusia menuju Tuhan. Melalui hasil buminya, ia mengingatkan manusia untuk menghargai alam. Dan melalui tradisi ngalap berkah, ia mengajarkan bahwa kehidupan membutuhkan ikhtiar, kebersamaan, serta rasa syukur.
Sebuah gunungan mungkin hanya bertahan selama prosesi berlangsung. Namun, filosofi yang dikandungnya diharapkan terus tumbuh dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.