
KabarJawa.com – Kehadiran bulan suci Ramadhan 1447H / 2026M tinggal hitungan hari lagi. Sebagai bulan yang dinanti-nantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia, Ramadhan menawarkan segudang keutamaan, salah satunya sebagai momentum penggugur dosa.
Di antara sekian banyak dalil yang memotivasi umat untuk beribadah, terdapat satu hadits populer yang menjadi sandaran utama mengenai ampunan Allah SWT bagi orang yang berpuasa.
Hadits tersebut sering kita dengar dalam transliterasi: ‘Man Shoma Romadhona Imanan Wahtisaban Ghufiro Lahu Maa Taqoddama Min Dzanbih‘.
Kalimat ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan janji nyata bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa dengan ketulusan hati.
Hadits tentang Keutamaan Puasa
Berdasarkan riwayat Imam Bukhari, Nabi Muhammad SAW memberikan kabar gembira bagi hamba-hamba Allah yang bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Berikut adalah tulisan Arab hadits tentang keutamaan puasa yang benar beserta artinya:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Latin: Man Shoma Romadhona Imanan Wahtisaban Ghufiro Lahu Maa Taqoddama Min Dzanbih
Artinya: “Barang siapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari).
Ramadhan – Momentum Kembali kepada Allah
Mengutip laman resmi pemerintah Kota Depok, Ramadhan adalah bulan penuh berkah di mana Allah SWT melipatgandakan pahala ibadah serta membentangkan ampunan yang seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang ingin bertaubat. Keistimewaan ini tidak akan ditemui pada hari-hari biasa di luar bulan suci.
Disebutkan bahwa para ulama mengingatkan seseorang agar tidak menyia-nyiakan bulan suci Ramadhan. Dengan kata lain, mereka harus bisa melewati Ramadhan dan meraih manfaat darinya.
Oleh karena itu, memohon ampunan adalah agenda yang tidak boleh terlewatkan. Ramadhan menjadi saat yang paling tepat untuk kembali kepada Allah melalui sujud, istighfar, dan taubat yang sungguh-sungguh.
Hakikat Puasa dan Pensucian Jiwa
Selain sebagai bulan ampunan, Ramadhan dikenal sebagai bulan pensucian jiwa atau Riyadlatunnafsi. Melansir penjelasan dari laman resmi Kemenag Maluku, puasa bertujuan untuk mengurangi dominasi hawa nafsu yang sering kali merusak sifat kemanusiaan.
Melalui pengurangan makan, minum, dan tidur, puasa melatih rohani agar lebih tinggi karena bebas dari ikatan jasadi. Iman yang kokoh inilah yang nantinya membuat seorang mukmin merasa mudah dan sungguh-sungguh dalam mengabdi kepada Allah SWT semata.
Rasulullah SAW sendiri dicontohkan selalu meningkatkan amalan akhiratnya secara signifikan saat memasuki bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Puasa Lebih dari Sekadar Menahan Lapar
Disebutkan pula bahwa esensi puasa bukan hanya sekadar menahan lapar, dahaga, dan lainnya di siang hari. Puasa yang berkualitas harus disertai dengan kemampuan menjaga diri dari perbuatan nista dan dosa.
Beberapa hal yang dapat merusak kualitas puasa antara lain:
- Bertengkar dan marah.
- Berdusta atau hianat.
- Sifat dengki, riya, dan sombong.
- Bermegah-megahan serta perbuatan jahat lainnya.
Jika seseorang hanya fokus menahan lapar dan dahaga tanpa menjaga akhlaknya, maka ia hanya akan mendapatkan rasa lapar tersebut tanpa nilai sedikit pun di sisi Allah SWT.
Tujuan akhir dari puasa adalah memperhalus jiwa dan membersihkannya dari segala dosa, sehingga hadits ‘man shoma romadhona‘ dapat terwujud secara nyata dalam kehidupan seorang Muslim.***