
KabarJawa.com – Jagat media sosial belakangan ini kembali diramaikan oleh viralnya sebuah postingan meme yang menampilkan gambar seekor burung hantu. Menariknya, di dalam foto tersebut disematkan sebuah tulisan berbunyi “Digidaw”.
Potret burung hantu itu sendiri tampak basah kuyup dan menampilkan ekspresi wajah yang datar namun dinilai cukup lucu serta menggemaskan oleh warganet.
Fenomena ini tentu mengundang rasa penasaran, terutama bagi pengguna media sosial yang kurang mengikuti tren bahasa gaul.
Lantas, apa sebenarnya arti dari kata “Digidaw” dalam unggahan viral tersebut? Berikut adalah penjelasan lengkapnya.
“Digidaw” Bukan Kata Resmi dalam Bahasa Indonesia
Berdasarkan penelusuran tren media sosial yang dihimpun tim KabarJawa.com, kata “Digidaw” bukan termasuk kosakata baku dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI.
Istilah tersebut lebih dikenal sebagai bentuk pelesetan bahasa gaul yang berasal dari efek suara atau sound effect yang kerap digunakan dalam video-video humor di media sosial.
Dalam konteks kebahasaan, “Digidaw” disebut termasuk kategori onomatope atau tiruan bunyi. Karena berasal dari efek suara komedi, kata ini tidak mempunyai arti harfiah yang spesifik.
Meski demikian, pengguna media sosial memberikan makna tersendiri terhadap istilah tersebut. Kata “Digidaw” umumnya dipakai untuk menggambarkan suasana lucu, konyol, pasrah, atau sebagai respons terhadap kejadian apes yang tetap terasa menghibur.
Tidak sedikit warganet yang menggunakan kata ini sebagai pelengkap caption, komentar, maupun balasan percakapan bercanda di internet.
Meme Burung Hantu Basah Berasal dari Fenomena “Wet Owl”
Sementara itu, gambar burung hantu yang menjadi latar meme tersebut ternyata bukan hal baru di dunia internet. Foto itu merujuk pada fenomena meme global yang dikenal dengan nama “Wet Owl”.
Burung hantu dalam gambar terlihat basah kuyup dengan bulu berantakan serta ekspresi wajah yang tampak bingung dan lelah. Justru karena tampilannya yang unik dan menggemaskan itulah foto tersebut mudah menarik perhatian pengguna media sosial.
Perpaduan antara ekspresi burung hantu basah dengan tulisan “Digidaw” pertama kali ramai digunakan sekitar tahun 2023. Kini, tren tersebut kembali viral setelah banyak akun media sosial mengunggah ulang meme tersebut dalam berbagai versi baru.
Popularitasnya semakin meningkat karena dianggap sangat relevan dengan kondisi kehidupan sehari-hari yang penuh kejadian tidak terduga.
Sering Digunakan untuk Menggambarkan Rasa Lelah dan Apes
Salah satu alasan meme “Digidaw” cepat menyebar adalah karena ekspresi burung hantu pada gambar dianggap sangat relatable oleh warganet.
Banyak pengguna internet memakai meme ini untuk menggambarkan kondisi lelah setelah menjalani aktivitas berat, mengalami kesialan kecil, atau menghadapi situasi yang membuat pasrah.
Ekspresi burung hantu yang terlihat canggung, kusut, dan basah sering diibaratkan sebagai representasi suasana hati seseorang ketika mengalami hari yang buruk.
Karena itu, meme ini kerap muncul dalam unggahan tentang pekerjaan menumpuk, tugas kuliah, masalah percintaan, hingga kejadian sehari-hari yang berakhir tidak sesuai harapan.
Juga Dipakai untuk Humor Kesialan Sehari-hari
Selain menggambarkan rasa lelah, kata “Digidaw” juga sering digunakan sebagai komentar humor dalam berbagai unggahan tentang kesialan ringan.
Warganet biasanya memakai istilah tersebut untuk merespons video lucu, kejadian apes, atau momen memalukan yang tetap menghibur.
Hal semacam itu membuat kata “Digidaw” semakin identik dengan humor receh khas internet yang ringan namun mudah dipahami banyak orang.
Meme Lama yang Kembali Naik Daun
Meski terlihat baru bagi sebagian pengguna media sosial, tren “Digidaw” sebenarnya pernah populer beberapa tahun lalu.
Meme tersebut kini kembali ramai karena budaya internet yang sering menghidupkan ulang tren lama dengan konteks baru.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah gambar sederhana dengan tambahan kata unik dapat berkembang menjadi bahasa humor bersama di kalangan warganet.
Selain menjadi hiburan, meme seperti “Digidaw” juga memperlihatkan kreativitas pengguna internet dalam menciptakan istilah baru yang mudah viral dan digunakan secara luas di media sosial.***