
KABAR JAWA – Mubeng Ring Road menjadi tradisi unik anak muda Jogja untuk melarung kesedihan. Dari menyusuri jalan lingkar, nongkrong di kafe dan angkringan, hingga berburu suasana malam, semua menjadi cara khas warga Jogja melepas galau.
Yogyakarta sering dipuji sebagai kota penuh romansa. Banyak yang menyebutnya pecahan surga yang jatuh ke bumi, dikelilingi langit biru yang seolah selalu siap merangkul setiap hati yang singgah.
Setiap tikungan, gang sempit, hingga pojokan jalan, menyimpan cerita yang tak mudah dilupakan. Bahkan hujan dini hari di kota ini kerap dipersonifikasikan sebagai tanda kasih sayang langit yang turun kembali ke bumi.
Namun, seindah apa pun Jogja, bukan berarti warganya terbebas dari rasa sedih. Anggapan orang luar bahwa masyarakat Jogja diciptakan untuk bahagia, hanyalah stereotip yang tidak sepenuhnya benar.
Warga Jogja tetap manusia biasa: bisa lapar, haus, patah hati, bahkan ambyar karena urusan asmara.
Lalu bagaimana cara anak muda Jogja menghadapi kesedihan itu? Salah satu jawabannya ada pada tradisi sederhana namun sarat makna: mubeng Ring Road.
Ring Road: Jalan Lingkar, Jalan Melarung Sedih
Ring Road Yogyakarta adalah jalan lingkar sepanjang kurang lebih 36,7 kilometer yang mengitari Kota Jogja.
Jalur ini melintasi Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul, sekaligus menjadi urat nadi transportasi. Namun bagi anak muda Jogja, jalan ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan ruang pelarian saat hati sedang gundah.
Mengendarai motor menyusuri Ring Road memberi sensasi tersendiri. Suara mesin yang berpacu, angin malam yang menusuk, dan lalu lintas yang menuntut kewaspadaan, seolah menjadi pengingat bahwa hidup memang harus dijalani dengan penuh kehati-hatian. Banyak yang percaya, setelah satu putaran penuh, kesedihan bisa ikut larut bersama deru kendaraan.
Mengapa Mubeng Ring Road Jadi Tradisi Anak Muda Jogja?
Dari obrolan dengan beberapa kawan, ada sejumlah alasan kenapa tradisi ini begitu digemari:
1. Melupakan Kesedihan dengan Aktivitas Spontan
Meski terlihat tanpa tujuan, mubeng Ring Road sebenarnya punya makna. Ada yang sengaja mencari hiburan, seperti melihat baliho konser musik atau sekadar menikmati lampu kota.
Beberapa Sobat Ambyar bahkan merasa lebih “nyess” ketika menemukan jadwal konser Lord Didi Kempot di baliho pinggir jalan ketimbang melihat di media sosial.
2. Menyanyi dan Menangis Tanpa Rasa Malu
Bagi sebagian orang, konser Didi Kempot dulu menjadi wahana meluapkan kesedihan bersama ribuan orang lain.
Bernyanyi sekaligus menangis dianggap wajar, bahkan menjadi pengalaman katarsis yang menyembuhkan. Tradisi mubeng Ring Road memiliki semangat yang mirip: menangis di balik helm, tanpa ada yang menilai.
3. Berburu Kafe Pinggiran untuk Merenung
Setelah puas berputar, banyak yang memilih berhenti di kafe-kafe di pinggiran Jogja. Di sana, mereka bisa melanjutkan perenungan dengan ditemani kopi dan lagu-lagu galau.
Mulai dari Kartonyono Medot Janji milik Denny Caknan, hingga Yowes Modaro dari Aftershine, playlist kafe sering kali selaras dengan suasana hati pengunjung.
4. Angkringan sebagai Tempat Curhat
Jika kafe dirasa terlalu ramai, angkringan di sekitar Ring Road selalu siap menyambut. Penjual angkringan sering menjadi pendengar setia, tempat curhat tanpa khawatir rahasia terbongkar.
Harga makanan yang murah, suasana sederhana, dan interaksi hangat dengan penjual membuat angkringan jadi pilihan alternatif yang menenangkan.
5. Harapan Menemukan Pertemuan Baru
Tidak jarang ada yang berharap tradisi ini mempertemukan mereka dengan orang baru. Misalnya, menolong pengendara yang motornya bocor lalu berkenalan.
Meskipun terlihat sepele, bagi sebagian anak muda Jogja, pertemuan tak terduga di Ring Road bisa menjadi pengalih duka sekaligus awal cerita baru.
Cerita tentang mubeng Ring Road bukan sekadar mitos. Banyak anak muda Jogja melakukannya secara nyata.
Meski tampak sederhana, mubeng Ring Road juga menyimpan risiko. Kecepatan tinggi, kondisi emosional yang tidak stabil, serta rawan kejahatan jalanan seperti klitih membuat aktivitas ini bisa berbahaya. Polisi bahkan menyarankan agar anak muda lebih berhati-hati dan tetap taat aturan lalu lintas.
Sri Sultan Hamengku Buwono X pun pernah memberi penegasan pada tahun 2017, ketika nama Ring Road resmi diubah menjadi beberapa ruas jalan seperti Jalan Pajajaran, Jalan Siliwangi, Jalan Majapahit, Jalan Brawijaya, Jalan Ahmad Yani, dan Jalan Prof. Dr. Wirjono Projodikoro.
Penamaan ini bukan hanya administratif, tetapi juga simbol rekonsiliasi sejarah. Dari sana, kita bisa belajar: melarung kesedihan sebaiknya dilakukan dengan sikap dewasa, penuh tanggung jawab, dan tanpa dendam.
Tradisi mubeng Ring Road menunjukkan sisi lain kehidupan anak muda Jogja. Jalan lingkar sepanjang hampir 37 kilometer itu menjadi saksi bisu banyaknya air mata yang tumpah di atas jok motor.
Namun, tradisi ini juga mengajarkan bahwa setiap kesedihan bisa dikelola dengan cara sederhana: bergerak, berkendara, dan memberi ruang untuk hati yang sedang terluka.
Galau itu wajar, menangis pun manusiawi. Tetapi jangan sampai kesedihan membuat kita lupa menjaga keselamatan diri dan orang lain. Jogja selalu punya cara untuk menyembuhkan, bahkan lewat jalan lingkar yang dipenuhi deru kendaraan.
***