
KabarJawa.com – Menjelang perayaan Tri Hari Suci, banyak umat Kristiani kembali mempertanyakan pilihan warna pakaian yang tepat saat mengikuti ibadah Jumat Agung dan Sabtu Suci.
Pertanyaan ini sering kali muncul karena kedua momen tersebut memiliki makna liturgis yang berbeda, sehingga warna pakaian yang dikenakan pun dianjurkan menyesuaikan suasana iman yang sedang dihayati.
Dalam tradisi Gereja Katolik, warna liturgi memiliki fungsi penting sebagai sarana simbolik untuk menyampaikan pesan iman. Setiap warna yang digunakan dalam ibadah menggambarkan suasana batin serta peristiwa yang sedang diperingati.
Perubahan warna dari satu perayaan ke perayaan lainnya menjadi penanda perjalanan iman umat, khususnya selama Pekan Suci hingga Paskah. Oleh karena itu, umat diperbolehkan untuk menyesuaikan warna pakaiannya.
Lantas, apa warna untuk Jumat Agung dan Sabtu Suci? Merujuk pada kalender liturgi resmi di laman Iman Katolik, berikut penjelasannya.
Jumat Agung (Warna Merah atau Gelap)
Secara liturgi, perayaan ibadah Jumat Agung menggunakan ornamen dan pakaian liturgi bagi imam berwarna merah.
Warna merah ini secara khusus menegaskan makna penderitaan, pengorbanan darah, hingga wafatnya Yesus Kristus di kayu salib. Suasana ibadah pada hari ini sangat hening, syahdu, dan penuh refleksi kerendahan hati.
Bagi para umat yang hadir, mereka dianjurkan untuk mengenakan pakaian bernuansa merah (sebagai bentuk keselarasan dengan warna liturgi) atau mengenakan pakaian berwarna netral dan gelap seperti hitam, yang melambangkan suasana duka, perkabungan, dan pertobatan.
Sabtu Suci dan Vigili Paskah (Warna Putih atau Emas)
Memasuki Sabtu Suci, suasana liturgi mengalami perubahan yang sangat signifikan. Puncak perayaan Sabtu Suci adalah Vigili Paskah, yang menandai kebangkitan Yesus Kristus dari kematian.
Pada momen ini, warna liturgi berubah menjadi putih atau emas. Warna putih melambangkan kesucian, kemenangan, dan kehidupan baru, sementara emas menggambarkan kemuliaan dan keagungan kebangkitan Kristus.
Peralihan warna ini menjadi simbol perjalanan dari kegelapan menuju terang. Setelah melalui suasana duka pada Jumat Agung, umat diajak untuk merayakan sukacita kebangkitan yang membawa harapan baru.
Umat yang menghadiri ibadah Sabtu Suci atau Vigili Paskah dianjurkan mengenakan pakaian berwarna terang, terutama putih. Pilihan ini mencerminkan hati yang bersih, sukacita iman, serta kesiapan menyambut kebangkitan Kristus.
Simbolisme Warna sebagai Sarana Penghayatan Iman
Penggunaan warna dalam liturgi bukan sekadar tradisi visual, melainkan bagian dari katekese atau pengajaran iman yang mendalam. Setiap warna membawa pesan teologis yang membantu umat memahami makna peristiwa keselamatan.
Melalui rangkaian warna selama Pekan Suci, umat diajak untuk mengalami kembali perjalanan iman secara utuh. Dimulai dari penderitaan dan pengorbanan di Jumat Agung, hingga mencapai puncak sukacita pada kebangkitan di Paskah.
Simbol warna ini menjadi pengingat bahwa iman bukan hanya dipahami secara intelektual, tetapi juga dihayati secara nyata melalui tindakan sederhana, termasuk dalam memilih pakaian saat beribadah.
Nah, itulah tadi penjelasan mengenai tema baju Jumat Agung dan Sabtu Suci pekan Paskah 2026 sesuai liturgi.***