
Kabar Jawa – Cinta adalah perasaan kasih sayang yang mengikat kita dalam ikatan kasih sayang dan ketundukan total kepada yang dicintai.
Di momen hari raya Idul Adha ini mari kita renungkan makna cinta sejati dan bagaimana kita dapat mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari.
Khutbah Jumat: Merajut Cinta dalam Kurban
Khutbah Pertama
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بَيَّنَ لَنَا مَعَالِمَ دِينِهِ، وَمَنَّ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ هِدَايَتِهِ، وَأَرْسَلَ إِلَيْنَا أَفْضَلَ خَلْقِهِ، نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، رَسُولًا وَنَذِيرًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Amma ba’du.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Pertama-tama, mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan takwa kepada Allah Ta’ala, dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena hanya dengan takwa, kita bisa menggapai kemuliaan dan kenikmatan surga sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa di sisi Tuhan mereka (disediakan) surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Qalam: 34)
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Idul Adha bukan sekadar hari raya penyembelihan hewan kurban. Ia merupakan simbol cinta dan pengorbanan. Di balik setiap tetesan darah hewan kurban, ada pelajaran besar tentang makna kepatuhan dan keikhlasan kepada Sang Pencipta. Mari kita renungkan kembali kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihimassalam, yang menjadi contoh nyata bagaimana cinta kepada Allah mengalahkan segala rasa kepemilikan pribadi.
Ketika perintah Allah datang untuk menyembelih anaknya sendiri, Ibrahim tidak ragu. Begitu pula Ismail, ia patuh, tunduk, dan ikhlas. Ini bukan semata-mata tentang kurban, melainkan tentang cinta yang tulus, tanpa syarat dan tanpa pamrih. Cinta sejati kepada Allah membutuhkan pembuktian berupa pengorbanan.
Khutbah Kedua
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Cinta, dalam ajaran Islam, bukan sekadar perasaan. Ia adalah energi rohani yang mendorong seorang hamba untuk taat, beribadah, dan merendahkan diri di hadapan Allah. Bahkan, Imam Al-Ghazali dalam karyanya Ihya’ Ulumiddin menyebut bahwa:
الحُبُّ عِبَارَةٌ عَنْ مَيْلِ الطَّبْعِ إِلَى الشَّيْءِ المُلَذِّ
“Cinta adalah kecenderungan alami terhadap sesuatu yang menyenangkan.”
Namun, cinta sejati kepada Allah bukan sekadar rasa senang, tetapi juga pengorbanan. Dalam Lathaiful Isyarat, Imam Al-Qusyairi menyampaikan:
“Syarat cinta adalah tidak menyimpan kepentingan pribadi sedikit pun di dalamnya. Jika masih ada harapan untuk keuntungan pribadi, maka itu belum cinta sejati.”
Dari sini kita memahami bahwa cinta kepada Allah haruslah murni dan total, tanpa mengharapkan balasan duniawi. Idul Adha adalah momentum tepat untuk mengevaluasi cinta kita kepada Allah: Apakah kita hanya mencintai-Nya saat diberi nikmat, atau juga tetap mencintai ketika diuji?
Cinta Kepada Sesama: Manifestasi Iman
Ma’asyiral muslimin,
Selain cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, Islam juga mengajarkan pentingnya mencintai sesama manusia. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:
“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan benar-benar beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Ahmad)
Cinta kepada sesama bukan hanya memperkuat ukhuwah islamiyah, tetapi juga menjadi cermin keimanan seseorang. Orang yang beriman, seperti yang difirmankan Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 165:
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ
“Adapun orang-orang yang beriman, sangat kuat cinta mereka kepada Allah.”
Ini menunjukkan bahwa orang yang benar-benar beriman akan tetap mencintai dan menyembah Allah dalam segala keadaan—baik saat diberi nikmat maupun ketika diuji.
Penutup: Merajut Cinta dalam Kurban
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Hari raya Idul Adha ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk memperbarui ikatan cinta kita dengan Allah. Jadikan ibadah kurban sebagai media untuk menyatakan cinta kita, bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan tindakan nyata. Buktikan bahwa kita rela melepaskan sebagian dari apa yang kita cintai demi mendapatkan cinta yang lebih agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Semoga kurban yang kita tunaikan diterima Allah sebagai bukti cinta dan kepatuhan, serta menjadi jalan menuju surga-Nya.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ، وَمِنْ أَهْلِ مَحَبَّتِكَ وَرِضَاكَ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَارْزُقْنَا صِدْقَ الْمَحَبَّةِ وَحُسْنَ الْقُرْبِ مِنْكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
والله أعلم بالصواب، وصلى الله على نبينا محمد، والحمد لله رب العالمين.
***