
Kabarjawa – Kudapan Khas Gunungpring, Muntilan, Kabupaten Magelang memiliki kekayaan kuliner yang unik. Salah satu kudapan tradisional yang hanya bisa ditemui selama bulan Ramadan adalah jemunak.
Kudapan berbahan dasar singkong ini memiliki tekstur yang empuk dan kenyal, serta disajikan dengan parutan kelapa dan air gula, memberikan cita rasa manis dan gurih yang khas.
Keunikan jemunak tidak hanya terletak pada rasanya, tetapi juga pada proses pembuatannya yang masih dilakukan secara tradisional dan turun-temurun.
Proses Pembuatan Jemunak yang Masih Tradisional
Kasmirah (54), salah satu pembuat jemunak dari Karaharjan, Gunungpring, Muntilan, mengungkapkan bahwa selama bulan Ramadan, dirinya bisa menghabiskan hingga 15 kilogram singkong setiap hari untuk memproduksi jemunak.
Untuk mendapatkan tekstur yang kenyal, singkong dicampur dengan ketan dalam perbandingan 15 kg singkong dengan 3 kg beras ketan.
Proses pembuatan jemunak dilakukan dengan dua tahap pengukusan dan penumbukan. Setelah ketela dikupas dan dikukus, bahan tersebut ditumbuk hingga teksturnya lembut dan merata.
Proses ini membutuhkan waktu dan tenaga, sehingga dalam pembuatannya, Kasmirah dibantu oleh kakaknya, Ponisih (57). Proses pembuatan biasanya dimulai setelah subuh dan baru selesai menjelang sore hari, sekitar pukul 16.00 WIB.
Hanya Tersedia Saat Ramadan
Jemunak merupakan kudapan musiman yang hanya bisa ditemukan saat bulan puasa. Setelah Ramadan, Kasmirah dan keluarganya beralih ke produksi makanan tradisional lain seperti nagasari, mutiara, ketan bubuk, dan lumpia.
Tradisi membuat jemunak dimulai sejak hari ketiga puasa dan berlanjut hingga hari ke-27 Ramadan. Setelah itu, produksi beralih ke pembuatan tape ketan sebagai persiapan untuk Lebaran.
Harga dan Cara Penyajian Jemunak
Jemunak dijual dengan harga yang cukup terjangkau, yaitu sekitar Rp3.500 per bungkus. Biasanya, jemunak disantap dengan tambahan juruh atau air gula, yang semakin menambah kelezatan makanan ini.
Meskipun sederhana, cita rasa jemunak yang khas membuatnya selalu dinantikan oleh masyarakat sekitar setiap tahunnya.
Bahkan, kudapan ini bisa tetap enak hingga waktu sahur, sehingga menjadi pilihan yang tepat untuk menu berbuka dan sahur selama Ramadan.
Jemunak merupakan salah satu warisan kuliner khas Gunungpring, Muntilan, yang hanya tersedia selama bulan Ramadan.
Proses pembuatannya yang masih menggunakan cara tradisional menjadikan jemunak sebagai makanan yang unik dan penuh nilai budaya.
Dengan tekstur yang kenyal dan cita rasa manis gurih, jemunak tetap menjadi favorit masyarakat, sekaligus melestarikan kuliner khas daerah.
Jika berkunjung ke Muntilan saat Ramadan, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi jemunak, kudapan tradisional yang langka dan istimewa.(Kabarjawa)