
KabarJawa.com – Ketika berbicara tentang kekayaan musik tradisional Jawa, nama campursari hampir selalu disebut. Genre ini tidak hanya menjadi bagian penting dari budaya Jawa, tetapi juga telah berkembang menjadi simbol perpaduan antara musik tradisional dan modern.
Alunan gamelan berpadu dengan gitar listrik, kendang berdialog dengan keyboard, menciptakan harmoni yang unik dan mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Dari desa hingga kota, dari generasi tua hingga anak muda, campursari berhasil menembus batas zaman.
Namun, perjalanan panjang campursari tidak terjadi begitu saja. Di balik gemuruh musiknya yang khas, ada sosok-sosok besar yang menghidupkannya dan menjaga napas tradisi agar tetap relevan di era modern.
Awal Mula dan Jejak Sejarah
Musik campursari lahir dari tangan seorang maestro asal Gunung Kidul bernama Manthous atau Anto Sugiartono.
Ia dikenal sebagai penggagas dan pengembang utama genre ini. Berdasarkan catatan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Manthous berperan besar dalam menggabungkan alat musik tradisional Jawa dengan instrumen modern.
Ia menciptakan fondasi kuat yang menjadikan campursari sebagai bentuk musik yang hidup dan terus berkembang.
Peran Manthous begitu penting hingga namanya disejajarkan dengan tokoh-tokoh besar musik Jawa seperti Waljinah, Mus Mulyadi, dan tentu saja Didi Kempot, yang kelak menjadi ikon paling dikenal dalam sejarah campursari.
Didi Kempot – The Godfather of Broken Heart
Tak ada nama yang lebih identik dengan campursari selain Didi Kempot. Lahir dari keluarga seniman, Didi Kempot tumbuh dengan napas musik tradisional yang kental.
Namun ia membawa inovasi besar dengan menggabungkan campursari dengan tema-tema kehidupan sehari-hari, terutama soal cinta dan patah hati.
Julukan “The Godfather of Broken Hearts” bukanlah tanpa alasan. Lagu-lagu seperti Cidro, Pamer Bojo, dan Sewu Kutho menjadi penghibur bagi banyak orang yang sedang merasakan perihnya kehilangan.
Pada tahun 2019, popularitasnya kembali melesat ketika karya-karyanya viral di media sosial. Para penggemarnya yang menamakan diri Sobat Ambyar menjadikan konser Didi Kempot sebagai ajang meluapkan perasaan secara kolektif yakni menangis, tertawa, dan bernyanyi bersama dalam satu harmoni.
Daya Tarik Campursari di Tengah Arus Modernitas
Salah satu kekuatan utama campursari adalah kemampuannya untuk beradaptasi dengan zaman. Meski berakar dari budaya tradisional, musik ini tidak pernah terasa kuno.
Perpaduan gamelan dengan alat musik modern menjadikannya mudah dinikmati oleh berbagai generasi. Nada-nadanya yang lembut dan liriknya yang menyentuh menjadikan campursari tetap relevan, bahkan ketika musik digital mendominasi industri hiburan.
Generasi Penerus dan Masa Depan Campursari
Kepergian Didi Kempot pada 5 Mei 2020 meninggalkan duka mendalam bagi dunia musik Indonesia. Namun, semangat dan warisannya tidak berhenti di sana. Setelah kepergiannya, muncul banyak musisi muda yang melanjutkan estafet budaya ini.
Nama Denny Caknan sering disebut sebagai penerus Didi Kempot. Ia mampu menciptakan lagu-lagu bernuansa Jawa modern yang tetap sarat makna dan menyentuh perasaan, terutama tentang kisah cinta yang rumit.
Di sisi lain, Dory Harsa, yang dulu merupakan penabuh kendang dalam grup musik Didi Kempot, kini sukses meniti karier sebagai penyanyi solo dengan gaya khasnya.
Tidak ketinggalan, Saka Kempot, putra dari Didi Kempot sendiri, juga mulai mengikuti jejak sang ayah dalam dunia musik, berusaha menjaga api campursari agar tidak padam.
Warisan yang Tak akan Pudar
Kini, campursari bukan sekadar musik, melainkan bagian dari identitas budaya yang terus hidup.
Kehadirannya di berbagai platform digital, konser, hingga festival budaya membuktikan bahwa musik ini mampu menyesuaikan diri dengan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Campursari akan terus bergaung selama ada generasi yang mencintai budaya Jawa dan ingin menjaganya tetap lestari.
Dari tangan Manthous hingga Didi Kempot, lalu diteruskan oleh para musisi muda masa kini, perjalanan panjang campursari menjadi bukti bahwa musik tradisional bisa berkembang tanpa kehilangan rohnya. Genre ini bukan hanya nostalgia, tetapi juga jembatan antara masa lalu dan masa depan.***