
KabarJawa.com– Pemerintah Kabupaten Kulon Progo terus memperkuat langkah konkret dalam mendorong UMKM naik kelas melalui berbagai pelatihan dan pendampingan.
Salah satu upaya nyata itu terlihat dalam kegiatan pelatihan pengawetan makanan tanpa bahan pengawet yang diselenggarakan oleh komunitas Sentra Sambal Kulon Progo.
Pelatihan Pengolahan tanpa Bahan Pengawet
Wakil Bupati Kulon Progo, H. Ambar Purwoko, secara langsung membuka kegiatan tersebut dengan pesan tegas.
Pelaku UMKM harus mulai meninggalkan bahan pengawet berbahaya dalam produk makanan dan minuman. Menurutnya, kesehatan konsumen harus menjadi prioritas utama setiap pelaku usaha.
“Penggunaan bahan pengawet memang bisa memperpanjang umur produk, tetapi sangat berisiko bagi kesehatan. Kita harus mulai beralih ke cara-cara alami agar produk kita lebih aman dan tetap berkualitas,” ujar Ambar.
Ambar Purwoko menegaskan bahwa Pemkab Kulon Progo tidak akan berhenti di satu kegiatan saja. Ia berjanji akan menginstruksikan Dinas Koperasi dan UKM Kulon Progo untuk rutin mengadakan pelatihan peningkatan kualitas dan kuantitas produksi.
“Kami ingin pelatihan seperti ini menjadi agenda berkelanjutan. Dengan pelatihan yang rutin, pelaku UMKM akan semakin tangguh, inovatif, dan siap bersaing,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan UMKM dalam meningkatkan kualitas produk akan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi lokal. Kemajuan UMKM bukan hanya soal bisnis, tetapi juga soal kesejahteraan masyarakat.
“Kalau UMKM tumbuh, kemiskinan akan berkurang,” tambah Ambar penuh keyakinan.
Pelatihan yang berlangsung di Kulon Progo itu diikuti oleh pelaku UMKM dari berbagai daerah seperti Kulon Progo, Bantul, Sleman, dan Klaten.
Narasumber utama kegiatan tersebut adalah Ines Setiawan, seorang sosiopreneur yang selama ini aktif mengembangkan produk olahan pangan sehat dan ramah lingkungan.
Dalam sesi pelatihan, para peserta belajar langsung teknik pengawetan alami menggunakan bahan-bahan sederhana namun efektif. Ines juga mengajarkan strategi menjaga cita rasa dan nilai gizi produk tanpa bergantung pada bahan kimia.
“UMKM bisa bertahan bukan karena banyaknya pengawet, tetapi karena kualitas dan kepercayaan konsumen,” tegas Ines.
Ketua UMKM Kapanewon Lendah, Sukiyem, turut menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan kepada para pelaku usaha kecil.
Ia menilai pelatihan ini bukan sekadar kegiatan formal, tetapi momentum penting untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan.
“Melalui kegiatan ini kami bisa belajar cara membuat produk yang lebih sehat dan berkualitas. Ilmu ini sangat bermanfaat untuk memperkuat ekonomi keluarga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Inovasi dari Sentra Sambal Kulon Progo
Ketua Sentra Sambal Kulon Progo, Ika Arumawati, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan bersama untuk mewujudkan UMKM Naik Kelas.
Ia menegaskan, pelatihan tidak hanya menyoroti umur simpan produk, tetapi juga menekankan nilai gizi, keamanan, dan cita rasa.
“Kami ingin para pelaku UMKM menghasilkan produk yang sehat, aman, dan mampu bersaing di pasar nasional. Bukan hanya menjual rasa, tetapi juga menjual kepercayaan,” kata Ika.
Ika juga menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Kulon Progo, Lurah Bumirejo, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
Dia menegaskan kegiatan pelatihan ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara pemerintah, komunitas usaha, dan pelaku UMKM dapat menghasilkan perubahan positif.
Dengan pendampingan yang konsisten, Kulon Progo berharap mampu melahirkan produk-produk lokal unggulan yang tidak hanya enak, tetapi juga sehat dan berdaya saing tinggi.
Harapan besar kini tumbuh di tengah semangat para pelaku usaha kecil. Mereka tidak lagi sekadar memproduksi, tetapi juga berinovasi dengan kesadaran penuh terhadap kesehatan dan kualitas.
Dari dapur kecil di Kulon Progo, aroma perubahan itu mulai berlangsung, menuju cita-cita besar. UMKM Kulon Progo yang naik kelas, sehat, dan sejahtera. (ef linangkung)