
KabarJawa.com – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menjadi sorotan setelah berpulangnya Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) XIII pada Minggu, 2 November.
Wafatnya Sang Raja bukan sekadar kehilangan bagi masyarakat Surakarta, tetapi juga menjadi penanda berakhirnya satu bab penting dalam perjalanan panjang sebuah kerajaan yang telah berdiri lebih dari dua setengah abad.
Sosok almarhum dikenal luas sebagai penjaga tradisi, pelestari adat, dan simbol keteguhan budaya Jawa di tengah arus modernisasi yang kian deras.
Namun, jauh sebelum masa kepemimpinan Pakubuwono XIII, sejarah panjang Keraton Surakarta telah dimulai sejak berabad-abad silam.
Untuk memahami asal-usulnya, berikut adalah silsilah serta jejak sejarah soal cikal bakal berdirinya, yaitu Kerajaan Mataram yang menjadi pondasi bagi lahirnya dinasti Surakarta.
Awal Berdirinya dari Kerajaan Mataram
Asal mula Keraton Surakarta tidak dapat dilepaskan dari kisah Kerajaan Mataram Islam. Berdasarkan catatan sejarah yang dikutip dari laman eprints Universitas Negeri Yogyakarta, kerajaan ini didirikan oleh Panembahan Senapati Ing Ngalogo pada tahun 1575.
Ia menjadi sultan pertama yang berhasil menyatukan kekuatan politik dan spiritual di Tanah Jawa. Kerajaan Mataram kemudian mencapai masa keemasan di bawah kepemimpinan Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo yang memerintah antara tahun 1613 hingga 1645.
Pada masa inilah Mataram dikenal sebagai kerajaan besar yang memiliki pengaruh luas, baik dalam bidang pemerintahan, kebudayaan, maupun militer.
Dari sinilah kemudian lahir keturunan yang menjadi cikal bakal Keraton Surakarta, melanjutkan garis keturunan dinasti Mataram yang berpengaruh besar terhadap sejarah Jawa.
Daftar Raja-Raja Keraton Surakarta
Seiring berjalannya waktu, tepatnya setelah berdirinya Keraton Surakarta, kekuasaan turun-temurun diteruskan oleh para raja dengan gelar “Susuhunan Paku Buwana”. Berikut adalah urutan lengkap silsilah raja-raja yang memerintah di lingkungan Kasunanan Surakarta:
- Susuhunan Paku Buwana II (1745-1749)
- Susuhunan Paku Buwana III (1749-1788)
- Susuhunan Paku Buwana IV (1788-1820)
- Susuhunan Paku Buwana V (1820-1823)
- Susuhunan Paku Buwana VI (1823-1830)
- Susuhunan Paku Buwana VII (1830-1858)
- Susuhunan Paku Buwana VIII (1858-1861)
- Susuhunan Paku Buwana IX (1861-1893)
- Susuhunan Paku Buwana X (1893-1939)
- Susuhunan Paku Buwana XI (1939-1945)
- Susuhunan Paku Buwana XII (1945-2004)
- Susuhunan Paku Buwana XIII (2004-2025)
Masing-masing raja memiliki peran penting dalam menjaga eksistensi dan kebesaran Kasunanan Surakarta.
Mereka tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin spiritual dan budaya, tetapi juga simbol keutuhan tradisi Jawa yang diwariskan turun-temurun.
Warisan Budaya dan Nilai yang Tetap Hidup
Selama lebih dari dua setengah abad, Keraton Surakarta menjadi saksi perjalanan sejarah bangsa Jawa.
Meski kini kerajaan tersebut tidak lagi berkuasa secara politik, pengaruhnya tetap kuat dalam kehidupan masyarakat. Upacara adat, gamelan, tari-tarian, hingga tata krama Jawa masih dilestarikan dengan penuh hormat di lingkungan keraton dan sekitarnya.
Wafatnya Pakubuwono XIII menjadi momentum refleksi atas panjangnya perjalanan dinasti ini. Dari masa Panembahan Senapati di Mataram hingga kepemimpinan terakhir di Surakarta, seluruh silsilah tersebut mencerminkan kesinambungan nilai-nilai luhur yang menjadi jantung budaya Jawa.***