
KABAR JAWA – Suatu upacara tradisional yang terdapat di Desa Wonokromo, Kelurahan Wonokromo, Kecamatan Plered, Kabupaten Bantul.
Rebo Wekasan berasal dari kata rebo yang berarti hari rabu dan wekasan yang berarti akhir. Upacara ini digelar pada Rabu terakhir bulan Sapar dengan prosesi doa, selamatan, hingga kirab budaya, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya Yogyakarta.
Rabu Wekasan: Tradisi Jawa yang Terus Hidup
Bagi masyarakat Jawa, bulan Sapar bukan sekadar penanda dalam kalender hijriah, tetapi juga memiliki makna khusus yang melekat pada tradisi turun-temurun.
Salah satu ritual yang hingga kini masih dijaga adalah Rabu Wekasan, yang berarti Rabu terakhir di bulan Sapar.
Di Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Bantul, tradisi ini berkembang menjadi perayaan besar yang disebut Upacara Rebo Pungkasan.
Selain sarat dengan nilai spiritual, prosesi ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang memikat banyak orang, baik warga lokal maupun wisatawan yang ingin menyaksikan kearifan Jawa secara langsung.
Dua Tahap Prosesi Sakral
Upacara Rabu Wekasan di Wonokromo memiliki rangkaian panjang yang dilakukan dalam dua tahap.
- Tahap Pertama: Tempuran Kali Opak dan Kali Gajah Wong
- Upacara dimulai pada malam hari sekitar pukul 20.00.
- Tempat pelaksanaannya berada di tempuran, yaitu titik pertemuan antara Sungai Opak dan Sungai Gajah Wong.
- Warga yang hadir tidak hanya menggelar selamatan, tetapi juga melakukan ritual mandi di sungai tersebut.
- Berbagai sesaji dipersiapkan, mulai dari nasi hitam, nasi kuning, nasi merah, hingga kembang telon. Sajian lain yang tidak kalah penting adalah sekul suci bumbu lembaran, ingkung ayam, lalapan, sekar kenyah, jenang dengan berbagai warna, nasi golong lengkap dengan lauk, hingga ayam jago hidup.
Ritual ini dipercaya sebagai bentuk doa tolak bala agar masyarakat dijauhkan dari marabahaya.
- Tahap Kedua: Gunung Permoni
- Dilanjutkan di sebuah bukit yang dikenal sebagai Gunung Permoni, terletak di sisi selatan Desa Wonokromo.
- Gunung ini dianggap keramat karena dipercaya sebagai tempat pertemuan Sultan Agung dengan Nyai Roro Kidul.
- Di lokasi ini warga membawa sesaji berupa nasi ambengan lengkap dengan lauk pauk sederhana, bunga telon (kenanga, kantil, dan mawar), serta menyan obong.
- Sesaji diletakkan di baskom, ancak, dan tampah sebagai simbol persembahan doa.
Prosesi ini bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga pengingat sejarah akan pagebluk yang pernah melanda masa lalu.
Dari Legenda ke Tradisi Kolektif
Asal-usul tradisi Rebo Pungkasan tidak tunggal, melainkan memiliki beberapa versi cerita.
- Versi pertama menyebutkan adanya sosok Kiai Faqih Usman atau Kiai Welit pada tahun 1784, seorang ulama sekaligus tabib asal Wonokromo. Beliau dikenal mampu mengobati penyakit dengan doa suwuk. Saat wabah melanda, masyarakat datang meminta keselamatan, hingga kemudian lahirlah ritual Rebo Wekasan di tempuran.
- Versi kedua mengaitkannya dengan masa Sultan Agung. Kala itu kerajaan Mataram diguncang penyakit menular. Atas ilham yang didapat, Sultan Agung meminta bantuan Kiai Welit untuk membuat rajah yang dilarutkan ke dalam air. Air tersebut diyakini bisa menjadi obat dan membawa keberkahan.
- Versi ketiga muncul dari keyakinan masyarakat bahwa bulan Sura dan Sapar adalah masa rawan bencana. Oleh karena itu, ritual dilakukan sebagai usaha menolak bala dengan menggunakan air tempuran yang dianggap suci.
Kirab Budaya dan Lemper Ageng: Pesona Wisata Rebo Pungkasan
Di era modern, Rabu Wekasan di Wonokromo semakin meriah dengan adanya kirab budaya. Pada tahun 2025 misalnya, acara dimulai dari Masjid Taqwa Wonokromo 1 pada pukul 19.00.
Warga kemudian berjalan beriringan melalui rute Jalan Imogiri Timur, Perempatan Jejeran, hingga berakhir di Pendopo Kalurahan Wonokromo.
Puncak acara yang paling dinanti adalah Nglarap Lemper Ageng, yaitu arak-arakan lemper raksasa. Lemper ini tidak sekadar makanan tradisional, tetapi dipercaya sebagai simbol doa keselamatan, rezeki, serta keberkahan bagi seluruh masyarakat.
Tidak heran jika setiap perayaan, pedagang lemper ramai menjajakan dagangannya di sekitar lokasi acara, menjadikan Rebo Pungkasan sebagai ajang ekonomi kerakyatan sekaligus daya tarik wisata kuliner.
Daya Tarik Spiritual di Tengah Kota Modern
Di balik keramaian kirab dan sajian khas yang menyertainya, Rebo Wekasan tetap menjadi wadah doa bersama. Masyarakat berkumpul untuk memohon perlindungan dari musibah, keselamatan, serta terkabulnya cita-cita.
Keunikan tradisi ini membuktikan bahwa Yogyakarta tidak hanya menyuguhkan wisata alam dan sejarah, tetapi juga wisata budaya spiritual yang unik.
Rebo Wekasan di Wonokromo adalah contoh nyata bagaimana sebuah tradisi kuno mampu bertransformasi menjadi atraksi budaya modern yang tetap sarat makna.
Rabu Wekasan di Yogyakarta, khususnya di Desa Wonokromo, adalah warisan budaya yang berhasil menjaga keseimbangan antara spiritualitas dan hiburan.
Di satu sisi, masyarakat masih meyakini nilai-nilai tolak bala dan doa keselamatan, sementara di sisi lain, acara ini menjadi festival budaya yang mampu menarik wisatawan.
Dengan prosesi sakral, kirab budaya, hingga kuliner khas seperti lemper, tradisi ini semakin mempertegas posisi Yogyakarta sebagai kota budaya yang hidup, berakar, sekaligus modern.
***